CILACAP (KRjogja.com) - Kebijakan pemerintah yang akan memberlakukan kenaikan HET pupuk sebesar 50 persen pada Juli mendatang dinilai kurang tepat. Karena saat itu kebutuhan pupuk di tingkat petani Cilacap cukup tinggi terkait dengan waktu pemupukan pertama musim tanam kedua tahun 2010. Sehingga kondisi tersebut sangat membebani petani. Apalagi biasanya kenaikan HET pupuk itu akan diikuti pula kenaikan harga obat-obatan hama.
"Jelas saat itu petani akan dihadapkan pada posisi yang sulit, karena membeli pupuk dengan HET baru akan menjadikan biaya perawatan tanaman padinya membengkak, tidak membeli pupuk sangat tidak mungkin karena selama ini pupuk sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan tanaman padinya,"ujar Basuki petani Kroya, Kamis (11/3).
Dijelaskan, alasan pemerintah menaikan HET urea dengan sudah lebih dulu menaikan HPP gabah kurang bisa diterima, karena kendati HPP sudah ditetapkan naik namun dilapangan yang diberlakukan harga pasar. Sehingga pada saat panen harga gabah jelas dibawah HPP. Sementara HET pupuk akan dinaikan 50 persen, atau dari Rp 60.000 per kantong isi 50 kilogram menjadi Rp 90.000.
Seperti diketahui, saat ini sejumlah petani di wilayah Timur Cilacap sudah memasuki masa panen. Usai panenan mereka akan menindaklanjut dengan membuat tempat penyemaian bibit dan mengolah sawahnya untuk masa tanam kedua tahun 2010. Diperkirakan pada April mendatang para petani setempat akan melakukan pemupukan pertama.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi UMKM Cilacap Dra Yayah Sobriyah mengatakan pengadaan pupuk tahun 2010 tidak akan berbeda jauh dengan tahun sebelumnya yang berkisar 37.125,50 ton untuk urea, SP 36/Superphos 5.257 ton, ZA 1.957 ton, NPK 5.584 ton dan Petrorganik 2.078 ton.
"Pada tahun 2010 sampai Januari lalu, telah disalurkan pupuk urea bersubsidi 2.828 ton, ZA 77,5 ton, SP 36 161 ton, NPK 770 ton dan Petrorganik 19 ton," katanya.(Mak)
Petani Cilacap Keluhkan Rencana Kenaikan Harga Pupuk
Jumat, 12 Maret 2010 04:21:00
Berita terkait :






