|
Karya-karya “bermuatan” yang mengusung gagasan menyangkut kehidupan sosial politik dalam kancah seni rupa Indonesia memang bukanlah hal yang baru. Semenjak masa perjuangan revolusi kemerdekaan dimulai para seniman sudah mengangkat perkara “perjuangan” kedalam karyanya. Seniman ingin mendekatkan seni dan kehidupan, menjadikanya sebagai bagian yang tak terpisahkan. Strategi dasarnya bukan seni untuk seni tetapi seni untuk kehidupan.
Hal itulah yang ingin diungkapkan seniman asal Solo, Iwan Widjono dalam karya-karyanya yang dipamerkan di Tembi Contemporary, Jalan Paringtritis Km 8,5 Sewon, Sewon, Bantul, Yogya yang sudah di buka sejak 2 September hingga 28 September 2009 nanti. Pameran Tunggal Iwan Widjono ini bertajuk “The Farmer Series” yang ingin memberi makna dan menjadikan seninya berhubungan dengan kenyataan.
“Saya adalah generasi yang lahir dan dibesarkan di masa Orde Baru yang harus menghadapi kondisi represi kediktatoran rezim militer Jendral Soeharto. Itulah masa dimana suara alternatif dan berbeda tidak mendapatkan tempat. Bahkan siapapun yang mencoba menyuarakan isi hati dan akal sehatnya bisa diganjar hukuman penjara atau dihilangkan secara paksa. Tidak ada kemungkinan untuk pemikiran yang lain bersemi karena aparat akan segera turun tangan untuk membungkam,” ujar Iwan
Namun sekalipun demikian Iwan berani melakukan penampilan di ruang-ruang publik. Karya-karyanya kerap merupakan karya protes atas kondisi ketidak-bebasan yang membelenggu atau praktik kekuasaan yang korup dan berlaku tidak adil. Demikian suara keprihatinan menjadi motif dasar dari perilaku kreatifnya. Dirinya resah atas nasib mereka yang dimarjinalisasi. Dalam pandanganya negeri yang sudah dianggap merdeka dari cengkraman penjajah sebetulnya belum merdeka. Kontrol dan pengaturan sepihak lewat mekanisme kapitalisme mutakhir atau globalisasi ekonomi dengan segala perangkatnya, sejatinya adalah penjajahan dengan wajah baru.
Melalui karya lukis ini Iwan ingin mengetengahkan prahara dan derita kaum tani sambil mempertanyakan sistem yang tak adil dan merusak lingkungan hidup. Sekaligus menggugat mereka yang harus bertanggung-jawab atas petaka ini. Karya-karya ini merupakan output dan bagian dari proyek yang dirancang secara berkesinambungan dengan para petani di Desa Rendeng, Kecamatan Pedan, Klaten, Jawa Tengah. Ia memang bukan seorang petani namun ia menaruh simpati atas kehidupan mereka
“ Saya percaya ide-ide dan proses kreatif berkembang seiring interaksi dengan lingkungan dan manusia di sekeliling. Tidak ada yang orisinil karena semuanya adalah proses daur ulang dan seniman tidak perlu dinobatkan sebagi jenius namun cukup sebagai agen (agency) sosial dan beroperasi dalam cara dan pembawaan rhizoma. Yang dianggap lebih penting untuk tampil adalah para petani dengan segala kegelisahan dan harapanya. Seniman dalam hal ini berfungsi sebagai fasilitator yang merangsang, menyalurkan, dan membantu menyusun gagasan kreatif maupun pemikiran kritis dari mitra kerjanya (para petani),” pungkas Iwan.(Fira)
Berita terkait :
-
Lagi, Team Order Ferrari Disoal
Dovizioso Nantikan Stoner
Soal KY, Presiden Bakal Terbitkan Keppres
PDIP Bebaskan Kepala Daerah
Pidato Presiden Digabung








