|
SEKILAS orang tak akan mengiranya, benda yang satu ini adalah tanaman. Bentuknya memang unik seperti kayu tua dan lapuk yang digunakan untuk rumah dari hewan semut. Namun jangan salah, tanaman ini bukanlah sebuah sarang yang sengaja dibuat oleh semut sebagai tempat berlindung, ini terjadi secara alami.
Tanaman ini berasal dari Papua, tepatnya di sebelah barat hutan di daerah Wamena. Suku-suku sekitar lah seperti Suku Bogondini dan Suku Tolikara yang menyebut tanaman hutan tersebut dengan nama Sarang Semut. Memang, di Pulau Mutiara Hitam tersebut adalah gudangnya Sarang Semut, tanaman ini dapat mudah dijumpai di hutan-hutan sejenis lainnya yang masih banyak tedapat ujung timur Indonesia tersebut.
Sarang Semut termasuk ke dalam spesies Myrmecodia Pendans. Tanaman ini tumbuh liar di atas tanah hutan yang tidak memerlukan air yang terlalu banyak. Tumbuhan Sarang Semut mampu berbunga, berbuah, serta berbiji. Bentuknya bisa dibilang aneh, tinggi tak lebih dari 1 meter, dengan batang yang banyak sehingga nampak seperti tangan seokor binatang gurita.
Bagian bonggolnya terlihat seperti menggelembung seukuran bola volly, bagian dalamnya seperti serbuk kayu berwarna cokelat kehitaman serta berongga-rongga seperti bagian kayu yang sudah lapuk ditempati semut dan rayap. Seperti halnya tumbuhan hutan lainnya yang memiliki suatu bagian sebagai alat perlindunganya, Saran Semut pun juga demikian. Permukaan batangnya juga dipenuhi oleh duri tajam yang bertujuan untuk melindungi dari binatang herbivora.
Berkhasiat Sebagai Obat
Dengan bentuknya yang lucu serta unik, Sarang Semut juga sering dibeli hobiis untuk tanaman hias, namun tak jarang pula ada sebaian hobiis yang menggunakannya sebagai tanaman obat. “Disamping bisa dijadikan tanaman hias, Sarang Semut juga bisa dijadikan sebagai tanaman obat,” kata Winston, pembudidaya Sarang Semut dari Sukoharjo ini.
Ternyata disamping bentuknya yang unik dan khas, Sarang Semut juga bisa diproduksi sebagai tanaman obat yang sangat bermanfaat untuk manusia. Ditempat asalnya, Suku Bogondini dan Suku Tolikara sudah sejak ratusan tahun yang lalu mengenal tanaman Sarang Semut sebagai obat.
Kadang mereka mencampur sarang semut dengan bubur sagu atau makanan pokok lainnya sebagai campuran obat. Tak hanya itu saja, bilamana hewan ternak mereka semacam babi atau yang lainya sakit sekalipun, rebusan Sarang Semut juga bisa dipergunakan untuk menyembuhkan hewan ternak tersebut.
Biasanya masyarakat suku pedalaman tersebut hanya menggunakan campuran Sarang Semut sebagai obat rematik, asam urat dan pegal-pegal di tubuh saja. “Sarang Semut ini sangat multi guna dalam hal kesehatan, penyakit yang sudah kronis juga bisa sembuh dengan Sarang Semut,” tambahnya.
Dari berbagai penelitian yang dilakukan, kandungan yang terdapat pada Sarang Semut tersebut berguna untuk meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh serta mampu memberikan energi bagi manusia. Selain pun itu masih dimungkinkan ada beberapa kandungan yang lainnya yang sampai sekarang ini masih terus dibuktikan secara klinis.
Apa sajakah kandungan yang ada pada sebuah Sarang Semut tersebut? Diantaranya berupa beberapa senyawa aktif antioksidan (Tokoferol dan Fenolik), Kalsium (Ce), Natrium (Na), Kalium (K), Seng (Zn), Besi (Fe), Fosfor (P) dan Magnesium (Mg), dan masih banyak lagi kandungan lain yang tentunya sangat bermanfaat bagi makhluk hidup.
Dari penyakit yang ringan sampai kepenyakit yang tergolong berat sekalipun dapat ditanggulangi olehnya. Sebut saja gangguan jantung, diabetes, ambien (wasir), rematik, stroke ringan mapun berat, maag, gangguan fungsi ginjal dan prostat, pegal linu, dan lain-lainnya. Terbukti, berbagai penyakit telah banyak disembuhkan oleh ramuan mujarab dari Sarang Semut ini.
Bagian dari Sarang Semut yang berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit tersebut, yakni pada bagian dalam dari bonggol yang berwarna cokelat kehitaman yang seperti serbuk kayu tersebut. Cara pengolahannya sangat sederhana sekali dalam mempraktekkannya.
Seperti dikatakan Winston, ambil sekitar lima sendok serbuk bagian dalam yang berwarna cokelat kehitaman tadi, kemudian dicampurkan dengan air putih satu gelas atau sekitar 200cc yang kemudian dicampur serta diaduk, setelah itu baru dimunum sedikitnya 3 kali sehari.
“Yang banyak membeli kebanyakan malah dari entis Tiong Hoa untuk dikembangkan sebagai tanaman obat,” kata Winston. Dalam perkembangannya kini, Sarang Semut sebagai obat telah bisa ditemui juga dalam bentuk tablet, pil, kapsul atau bahkan serbuk jadi yang telah siap untuk dikonsumsi juga ada.
Merawat Si Sarang Semut
Daya hidup Sarang semut sangatlah tinggi. Artinya, seperti tumbuhan hutan liar lainnya, kemampuan hidup rata-rata tanaman hutan memang tergolong mudah untuk dapat hidup dan bertahan lama, begitu pula dengan Sarang Semut ini. Tanpa adanya perlakuan yang khusus sekalipun, tanaman-tanaman yang hidup di hutan dapat hidup dengan sendirinya.
Namun jangan lupa, jika hobiis ingin membudidayakannya tetaplah harus memperhatikan habitat aslinya, artinya Sarang Semut juga tetap harus dikondisikan seperti di habitat hutan, seperti faktor suhu, iklim, intensitas cahaya, dan nutrisi seperti pada habitat aslinya. Masalah air, Sarang Semut tergolong tanaman yang sanggup hidup dengan kondisi air yang minim.
Sebagai media, bisa dipergunakan tanah biasa saja sesuai dengan kehidupannya di hutan. Seperti halnya dengan Sarang Semut sangat cocok dikembangkan di Indonesia, dengan iklim sub tropis dan banyaknya hutan di Indonesia, perkembangan Sarang Semut sangat memungkinkan untuk dikembangkan di negeri ini. (Ivan Aditya)
Berita terkait :















umar@Kamis, 20 Mei 2010 17:45:47
Bila ada yg membutuhkan sarang semut silakan ke FB dng umarpapua@yahoo.com salam kenal 0812 8039 6464
nur@Rabu, 17 Pebruari 2010 00:01:29
apa bisa digunakan umtuk anak kecil?