Selamat, Rektor Baru UGM

DENGAN terpilihnya Prof Panut Mulyono, pada sidang MWAUGM 17 April lalu, wajah baru kepemimpinan UGM pun bergulir. Tentu banyak rencana dan beban yang dihibahkan ke pundak rektor baru. Tuntutan agar UGM masuk 500 besar dunia terus berdengung. Wacana mengembalikan UGM pada jati dirinya, peneguhan kewibawaan akademik, signifikansi peran UGM dalam proses pembangunan nasional, dan sebagainya. Semua masih menggantung bagai mendung.

Seperti rektor-rektor sebelumnya, susah menjadi rektor itu. Di antara sekian banyak rencana, program, dan catatan-catatan hasil rapat : hidup kita, masyarakat Indonesia terus berlangsung dalam dinamikanya sendiri. Politik yang semakin vulgar terus melenggang. Pembangunan tambal sulam masih berlangsung. Korupsi merajalela. Bahkan klithih bergentanyangan.

Terkooptasi Kapitalisme

Anggaplah kesanggupan aksi lima tahun terhitung tahun ini, UGM masuk 500 besar dunia. Kita tahu, bahwa situasi lima tahun lagi sudah berubah, prioritas sudah berbeda. Setiap universitas di mana pun juga memacu dirinya. Segala sesuatu dengan cepat terlihat jadul. Bahkan yang pernah meminta atau menganjurkan, mungkin sudah tidak dalam posisi pejabat.

Artinya, bisa jadi apa yang kita rencanakan hari-hari ini, lima tahun mendatang sudah tidak relevan. Artinya lagi, perlu prioritas-prioritas yang strategis yang tak lapuk tak lekang karena perubahan konteks dan situasi. Apa marwah UGM yang sesungguhnya?

Hal awal yang ingin diingatkan kepada rektor baru, jangan sampai UGM terus menerus terkooptasi oleh kekuatan kapitalisme. Sistem dan mekanisme peringkat adalah bursa kapitalisme. Kecintaan terhadap peringkat, sungguh prioritas yang menjemukan. Siapa yang menikmati peringkat? Apa kontribusi peningkatan peringkat, misal, jika jalan-jalan di Yogya tambah macet? Apa makna peringkat jika UGM tidak berkontribusi terhadap peningkatan kesejateraan dan kenyamanan umum.

Apa pentingnya peningkatan peringkat jika UGM menjadi jauh dari hati masyarakat. Apa artinya ilmu pengetahuan dalam sistem kapitalisme jika UGM semakin eksklusif, dan hal yang dipelajarinya tidak berhubungan dengan moralitas dan integritas kepribadian mahasiswa dan para sarjananya? Dalam bahasa yang lebih sederhana, apa arti universitas sekelas UGM jika tidak mampu membangun masyarakat yang berbudaya.

Membangun kewibawaan akademik tentu sangat penting. Akan tetapi, itu bukan berarti meniru universitas di Amerika atau Eropa. Mereka mengembangkan sejarah dan tradisi keilmuan sesuai dengan historisitas keilmuan yang telah berlangsung ratusan tahun di lokalnya masingmasing. Sementara, tradisi keilmuan khas Nusantara terputus. Dimensi spritualitas dan moralitas ilmu pengetahuan kita yang telah berlangsung ratusan tahun terjegal karena kita masuk dalam sistem kapitalisme modern, yang di Barat adalah lokal-lokalnya.

Moralitas Lokal

UGM perlu menjadi model pengembangan ilmu pengetahuan yang berpegang teguh pada spritualitas dan moralitas lokal. Ke depan, justru ini yang akan menjadi daya tarik UGM. Kalau UGM bersaing dalam ilmu pengetahuan modern, maka UGM tidak akan pernah menjadi penting dan menarik perhatian dunia. Karena apa yang kita pelajari, telah mereka pelajari puluhan atau ratussan tahun yang lalu. Bahkan dunia Barat justru mulai mengembangkan ilmu pengetahuan yang spritual dan bermoral, yang justru telanjur kita remehkan.

Lebih khusus lagi, bahwa spritualitas lokal masyarakat Yogya tidak boleh dipisahkan dengan UGM. Nilai-nilai pengembangan ilmu pengetahuan ke-UGM-an harus berbasis hal itu. Jika tidak, UGM tidak akan pernah memberikan ciri khasnya. Itu artinya, UGM tidak akan pernah menjadi dirinya. UGM hanya akan menjadi satu titik tidak penting dari ribuan universitas yang berlomba-lomba untuk seolah berkelas, tapi tidak dirasakan penetrasi spritualitas dan moralitas budayanya dalam masyarakat.

Singkat kata, ruang yang memungkinkan kembalinya UGM pada aras kepribadian yang berkarakter lokal/Yogya, adalah dengan memprioritaskan ruang-ruang ilmu teknologi seni dalam berbagai dimensinya. Ilmu pengetahuan dan teknologi gamelan, keris, kuliner/- pangan, wayang, energi batin, olahraga tradisional, perangkat keras musik dan teater yang khas lokal dan sebagainya. Jika ini kita lakukan, UGM akan menjadi sangat penting ke depan.

(Dr Aprinus Salam. Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 20 April 2017)

Tulis Komentar Anda