Pilih warna tema

Candi Gebang, Kalah Populer Dibanding Perumahannya
Minggu, 13 Desember 2009 16:46:00

YOGYA (KRjogja.com)  - Di daerah DIY dan Jawa Tengah, kemungkinan masih terdapat candi-candi yang saat ini terkubur di dalam tanah. Salah satu indikasinya adalah penemuan candi di kawasan Kampus UII terpadu di Jl Kaliurang, kemarin. Ini membuktikan bahwa daerah DIY-Jateng adalah pusat peradaban dan spiritualitas pada masa kerajaan Hindu-Buddha.

Mungkin banyak masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya yang familiar dengan nama Candi Gebang. Kebanyakan mungkin sudah paham bahwa itu nama daerah perumahan, atau nama jalan di Lelurahan Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, di utara Ring Road Utara. Namun apakah anda mengetahui dan pernah mengunjungi Candi Gebang yang 'asli'?

Di daerah tersebut terdapat sebuah candi yang mungkin belum diketahui banyak orang, walau terletak di kawasan yang padat penduduknya.Candi Gebang, namanya, diduga merupakan candi bercorak Hindu tertua di Jogja.Candi ini berukuran kecil, hanya sekitar 5,25 x 5,25 meter dengan tinggi 7,75 meter, dan terletak di tengah-tengah halaman yang banyak ditumbuhi pohon sukun dan akasia.

Tidak banyak informasi mengenai latar belakang dibangunnya candi yang ditemukan pada bulan November 1936 ini. Siapa raja yang membangun dan maksudnya juga masih menjadi misteri. Menurut sejarah, candi ini ditemukan berasal dari penemuan sebuah arca Ganesha oleh penduduk, yang setelah ditelusuri arca tersebut merupakan bagian dari candi. Tidak terdapat prasasti yang ditemukan di sekitar candi, sehingga usia candi hanya bisa diperkirakan dari corak dan bentuk fisik bangunan candi. Ketika ditemukan, kondisi candi sangat mengenaskan, yaitu berupa reruntuhan bangunan.

Menurut situs wikipedia, pemugaran kembali candi ini kemudian dilakukan pada tahun 1937 dan selesai pada tahun 1939 di bawah pimpinan ilmuwan Belanda, Prof. Dr. Ir. Van Romondt. Ciri-ciri fisik bangunan menunjukkan bahwa candi ini bernafaskan Hindu, dengan ditemukannya arca Ganesha, Nandiswara, dan Yoni, serta puncaknya yang berbentuk lingga. Berbeda dengan candi Hindu pada umumnya, tubuh candi ini halus, tanpa relief. Kalaupun ada, masih sangat sederhana. Dari sini diperkirakan, candi Gebang dibangun pada awal-awal abad ke-7, sekitar tahun 730 sampai 800 M, saat wangsa Sanjaya berkuasa di zaman Kerajaan Mataram Kuno.

Candi gebang menghadap arah timur, dengan sebuah ruangan berisi Yoni menghadap utara tanpa Lingga. Pada bagian atas pintu masuk, terdapat Kala yang sederhana. Di kanan-kiri pintu masuk, hanya ditemukan arca Nadiswara pada sebelah kanan, sedangkan arca Mahakala di sebelah kiri sudah tidak ada.

Candi ini memang terkesan terpencil, karena terletak di areal persawahan di pinggir perumahan. Jalan menuju ke candi ini pun bisa dibilang jalan tanah setapak. Papan penunjuk yang sudah usang mungkin tidak terlalu membantu kita menemukan lokasi candi. Namun demikian, kawasan dalam candi tersebut cukup rapi dan menarik. Siapapun yang menyukai tempat eksotik atau yang menghargai karya agung leluhur, dapat menengok objek wisata yang kurang poluler ini. (Den)
 


Berita terkait :
Bookmark this page :

Ada 2 komentar untuk artikel ini. Halaman

  • Fibri@Sabtu, 30 Januari 2010 19:40:13

    Setuju dgn komentar di atas, pemkab/pemprov hrs peduli dgn candi2 kecil jg, jgn cm yg gede2 aja. Tp jg buat rakyat jogja, sama2 peduli yuk sm budaya warisan..

  • Ferry suseno@Minggu, 27 Desember 2009 20:31:07

    Kenapa bisa begitu? Percuma mengeluarkan biyaya buat pemugaran candi. Tp tidak di barengi dengan fasilitas penunjangnya. . Saya juga kaget ! Karena saya sudah tinggal d perum candi gebang hampir 5 thn. Baru kali ini saya tau. Untuk pihak berwenang. Tlng di upayakan publikasinya spt papan penunjuk, dsb


Komentar

Nama

E-mail

Komentar

Kode Verifikasi