Pilih warna tema

Aneka Bentuk Wajah Ala Teguh Ostenrik
Selasa, 27 Juli 2010 09:58:00
Karya-karya Teguh Ostenrik dalam pameran tunggulnya 'Defacement' di Tembi Contemporary Bantul Yogyakarta. (Foto : Fira Nurfiani)

BANTUL (KRjogja.com) - Seniman asal Jakarta, Teguh Ostenrik menggelar pameran tunggalnya bertajuk 'Defacement' di Tembi Contemporary dari 24 Juli hingga 15 Agustus 2010 mendatang. Teguh yang dikenal karya seni rupa berupa wajah memamerkan 19 lukisan dan 13 patung yang telah ia ciptakan sejak 2007 hingga 2010 ini.

"Pameran ini menghadirkan deformasi dasar wajah mutan yang lebih sederhana. Kesederhanaan itu muncul dalam bentuk yang mengubah pandangan dari representatif ke re-intrepretatif," ujar Kurator pameran ini, Chris Kerrigan di Tembi Contemporary, Selasa (27/7).

Chis mengatakan, lukisan-lukisan tidak hanya menggambarkan wajah dalam bentuk dua dimensi. Sebaliknya, wajah-wajah tersebut menghadirkan dekonstruksi metafisik dari wajah yang menggabungkan fitur, emosi, gerakan dan energi sekaligus. Setelah sempat menghasilkan beberapa seri ekspresinisme abstrak hampir murni, Teguh kembali ke lukisan wajah dalam seri yang diberi judul 'Mutan'.

Menurut Chris, wajah-wajah mutan dalam karya-karya Teguh memiliki kejelasan identitas kolektif namun gelisah dan lusuh. Karakter-karakter dalam lukisan-lukisan Defacement ini tetap saja tanpa nama, namun hadir dengan emosi yang berbeda dari masing-masing karya.

Contoh nyata dari kesederhanaan element wajah dalam karya Teguh, dikatakannya, bisa dilihat dalam karya 'Ok, Now U R Gone Again' tahun 2008. Lukisan ini menghadirkan warna hitam, abu-abu dan hijau. Dengan kemahiran seorang Teguh, kita diberi kesan berubahnya suasana hati hanya dengan sedikit sentuhan pada kuas.

Teguh Ostenrik juga memamerkan 13 patung dari berbagai besi tua yang tidak terpakai. Pengalaman artistik dan estetiknya yang ditempa dengan banyak kultur seni rupa di tanah air maupun di banyak negara seperti menghasilkan sentuhan midas pada tangan-tangannya. Bagi kebanyakan seniman apalagi orang awam, besi-besi tua yang sudah berkarat bahkan lapuk dianggap barang yang tak bisa digunakan lagi.

"Besi-besi bekas itu pernah berguna bagi kehidupan manusia, entah dia berbentuk mesin, atau pisau atau rangka mobil. Kemudian setelah tugasnya selesai atau rusak mereka di campakkan begitu saja. Saya tergerak untuk memberinya jiwa baru, menjadi sesuatu yang berharga, lebih dari sekedar sampah,” ujarnya.

Teguh menjelaskan besi-besi tua barangkali barang sederhana. Namun justru disitulah ia percaya munculnya struktur dan kesederhanaaan bentuk geometris yang kuat. Jadi bukan sekedar membuat patung dari aneka macam besi tua.

”Disini saya justru sangat menghargai eksistensi fungsi-fungsi sebelumnya dari pada besi tua itu. Sehingga kabar visual masih saja bisa cerita, bahwa yang nempel di tengah-tengah pelat besi itu adalah gir mesin, tapi sekaligus mendapat fungsi baru," paparnya.

Ditambahkan Chris, ada spirit surealisme ketimbang ekspresionisme abstrak bila sekilas melihat patung-patung karya Teguh ini. Penggunaan bagian-bagian mesin yang sudah tidak terpakai dalam bentuk aslinya memberikan dimensi baru dalam keseluruhan karya Teguh.

“Patung-patung Teguh sangat solid dan menunjukkan keberadaan mereka sendiri secara individu. Fitur yang diabstraksikan membuat kita bertanya siapa sebenarnya yang sedang digambarkan? Dalam wajah anonim itu, mungkin kita melihat seseorang yang kita kenal, atau bahkan diri sendiri,” pungkasnya. (Fir)


Berita terkait :
Bookmark this page :

Belum Ada komentar untuk artikel ini. Silakan tambah komentar.


Komentar

Nama

E-mail

Komentar

Kode Verifikasi