|
|
Ilustrasi |
|
JAKARTA (KRjogja.com) - Ternyata kemampuan masyarakat Indonesia untuk menggapai pendidikan tinggi saat ini masih minim, terlebih pada kalangan masyarakat menengah ke bawah. Besarnya hanya 1/30 dari keseluruhan populasi.
"Tidak ada harapan bagi mereka untuk mengenyam pendidikan tinggi jika tidak dijemput oleh beasiswa," demikian disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Jalal saat memberikan keynote speech pada diskusi Peranan Dunia Usaha Dalam Menunjang Pendidikan Nasional di Plaza Simas, Jakarta, Jumat (30/7/2010).
Fasli menambahkan, partisipasi masyarakat pada pendidikan tinggi di Indonesia sebesar 21 persen, masih kalah dibandingkan negara tetangga seperti Filipina (30 persen). Di Malaysia, satu dari tiga anak usia kuliah memasuki perguruan tinggi. Angka ini lebih tinggi di Thailand dengan rasio 1;2, sementara di Korea Selatan rasionya bahkan mencapai 9:10.
"Tingginya angka pertisipasi di pendidikan tinggi ini karena para mahasiswa di negara tetangga memanfaatkan berbagai skema pendidikan tinggi. Jadi, tidak melulu kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN), tetapi juga perguruan tinggi swasta (PTS), dan berbagai politeknik," imbuhnya.
Mantan Dirjen Dikti ini menjelaskan, untuk meningkatkan angka partisipasi masyarakat Indonesia pada pendidikan tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mencanangkan Beasiswa Bidik Misi. Program ini ditargetkan bagi para mahasiswa berprestasi namun kurang mampu secara ekonomi. Kuota tersebut harus dipenuhi para rektor PTN."Setiap tahun sekira 250 ribu mahasiswa baru diterima di PTN. Target beasiswa ini adalah seperlima dari jumlah tersebut, yaitu 50 ribu orang," pungkas Fasli.
Perlu diketahui, dana publik yang diserap untuk pendidikan tinggi hanya sekira 0,3 persen. Dari jumlah tersebut 0,9 persen di antaranya merupakan subsidi sektor swasta yang diberikan dalam bentuk beasiswa. (Okz/Git)
Bahroni Nurchoiri@Jumat, 03 September 2010 14:10:00
gmna cara mendapatkan nya?