Pilih warna tema

43.019 Desa Belum Tersentuh Layanan Telekomunikasi
Rabu, 21 Juli 2010 03:13:00

JAKARTA (KRjogja.com) - PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) menegaskan akan terus menyediakan layanan telekomunikasi di pulau-pulau terluar Indonesia, baik itu layanan telepon (suara) maupun data (internet).

Vice President Public and Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia menegaskan tersedianya layanan telekomunikasi tersebut sangat penting, mengingat posisi beberapa pulau terluar secara geopolitik sangat strategis.

"Dewasa ini terdapat 66.778 desa di Indonesia, dari jumlah tersebut baru sekitar 23.759 atau 36 persen di antaranya yang sudah terjangkau layanan telekomunikasi," kata Eddy.

Eddy Kurnia menyatakan, memang beberapa pulau terluar, saat ini sudah memiliki akses tidak hanya suara tetapi juga internet. "Natuna merupakan pulau terluar Indonesia pertama yang memiliki akses internet kecepatan tinggi. Natuna sejak tahun 2007 telah menikmati layanan internet cepat Speedy," jelas Eddy Kurnia.

Penyediaan layanan internet broadband Telkomspeedy di Natuna merupakan bagian dari tanggung jawab sosial Telkom yang tertuang dalam salah satu corporate inisiative. Fasilitas yang dioperasikan Telkom di pulau tersebut terdiri dari tiga akses, yakni telepon, faksimili dan internet broadband.

"Telkom telah bertekad untuk menjadi yang terdepan dalam pengelolaan USO (Universial Service Obligation) sekaligus terdepan dalam membangun infrastruktur telekomunikasi di titik-titik terluar wilayah Indonesia," katanya.

Kehadiran Telkom yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh negara, di pulau-pulau terluar maupun daerah-daerah perbatasan dengan negara lain secara tidak langsung merupakan simbol kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selain di Natuna, Telkom telah menggelar infrastruktur di Pulau Miangas yang berbatasan dengan Filipina dan Pulau Nipah yang berbatasan dengan Singapura. Setidaknya ada 12 titik wilayah terluar lain yang menjadi target pembangunan infrastruktur Telkom, yaitu: Pulau Marore (Utara Kepulauan Sangihe, berbatasan dengan Filipina), Pulau Marampit (Utara Kepulauan Talaud, berbatasan dengan Filipina), Pulau Sekatung (Utara Pulau Natuna, berbatasan dengan Vietnam), Pulau Tapeh (sebelah Timur Laut Timor Leste), Pulau Rondo (Utara Pulau Weh, Aceh), Pulau Berhala, P Fani (Utara Papua), Pulau Fanildo (Utara Papua), Pulau Bras (Utara Papua), Pulau Batek (berbatasan dengan Timor Leste), Pulau Dana (berbatasan dengan Australia), dan Pulau Sebatik (berbatasan dengan Malaysia).

Kehadiran Telkom di lokasi-lokasi tersebut dilandasi kesadaran bahwa semua orang di Indonesia seyogyanya memiliki akses terhadap sarana telekomunikasi guna meningkatkan kualitas hidupnya. "Telkom memiliki komitmen menggelar infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia untuk mengurangi berbagai kesenjangan informasi akibat keterpencilan wilayah geografis," ujar Eddy Kurnia.

Lebih dari sebatas pengelolaan USO, Telkom bahkan berkeinginan untuk menjadi yang terdepan dalam membangun infrastruktur di titik-titik terluar wilayah Indonesia. "Kehadiran Telkom di pulau terluar dan wilayah terpencil semata-mata sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan, karena apabila dilihat dari hitungan bisnis, pengoperasian fastel lokasi-lokasi tersebut tidak menguntungkan," papar Eddy. (Okz/Git)


Berita terkait :
Bookmark this page :

Belum Ada komentar untuk artikel ini. Silakan tambah komentar.


Komentar

Nama

E-mail

Komentar

Kode Verifikasi