Pendidikan Editor : Danar Widiyanto Rabu, 11 Juli 2018 / 15:42 WIB

Mencegah Kanker, Manfaatkan Kulit Manggis Terus Diteliti Mahasiswa UMP

PURWOREJO, KRJOGJA.com - Kulit buah manggis yang selama ini tidak pernah dimanfaatkan dan hanya dibuang percuma, ternyata memiliki khasiat untuk pengobatan. Bahkan diyakini mampu mencegah dan mengobati penyakit kanker.

“Secara kebetulan pohon manggis ini mudah tumbuh di wilayah Kabupaten Purworejo, sekaligus menjadi potensi lokal. Namun selama ini manggis hanya dimanfaatkan buahnya saja, dan kulitnya dibuang,” kata Ketua Tim Program Kreatifitas Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Purworejo (PGSD UMP) Kusuma Ardi Wijaya, Rabu (11/7/2018).

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Bersama timnya Inova Istirohah, Dewi Yuli Setyoningrum, Ika Khoirunisa dan Aditya Setiyawan, Kusuma Ardi Wijaya menjelaskan, bahwa Tim Program Kreatifitas yang dipimpinnya berhasil menciptakan inovasi baru berupa jelly dari  kulit  manggis yang kemudian diberi nama JELITA atau singkatan dari jelly kulit  manggis.

Tanaman manggis menurut Kusuma Ardi Wijaya, masuk dalam tanaman tropis yang berasal dari Semenanjung Malaya dan menyebar ke  kepulauan  Nusantara. Kulit manggis mengandung senyawa xanthone sebagai antioksidan, anti proliferativ, dan antimikrobial. Selain itu, dalam sebuah penelitian menyatakan bahwa ekstrak kulit manggis memiliki antioksidan sangat kuat. Hal ini dibuktikan pada fraksi pelarut baik fraksi metanol, etanol, dan etil asetat memiliki EC 50 persen kurang dari 50. Dan aktivitasnya lebih besar jika dibandingkan dengan antioksidan yang menjadi balangko. Fraksi Metanol mempunyai nilai EC50 persen yang lebih kecil yaitu 8,00 mg/L, berarti mempunyai aktivitas antioksidan yang lebih besar dibanding dengan fraksi etanol dengan nilai EC50 persen sebesar 9,26 mg/L dan etil asetat yang memberikan nilai EC50 persen sebesar 29,48 mg/L.

“Berdasarkan hasil perhitungan nilai rendemen ekstrak kasar antioksidan yang dihasilkan terlihat bahwa pada fraksi metanol memiliki nilai rendemen yang terbesar yaitu 22,27 persen kemudian diikuti oleh fraksi etanol 18,99 persen dan fraksi etil asetat 11,54 persen,” jelasnya. (Nar)