Menjadi Perempuan

TULISAN ini merupakan sebuah refleksi kritis tentang apa yang telah dicapai melalui berbagai perayaan hari perempuan di Indonesia. Sejauh apa sejumlah selebrasi yang ada memberikan ruang dan pengalaman untuk kita mampu mendefinisikan peran dan urgensi menjadi perempuan. Dan seberapa penting mempertanyakan hal tersebut.

Melalui penelusuran pengalaman Kartini, pertanyaan tersebut sedikit banyak akan dapat terjawab. Seperti yang diketahui bahwa Kartini merupakan sosok yang tidak biasa di zamannya meskipun ini tidak berarti menegasikan pahlawan perempuan lainnya. Hanya saja cara Kartini melakukan pemberontakan melalui sebaran suratnya yang hingga Benua Eropa tidak dipungkiri memiliki nilai tambah. Namun sebaiknya kita tidak terus menerus terjebak memperdebatkan seberapa layak Kartini menjadi simbol dari emansipasi. Ada realitas lain yang menarik untuk diungkap misalnya tentang seberapa jauh sebenarnya Kartini ingin mendefinisikan makna menjadi perempuan Jawa yang sebaik-baiknya saat itu.

Dalam salah satu suratnya Kartini menuliskan: ingin benar hati saya berkenalan dengan seorang anak gadis modern, gadis yang berani, yang sanggup tegak berdiri, gadis yang saya sukai dengan hati jantung saya (Pane 2005). Bagi Kartini, modern adalah sesuatu yang berada di luar rumahnya. Kartini membayangkan bahwa kemampuan untuk tumbuh sebagai perempuan seutuhnya itu sulit jika masih tinggal di dalam feodalisme Jawa yang membesarkannya.

Dalam kesehariannya, perempuan sebagai makhluk hidup sebenarnya tidak pernah ada kecuali jika seorang ayah, suami, atau saudara laki-laki menghendakinya. Anak perempuan adalah mereka yang mampu menjaga nama baik ayahnya. Seperti halnya perempuan utuh hanya lahir saat laki-laki menghadiahkan gelar istri. Tidak berhenti disitu sebab untuk mewujud menjadi perempuan sejati mereka disaratkan untuk melahirkan anak dari rahimnya sendiri.

Namun dalam surat yang lain, Kartini juga menyinggung tentang peran sosial seorang ibu: Dan siapakah yang banyak berusaha memajukan kecerdasan budi itu. Siapakah yang dapat membantu mempertinggi derajat budi manusia, ialah wanita, ibu, karena haribaan ibu itulah manusia mendapatkan didikannya yang mula-mula sekali (Koleksi Musem R.A. Kartini Rembang). Sekilas ini adalah kontrakdiksi. Di satu sisi Kartini mengidamkan sebuah kebebasan yang melampaui ukuran moral seorang perempuan dalam budayanya. Namun dirinya juga seolah mengukuhkan moralitas perempuan melalui deskripsi tentang ibu dimana hal ini dapat dimaknai sebagai bentuk domestifikasi.

Paradoks ini sebenarnya juga mewujud dalam simbolisasi Hari Kartini yang sering diidentikan dengan konde dan kebaya. Jika Kartini adalah tokoh emansipasi mengapa konde dan kebaya dimana merupakan salah satu corak feodalisme yang mengekang perempuan justru terus menjadi simbol perayaan? Sering ada yang menyimpulkan paradoks tersebut dengan menyatakan bahwa emansipasi boleh terjadi asalkan tidak melampaui kodrat perempuan itu sendiri. Tapi sebaiknya kita menahan diri untuk tidak menganggap pernyataan tendensius tersebut sebagai temuan akhir agar perjuangan Kartini yang bermakna lebih luas tidak mengalami kebuntuan.

Alternatif lain bisa memaknai gagasan Kartini melalui pendekatan personal is politic yang berarti jelas bahwa segala bentuk ketidakadilan dalam keseharian perempuan sangat berkaitan dengan situasi publik yang ada. Misalnya perempuan akan terbebas dari kekerasan dalam rumah tangga jika ada kesepakatan publik yang menyatakan bahwa kasus tersebut adalah pelanggaran hak asasi. Berdasarkan surat-surat Kartini, ada kebutuhan-kebutuhan perempuan dalam ruang privat yang tidak terpenuhi dengan semestinya karena tema tentang ibu yang bahagia atau isu kepemimpinan perempuan Jawa misalnya tidak pernah menjadi materi diskusi di ruang publik.

Maka esensi emansipasi bisa jadi adalah saat dimana perempuan terus aktif mengungkap makna kesakitan dan kesenangan berdasarkan pengalaman personal seharihari, lantas memperjuangkannya kuat-kuat agar menjadi atensi publik. Disinilah subjek perempuan ditemukan sekaligus kita dapat lebih arif memahami cara Kartini menerjemahkan hakikat perempuan melalui surat, kebaya, dan kondenya

(Desintha D Asriani MA. Dosen Sosiologi Fisipol UGM, saat ini sedang menempuh S3 di Ewha Womans University Seoul Korea Selatan. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 21 April 2017)

Tulis Komentar Anda