|
YOGYA (KRjogja.com) - Arah kebijakan perdagangan luar negeri RI lima tahun kedepan, yakni meninkatkan daya saing ekspor non migas. Arah kebijakan tersebut dilakukan guna mendorong peningkatan diversifikasi pasar tujuan kspor, serta peningkatan keberagaman, kualitas dan citra produk ekspor RI. Hal tersebut dikatakan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementrian Perdagangna RI, Diah Maulida.
"Strategi yang dilakukan untuk itu adalah meningkatkan produk ekspor bernilai tambah tinggi, etrutama untuk produk-produk yang ebrbasis pada sumber daya alam, serta memanfaatkan teknologi tingkat menengah. Selain itu, juga mendorong ekspor produk kreatif dan jasa yang dihasilkan UKM, " jelasnya dalam acara Bimtek Kebijakan Luar Negeri Kementrian perdagangan RI di hotel Inna garuda, Kamis (11/3).
Diversivikasi pasar ekspor, tambahnya, perlu diupayakan agar Indonesia tidak tergantung pada negara tertentu. Pengembangan ekspor wilayah perbatasan dengan negara tetangga menurutnya penting dilakukan guna meningkatkan aktivitas ekonomi. "Kami akan mendorong perdagangan antar wilayah, meningkatkan ketersediaan barang dan mengurangi impor barang konsumsi, terutama untuk wilayah perbatasan," terangnya.
Dirinya menambahkan, Indonesia tidak perlu takut dengan pemberlakuan ACFTA, mengingat pada tahun 2009 ekspor non migas Indonesia ke China naik 15 persen. Padahal menurutnya ekspor ke kebanyakan negara-negara lain turun.
"Diprediksi, Indonesia tahun 2010 hingga 2014 pertumbuhan ekonomi Indonesia akan naik, melebihi Malaysia, Filipina dan Thailand. Pasar termasuk besar, termasuk di urutan no 14 dari 132 negara di dunia" imbuhnya. (Den)






