Pencemaran Udara di Kompleks Pemkab Sleman Dekati Ambang batas
Jumat, 30 Juli 2010 18:00:00
Pengujian kualitas udara di halaman Kantor Bupati Sleman. (Foto: Ardhi W)

SLEMAN (KRjogja.com) - Tingkat pencemaran udara di kompleks pemda Sleman kini telah mendekati ambang batas. Hal ini dipicu dengan semakin meningkatnya kepadatan lalu lintas disekitar kompleks.

Kepala Seksi Pengendalian dan Pencemaran Lingkungan KLH Sleman Sugeng Riyanto mengatakan, uji baku mutu udara di komplek Pemkab Sleman dilakukan rutin setiap tahun. Namun titik pengujian untuk mengambil sampel kondisi udara dilakukan secara acak. “Trendnya semakin mendekati ambang batas, meski masih cenderung kondisinya normal dan belum menyentuh ambang batas pencemaran,” ujarnya di sela uji baku mutu kualitas udara di halaman Kantor Bupati Sleman, Jumat (30/7) siang.

Kendati demikian, sayangnya pihaknya masih belum bisa memberikan data hasil uji baku udara secara berkala tersebut. Pasalnya, hasil uji baku udara harus diproses di laboratorium. Selain itu, tempat uji baku juga tidak hanya di satu titik saja. "Untuk yang saat ini, selain di halaman Kantor Bupati Sleman, kami juga melakukan uji di Pasar Sleman," imbuh Sugeng.

Sementara itu, staff laboratorium Balai Besar Tekhnik Kesehatan Lingkungan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta, Rudiyanto menambahkan, hasil sementara uji baku di halaman kompleks Pemda Sleman masih menunjukkan kualitas udara yang normal. Namun, hasil sementara ini juga masih belum bisa dijadikan patokan.

"Sekarang ini pengujian hanya untuk sample saja, jadi hanya 1 jam. Idealnya, untuk melihat secara keseluruhan harus dilakukan uji baku udara selama 24 jam. Jadi, hasil saat ini belum menggambarkan yang sebenarnya," jelas Rudi.

Beberapa alat yang dipergunakan untuk menguji kualitas udara ini antara lain Psicrometer, Higeh Volume Air Sampler, CO Analiser, Sound Level Meter, Anemometer serta Barometer. Hasil kualitas udara menunjukkan suhu udara kering mencapai 31 derajat, suhu udara basah 28 derajat. "Itu masih menunjukkan kenormalan. Tetapi untuk penelusuran debu, karbon monoksida serta timbal masih belum bisa diketahui sekarang," jelas Rudi. (Dhi)


Bookmark this page :

Belum Ada komentar untuk artikel ini. Silakan tambah komentar.


Komentar

Nama

E-mail

Komentar

Kode Verifikasi