|
PERNAHKAH Anda merasakan nyeri pada kaki atau tangan pada pagi hari? Jika demikian, Anda harus waspada dan segera mencari cara untuk mengatasinya. Bisa jadi Anda menderita artritis reumatoid. Penyakit ini bisa menyebabkan cacat permanen, bahkan kematian dini.
Artritis reumatoid merupakan penyakit autoimun yang menyerang jaringan persendian. Tak jarang juga menyerang organ tubuh lainnya. Jika tidak segera diobati, akan terjadi kerusakan persendian dan disabilitas, bahkan kematian dini. Artritis reumatoid bukanlah penyakit yang berdiri sendiri, melainkan merupakan sekelompok penyakit. Tetapi penyebabnya masih tidak diketahui.
Penyakit ini timbul karena banyak faktor. Bisa genetik, bisa juga karena gaya hidup tak sehat. Jika ada anggota keluarga yang menderita penyakit artritis reumatoid, besar kemungkinan anak atau keturunannya menderita penyakit yang sama. Gaya hidup tak sehat seperti suka merokok dapat meningkatkan risiko terkena artritis reumatoid.
Masyarakat pada umumnya menganggap bahwa semua penyakit reumatik disebabkan oleh asam urat. Padahal penyakit reumatik karena asam urat (reumatoid gout) hanya sekira 7 persen dari keseluruhan penyakit rematik. Penyakit ini dapat menyerang semua orang, baik anak-anak maupun orang dewasa. Tetapi yang paling sering diserang adalah dewasa muda sampai yang berusia lanjut.
Artritis reumatoid merupakan penyakit yang tersebar luas serta melibatkan semua kelompok ras dan etnik di dunia. Diperkirakan kasus artritis reumatoid diderita orang yang berusia di atas 18 tahun dan berkisar 0,1-0,3 persen dari jumlah penduduk Indonesia, laki-laki dan perempuan terserang dalam jumlah yang sebanding. Bentuk ini dapat terjadi pada setiap usia.
Artritis reumatoid pada anak biasanya bermula sebelum usia 16 tahun. Umumnya penyakit ini menyerang pada sendi-sendi bagian jari, pergelangan tangan, bahu, lutut, dan kaki. Pada stadium lanjut, penderita tidak akan dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan kualitas hidupnya menurun.
Faktor Penyebab dan Gejala
Penyakit autoimun terjadi karena adanya gangguan pada fungsi normal dari sistem imun, sehingga sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri. Bisa juga karena kegagalan antibodi mengenali sel tubuhnya sendiri dan menganggapnya benda asing sehingga merusaknya.
“Artritis reumatoid ini merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan sendi kronik,” kata Prof Dr Harry Isbagio, SpPD K-R K-GER dari Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta Selatan.
Artritis reumatoid menyerang lapisan dalam bungkus sendi yang biasa disebut sinovium dan mengakibatkan radang pada pembungkus sendi. Akibat sinovitis (radang pada sinovium) yang menahun, terjadi kerusakan pada tulang rawan sendi, tulang, tendon dan ligamen dalam sendi. “Peradangan sinovium menyebabkan keluarnya beberapa zat yang menggerogoti tulang rawan sel, sehingga menimbulkan kerusakan tulang dan dapat berakibat menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi,” imbuhnya. Apabila tidak segera ditangani, dapat terjadi cacat yang menetap.
Ada beberapa gambaran klinis yang lazim ditemukan pada penderita artritis reumatoid. Gambaran klinis ini tidak harus timbul sekaligus pada saat yang bersamaan oleh karena penyakit ini memiliki gambaran klinis yang sangat vervariasi.
Artritis reumatoid biasanya menyebabkan masalah pada beberapa sendi dalam waktu yang sama.
Pada tahap awal, biasanya penyakit ini menyerang sendi-sendi kecil seperti pergelangan tangan, tangan, pergelangan kaki, dan kaki. Selanjutnya akan menyerang sendi bahi, siku, lutut, panggul, rahang, dan leher. Umumnya penyakit ini menyerang sendi-sendi bagian jari, pergelangan tangan, bahu, lutut, dan kaki. “Biasanya akan terjadi sendi yang meradang, hangat, kemerahan, dan rasa sakit yang teramat sangat,” sambungnya. Keadaan ini akan terjadi pada pagi hari dan akan hilang dengan sendirinya pada siang harinya.
Gejala lainnya berupa demam, nafsu makan menurun, berat badan menurun, lemah, dan kurang darah. Kadang kala si penderita tidak merasakan gejalanya.
Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosa biasanya ditegakkan dari riwayat pasien. Diagnosa artritis reumatoid dapat dikatakan positif apabila pasien sudah mengalami seperti yang dijelaskan yang di atas selama 6 minggu. “Selain itu juga akan dilakukan pemeriksaan laboratorium dan radiologi untuk mengetahui kondisi persendian pasien,” jelasnya.
Selain itu juga dapat dilakukan analisa cairan sendi. Dokter akan mengambil cairan sendi dengan jarum steril, lalu cairan sendi akan dianalisa apakah terdapat peningkatan kadar leukosit atau tidak.
Tujuan dari pengobatan adalah mengurangi peradangan sendi dan mencegah atau memperlambat kerusakan sendi yang dapat menimbulkan cacat permanen. Selain itu pengobatan juga ditujukan untuk mencegah terjadinya kelemahan otot. Pengobatan sejak dini dilakukan guna meningkatkan rasa nyaman dan mempertahankan kemandirian pasien agar tidak bergantung pada orang lain.
Dahulu, pengobatan terhadap artritis reumatoid hanya untuk meghilangkan gejalanya saja, seperti mengurangi bengkak dab nyeri. Sekarang, pengobatan dimaksudkan untuk menghentikan penyakit agar tidak berlanjut, mencegah hilangnya fungsi sendi, dan mencegah cacat, sehingga dapat mencegah kematian dini. Pada masa depan, pengobatan diarahkan untuk mengurangi penyakit meskipun pengobatan dihentikan.
“Pengobatan dini terbukti menentukan keberhasilan terapi,” lanjut Dr Harry.
Pengobatan penyakit ini dibagi menjadi dua, yaitu terapi dengan obat dan terapi nonobat seperti fisioterapi, psikologik, dan pembedahan. Kekurangan dari penggunaan obat adalah efek samping yang ditibulkan cukup besar, prosedur penggunaan cukup rumit, efek lambat, dan angka kegagalan yang cukup besar.
Jika berbagai cara pengobatan telah dilakukan dan tidak berhasil serta terdapat alasan yang cukup kuat, dianjurkan untuk dilakukan pembedahan. Pembedahan menjadi pilihan apabila pemberian obat-obatan tidak berhasil mencegah dan memperlambat kerusakan sendi. Pembedahan dapat mengembalikan fungsi sendi yang telah rusak.
(okz/yan)
Berita terkait :
-
Tidak Semua Pemutih Gigi Aman
Serangan Jantung Diawali dari Depresi
Kebanyakan Duduk Percepat Kematian?
Askes Pati Hentikan Pelayanan Gratis
Klaim Jamkesmas RSUD Sragen 'Nunggak' Rp3,2 Miliar








