Sampah Dalam Balutan Kain Cling of Uwuh
Minggu, 28 Pebruari 2010 23:47:00
Rancangan baju-baju kreasi dari sampah yang dipertunjukkan dalam pagelaran busana "Cling of Uwuh" untuk memeriahkan Grebeg Sampah Tahun 2010 di TPA Pi

BANTUL (KRjogja.com) - Ide Kreatif memanfaatkan kembali sampah dengan keberanian menabrak tembok kekakuan tradisi rancangan fashion, menjadikan karya yang cukup unik dan menarik. Sampah dalam balutan kain ini dihadirkan dalam pagelaran busana bertajuk Cling of Uwuh dalam Grebeg Sampah 2010 yang merupakan garapan Lembaga Studi dan Tata Mandiri (Lestari), Bunda Collection, Paguyuban Budi Polah, Paguyuban Ras serta SMK Negeri 6 Yogyakarta.

"Sampah dalam balutan kain yang dikerjakan dengan sentuhan teknik dan kehalusan pengerjaan menjadi karya yang memiliki nilai dan tidak kalah dengan produk pabrikan," ujar Direktur Eksekutif Lestari, Agus Hernata kepada KRjogja.com di TPA Piyungan Bantul, Minggu (28/2).

Mengenai tajuk pagelaran, Agus mengatakan Cling merupakan kata dengan banyak makna, dalam bahasa Jawa dapat diartikan sesuatu yang mengkilap, bersih dan bersinar atau sesuatu yang baru. Selain itu Cling sebagai sebuah kata, sebenarnya diambil dari kata Recycling atau daur ulang. Sedangkan Uwuh dalam bahas Jawa berarri sampah yang selama ini berkonotasi negatif.

"Nah, sajian yang dinikmati ini bertujuan menghilangkan label buruk tentang sampah dan akan berubah menjadi Cling," ujarnya.

Lebih lanjut Agus mengatakan rancangan busana ini masih sangat terbatas, ada busana pesta berbahan kain sutera dengan taburan sampah, ada busana sport yang dikreasikan dengan motif dan warna sampahnya cukup jeli.

Sementara itu dipertunjukkan pula baju-baju casual seperti rompi atau kamisol dengan full kawul dan fuul sampah yang unik. Demikian pula dengan kaos oblong berbagai motif , yang agak berbeda adalah rancangan busana ponco dengan tampilan secara keseluruhan sampah dipilih sebagai aksen.

"Walaupun hanya sebagai aksen, tetapi karena pilihan jenis dan warna kainnya cukup serasi dengan warna-warna kawulnya, rancangan tampak unik dan ready to wear apalagi ini diproduksi tanpa brand atau merk baju," katanya.

Ditambahkan Wakil Kepala Sekolah Bagian Humas sekaligus Guru Tata Busana SMK N 6 Yogyakarta, Eko Purwanti mengatakan secara konsep yang dihadirkan sangat sederhana untuk pembuatan baju anak-anak yang ikut dipertunjukkan dalam pagelaran ini. Idenya diambil dari kebiasaan murid-murid yang setiap belanja pasti selalu dibungkus dengan plastik.

"Terinpirasirasi dari plastik belanjaan anak-anak tersebut kemudian mereka mencoba mengkreasikan dengan dengan perbandingan plasti dan kain masing-masing 50% dapat menghasilkan 6 desain baju casual untuk anak-anak dalam waktu dua hari," kata Eko.

Tentu saja apa yang dipertunjukkan dalam pagelaran busana ini masih sebatas alternatif  dan ide-ide kreatif untuk pengembangannya sangat dibutuhkan. Hidup bijak dengan tidak sembarang buang sampah harus dijadikan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. (Fir)
 


Bookmark this page :

Belum Ada komentar untuk artikel ini. Silakan tambah komentar.


Komentar

Nama

E-mail

Komentar

Kode Verifikasi