Dipaksa Larangan Orde Baru, Ibu ini Sukses Berdagang Kartu Pos Batik

Witari Aryani di Toko Kartu Pos miliknya (Ilham Dary Athalah)

PELARANGAN budaya Tionghoa semasa orde baru, mendorong Witari Aryani (44), mau tak mau mempelajari budaya Jawa. Tapi alih-alih terpaksa, Ani justru menggandrungi hal tersebut.

Kecintaannya pada budaya Jawa bermula semenjak kecil. Tinggal di Pejaksen Lor, Ani hidup di lingkungan yang multikultur. Beragam etnis mulai dari Jawa, Batak, dan Tionghoa hidup berdampingan.

Ia dan kawan-kawannya yang beragam itupun kerap bermain bersama. Di gang sempit depan rumahnya semasa kecil. Mereka juga acapkali berangkat bersama ke sekolah semasa menjadi adik kelas Anies Baswedan di SMA 2 Yogyakarta.

"Dan (ketika bersama teman) itu bahasa jawa jadi sarana komunikasi kita. Saya pun kalau matur ke orang tua pakai bahasa krama," ungkapnya yang justru mengaku tak bisa bahasa Mandarin sama sekali.

Ujian bahasa jawa semasa sekolah menjadi bukti ketekunannya. Nilai sembilan tercantum dalam ijazah hasil ujiannya sebagai lulusan SMP Stella Duce."Jarang waktu itu nilai 9," ungkapnya.

Beranjak dewasa, Ani awalnya berkarir sebagai Accounting officer di sebuah perusahaan kredit motor. Dirinya berpindah-pindah penempatan dari Manado, Purwokerto, dan Jakarta. Namun kerinduannya atas Yogyakarta dan budaya Jawa, dan penolakan atasan untuk menempatkannya di kampung halaman, membuat Ani resign pada tahun 2009."Saya ingin di Jogja. Kangen saja," kenangnya sembari tertawa teringat masa lalu.

    Tak Sengaja Mengenal Batik

Tak lagi menjadi pegawai, Ani kemudian melakukan hobinya yang lain. Yaitu memotret. Di lapak tempat sang kakak berdagang batik di Bantul, ia diminta untuk mengambil gambar. Lalu mengunggahnya ke media sosial untuk promosi.

Pernah pula Ani diajak menjelajah ke pengrajin batik di sekitaran Bantul. Dari melihat proses menenun, mencelup, hingga mencap batik, memorinya terbuka. Masa lalunya yang akrab dengan budaya Jawa ingin diulanginya sekali lagi. "Jadilah saya ingin jualan batik apa begitu. Tapi yang unik," ujarnya.

Ia kemudian menjelajah di dunia maya. Sampai menemukan sebuah grup facebook filateli yang menggemari kartu pos dan perangko unik. Dari situ muncul ide membuat kartu pos dengan cover motif batik.

Batik milik sang kakak yang pernah dipotretnya kemudian dicetak diatas kertas karton. Di sampingnya, termuat kisah tentang filosofi dan sejarah jenis batik tersebut. Dan setelah kartu pos jadi, dipasarkanlah produk tersebut ke toko di seputaran Yogya dan di media sosial. Semua dijual dengan harga tiga ribu rupiah.

"Tak sengaja dan tidak menyangka tanggapan komunitas pecinta kartu pos dan wisatawan Yogya cukup bagus. Bisnis suvenir memang tak ada matinya," ungkapnya.

Untuk menuliskan kisah sejarah tersebut, Ani harus datang ke Jlagran. Hal tersebut dilakukannya semasa awal-awal merintis usaha. Ketiadaan sumber sejarah Jawa yang lengkap di internet menjadi alasannya.

Baca Juga :

Tips Creativepreneur Ala Erix Soekamti, Jangan Banyak Mikir

Awalnya Cari Uang Buat Bayar Les, Kini Windi Buka Lapangan Kerja

Disana, ia menyadur kisah dari buku-buku kuno yang didapatkannya dari perpustakaan daerah Kota Yogya. Kebanyakan buku yang dicarinya sudah tua dan rapuh. Beberapa diantaranya bahkan ditulis pada tahun 1930an oleh penulis berkebangsaan Belanda.

Hal tersebutlah yang membuat petugas perpustakaan melarang buku tersebut dibawa pulang. Untuk menyiasati hal tersebut, Ani datang setiap pagi dan menghabiskan seharian penuh membaca. Ia senang saja membaca buku sejarah tersebut karena kegemarannya sejak kecil.

"Tapi bagi pegawai perpustakaan, saya disindir terus. Dikira pengangguran karena seringnya kesana," ungkapnya sembari tertawa.

Kini, Ani telah memiliki 150 macam kartu pos yang memuat motif batik berbeda-beda untuk dijual. Lengkap dengan kisah filosofi Jawa masing-masing motif yang disadurnya seorang diri. Setiap bulan, ia bisa menjual ratusan kartu pos. Bisa pula lebih banyak ketika musim liburan.

Dan selain untuk membuat dapur tetap mengepul, Ani yakin bahwa usahanya nguri-nguri budaya Jawa tersebut juga bisa bermanfaat bagi sesama. "Ya supaya kita tidak kalah dengan orang Belanda. Masak batik kita, yang menulis orang lain. Kita juga harus menjaga," ujarnya.

Ani juga punya pesan bagi generasi muda Yogyakarta. Di tengah derasnya arus globalisasi, ia meminta anak muda untuk tetap menjaga budayanya sendiri. "Pelajari dulu. Pasti seneng. Masa orang Jogja ga tau apa apanya sendiri, ya tho," pungkasnya. (Ilham Dary Athalah)

Baca Juga :

Aneka Cerita Inspirasi Bisnis
    

 

Tulis Komentar Anda