Naura, Sosok Kartini Kekinian di Lapangan Futsal

Naura Qatrunnada (Foto: Dok Pribadi)

FUTSAL identik dengan olahraga yang dimainkan oleh laki-laki. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada perempuan yang menggelutinya. Naura Qatrunnada (18) misalnya, perempuan kelahiran Bantul, 11 Januari 1998 tersebut sudah berkeliling Indonesia berkat keahliannya bermain futsal. Bahkan, anak pertama dari pasangan Ahmadi dan Samtini itu tercantum dalam 5 pemain terbaik di Women Pro Futsal League 2017 pekan 11.

Perjalanan Awal

Kepiawaian Naura mengasah si kulit bundar dimulai sejak dirinya mengenyam pendidikan dijenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kala itu, ia bergabung dengan salah satu klub sepakbola wanita di Kabupaten Bantul. Tiga tahun dirinya terus berfokus dengan olahraga tersebut, hingga akhirnya ia memutuskan hengkang dari sepakbola saat duduk dibangku kelas tiga.

“Kelas satu ikut sepakbola wanita tapi  kelas tiga keluar soalnya waktu itu sepakbola wanita belum maju, turnamen-turnamennya masih sedikit. Sempet sih ada turnamen nasional, aku ikut seleksi tapi enggak lolos,” ujarnya kepada KRJOGJA.com, Jumat (21/04/2017) siang.

Setelah lulus dari jenjang SMP, Naura melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Sewon Bantul.Terdapatnya ekstrakurikuler futsal wanita di sekolah tersebut membuat Naura berkeinginan kembali bermain bola. Hingga akhirnya, ia pun memutuskan untuk terjun ke cabang olahraga itu.

Prestasi Naura dimulai dari sebuah kompetisi futsal antar SMA seDIY. Di tahun pertama ia membela sekolahnya, Naura bersama tim harus tersingkir di babak semifinal. Namun, hal itu tidak membuat Naura berputus asa, ia tetap semangat berlatih futsal. Akibat kegigihan Naura itu, di tahun berikutnya ia bersama tim berhasil membawa pulang piala runner up.

“Awal ikut turnamen itu kita kalah di semifinal tapi tahun berikutnya kita bisa jadi runner up,” tuturnya sembari mengingat kenangan itu.

Kegagalan Membawa Keberuntungan

Masa gemilang Naura tidak sampai di situ saja. Ia juga berhasil menghantarkan tim Pansa FC meraih runner up pada turnamen futsal Liga Nusantara 2016 regional Yogyakarta. Kekalahan di laga final melawan PAF UNY justru membawa keberuntungan tersendiri baginya. Terdapatnya peraturan bahwa tim pemenang diperbolehkan mengambil pemain dari tim yang kalah membuat Naura ditarik oleh tim tersebut.

“Ada peraturan kalau tim yang juara boleh ngambil pemain dari tim yang kalah, waktu itu kan PAF UNY yang juara terus mereka milih aku buat masuk timnya,” ungkapnya.

Kesempatan bergabung dengan PAF UNY itu pun tidak Naura sia-siakan. Pada kompetisi lanjutan Liga Nusantara Nasional 2016, ia bersama tim berhasil membawa pulang piala Champion dan mengantarkan PAF UNY ke Women Pro Futsal League 2017. Bahkan dalam kompetisi tersebut, PAF UNY merupakan satu-satunya tim perwakilan dari Yogyakarta.

Masuknya PAF UNY pada Women Pro Futsal League 2017 membuat tim ini berganti nama menjadi Muara Enim Unyted. Meskipun begitu, susunan pemain masih diduduki oleh pemain-pemain lama. Kini tim Muara Enim Unyted tengah berjuang di liga tersebut dengan menyisakan dua pertandingan terakhir.

Suka dan Duka Bermain Futsal

Kesuksesan yang diraih Naura bukan berarti tanpa pengorbanan. Demi meraih prestasi yang gemilang, Naura harus rela tertinggal pelajaran. Pasalnya ketika menghadapi pertandingan, dirinya harus izin sekolah hingga satu minggu lamanya. Tak hanya itu, meskipun tak ada jadwal pertandingan di depan mata, ia harus tetap berlatih setiap hari hingga larut malam. Hal itu pun seringkali membuatnya merasa ngantuk saat mengikuti kegiatan belajar mengajar.

“Biasa latihan sampai jam sembilan malam di GOR UNY, tapi kan rumahku jauh jadi biasanya sampai rumah sekitar jam sepuluh malam. Ya kalau sekarang sih udah tenang soalnya abis Ujian Nasional,” tegas warga Patalan Bantul itu.

Meskipun begitu, ia mengaku tetap cinta terhadap dunia futsal. Berbagai kegembiraan juga selalu ia dapatkan, terlebih saat ia bermain dengan pemain-pemain hebat yang telah membela tim nasional, seperti Rani Mulyasari yang merupakan pemain idolanya.

Ketika menghadapi pemain-pemain kelas atas itu, Naura sama sekali tidak merasa gugup. Semangatnya justru terus membara bersama dengan quotes yang selalu ia tanamkan dalam benaknya, “Jangan takut sama pemain bintang karena bintang cuma ada di langit, bukan di lapangan futsal,” pungkasnya. (Satriyo Wicaksono)

 

Tulis Komentar Anda