|
BANTUL (KRjogja.com) - Pelukis asal Kulon Progo, Anis Ekowindu menampilkan14 karya-karya lukisannya yang khas dalam Pameran tunggalnya bertajuk "Theatre of Fray" di Tembi Contemporary, Bantul. Pameran ini berlangsung pada tanggal 20 Oktober 2009 lalu yang dibuka Nasirun dan akan berlangsung hingga tanggal 13 November 2009 mendatang. Dalam pameran Theater of Fray, Anis Ekowindu menampakkan citra yang mudah untuk dikenali oleh pemirsanya. Karyanya merupakan visualisasi figur-figur realistik yang menampilkan gesture tertentu. Gesture yang jenaka dan bermuka sangat Jawa mencirikan karya Anis.
Kurator Pameran ini, Rain Rosidi, Rabu (21/10) siang mengatakan obyek lukisan Anis adalah orang-orang sekitar dan terdekat dengan Anis dalam gesture yang sangat "biasa" . Selain menarik untuk dipandang juga membuat pemirsa tergiring pada rasa ingin tahu tentang makna dibalik karya tersebut. Kalaupun tidak terpancing untuk berpikir dalam, paling tidak pemirsa pasti terhibur dengan unsur jenaka dari gesture sang model.
"Suasana saat ini sedang tidak kondusif adalah ungkapan eufimisme kalau tidak mau disebut sedang cemarut. Setelah mengalami serangkaian bencana alam, teror, krisis global, Pemilu dan disambung dengan rentetan bencana alam lainnya. Namun keadaan ini tidak boleh diterjemahkan sebagai hukuman atau pertanda buruk. Seyogyanya semua ini disikapi secara bijak, karena alam adalah ibu pertiwi yang bijak dan penuh kasih yang sekarang sedang menguji anak-anaknya yang ‘nakal’. Pitutur bijak semacam ini bukan dari buku filsafat yang tebal, tapi dari pelajaran kehidupan dalam keseharian. Dari hal-hal sederhana yang kadang luput terekam karena kurang dihargai sebagai sesuatu yang agung. Hal-hal keseharian yang sederhana tapi penuh makna inilah yang diusung oleh Anis Ekowindu," ujar Rain.
Anis Ekowindu, seniman lukis dan animasi sangat suka dengan lingkup kampung yang diakrabinya sejak kecil dan menginspirasi karyanya. Disamping ketertarikan untuk bermain obyek animasi yang kaya warna, Anis juga mengolah obyek keseharian dari keluarga dan saudaranya dalam warna cenderung minimalis dan abu-abu menjadi sajian yang sederhana namun elegan dan berbobot.
Karya-karya dengan visualisasi minimal dengan kesan jenaka dan pesan yang mencerminkan karakter Anis Ekowindu yang cenderung suka mengamati dan mengolah persepsinya kemudian. Karya-karya lain menggambarkan perenungannya akan kontradiksi idealisme dan realitas, kebebasan dan masalah mendasar seperti dapur yang harus ngebul ( All about the Kitchen ). Jangan terjebak hanya pada kesan konyol wajah sang model, karena Anis Ekowindu bicara lebih dalam dari ekspresi dan dengan ekspresi itu "Theather of Fray"
Lukisan adalah produk "seni tinggi" yang bakalan dikomsumsi oleh masyarakat yang bukan berada di sekitarnya. Sebagai pelukis, Anis sadar bahwa lukisannya bakal berada dalam galeri dan diapresiasi publik yang berbeda dengan warga masyarakat di kampungnya. Untuk itu, maka peranan pelukis dalam merekayasa dan memanipulasi gagasan dan tema yang dicernanya menjadi sangat berperan.
"Ketika merakit kembali gagasan-gagasan itu lewat tokoh-tokohnya, Anis memberikan peluang kepada pemirsanya untuk memberikan pemaknaan apapun sesuai dengan latar belakang pengetahuan dan pengalaman pemirsanya. Untuk itulah dia memilih visualisasi yang cenderung sangat umum, seperti gesture yang atraktif, pakaian yang putih, rambut yang diwarna berbeda, beberapa teks, dan ekspresi yang sangat kentara. Lukisannya membawa segenap persoalan sekitarnya ke dalam dunia yang sama sekali baru, sebuah dunia yang ‘asing’ namun umum dan siap dicerap semua pihak. Sebuah bentuk teater visual yang menjadi cara ‘pitutur’ Anis untuk menyapa pemirsanya," pungkas Rain.(Fir)
Berita terkait :








