|
|
Ilustrasi (Foto: 3.bp.blogspot.com) |
|
YOGYA (KRjogja.com) - Limbah sagu aren atau kulit kayu aren ternyata dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Jenis limbah industri ini dapat diolah menjadi briket bahan bakar untuk menggantikan peran BBM dan Gas.
Potensi yang terdapat pada limbah aren tersebut dimanfaatkan oleh dosen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ir.Sudarja, MT bersama kedua rekannya Novi Caroko, ST (UMY) dan Dr.Kuncoro Diharjo ST MT (UNS Surakarta) untuk melakukan penelitiantentang pemanfaatan limbah sagu aren atau kulit kayu aren sebagai bahan bakar alternatif.
“Limbah sagu aren potensial dijadikan sebagai bahan bakar alternatif karena dari penelitian kami terbukti memiliki kalor cukup tinggi, yaitu rata-rata sekitar 7200 kcal/kg, yang berarti memenuhi standar Jepang maupun standar Amerika,” ujar Sudarja, Kamis (12/3).
Ia menerangkan, pada industri pengolahan batang aren menjadi sagu aren, menyisakan batangan-batangan tipis kulit pohon aren. Untuk batangan dengan bentuk yang masih bagus (lebar 15 cm) dan tidak pecah, masih dapat dijual lagi dan digunakan untuk barang kerajinan serta alat-alat rumah tangga. Untuk batangan yang pecah atau yang berukuran kecil tidak laku dijual lagi.
"Dari industri pembuatan alat-alat rumah tangga (alat-alat dapur) juga menyisakan limbah berupa potongan-potongan kulit pohon aren yang berukuran kecil dan bentuk tidak teratur. Nah, dari dua jenis limbah buangan inilah kami memanfaatkannya untuk dijadikan bahan bakar alternatif dalam bentuk briket," terangnya.
Menurutnya, proses pembuatan briket bahan bakar limbah sagu ini tidak terlalu sulit. Yakni diawali dengan memotong-motong kayu aren menjadi 3-4 cm. Kemudian potongan kayu itu dipanaskan dalam alat pembuat arang yang disebut Retort selama 4 jam.
”Dalam proses pembuatan arang ini, limbah sagu aren mengeluarkan asap yang sangat banyak sehingga ketika limbah sagu arang sudah dalam bentuk briket sudah tidak lagi mengeluarkan asap yang banyak,” jelasnya.
Setelah menjadi arang, limbah sagu aren tadi dihaluskan menjadi serbuk. Bisa dilakukan secara manual dengan cara ditumbuk, maupun menggunakan mesin. Kemudian serbuk arang yang sudah halus disaring dengan menggunakan saringan dengan kekasaran tertentu. Penyaringan digunakan untuk menyeleksi kehalusan serbuk arang tersebut.
Setelah itu, serbuk arang dicampur dengan air dan perekat (pati) yang sudah direbus. Perekatnya juga dapat menggunakan tetes tebu. "Selanjutnya campuran tersebut dicetak dengan mesin press. Bentuknya sesuai selera dan cetakan yang ada, tetapi sebaiknya bukan silinder atau balok, karena kemungkinan akan mengalami kesulitan pada waktu pembakaran," tuturnya.
Briket dari limbah sagu aren ini diharapkan dapat menjadi pengganti energi alternatif seperti minyak dan gas. Sehingga ketika kelangkaan bahan bakar terjadi, masyarakat tidak melulu tergantung pada bahan bakar konvensional. (Ran)