Ragam Editor : Agung Purwandono Jumat, 28 September 2018 / 11:37 WIB

Murid Romo Mangun ini Berkarya dari Atas Kursi Roda

SOSOK Romo Mangunwijaya telah menjadi lilin bagi banyak orang. Tidak terkecuali para muridnya seperti Ado Bintoro (54). Sekitar 2 tahun, Bintoro menemani Romo Mangun berkiprah sosial di rumah Romo Mangun, Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (DED), Gang Kuwera 14 Mrican Yogyakarta.

Bintoro yang terlahir dari keluarga sederhana ini merupakan penyandang disabilitas. Pria kelahiran Magelang ini terserang virus polio di usianya yang masih 7 tahun. Penyakit ini membuatnya tidak dapat berjalan lagi dan mengharuskannya memakai kursi roda. Bintoro tidak putus asa dan terus menggeluti hobi olahraganya yaitu menembak dan basket. Bintoro pun mendapatkan medali perunggu pada Pekan Olahraga Cacat Nasional cabang olahraga menembak di tahun 1993.

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Sayangnya saat itu Bintoro masih belum bekerja karena kekurangan fisiknya. Pada tahun 1997, Bintoro pun datang ke rumah Romo Mangun untuk meminta pekerjaan.

“Ketika itu saya datang minta pekerjaan tanpa riwayat pendidikan dan keahlian apapun. Romo bilang, ‘Lho, nggak punya pengalaman apa-apa, nggak punya keahlian apa-apa, sekolah enggak, kok mau bekerja. Bagaimana kami bisa memberi pekerjaan?’ Saya sedikit putus asa karena jawaban Romo. Lalu saya mengepalkan dua tangan ini sambil berkata ‘Saya Cuma tinggal punya dua tangan dan otak saya.’ Kemudian Romo kaget dan langsung menerima saya, hahaha” cerita Bintoro sambil tertawa ketika ditemui di kantor DED pada Sabtu pagi (15/09/2018).

Baca Juga : 

Mahasiswi UPN Veteran Yogya ini Ternyata Penembak Jitu

Selama 2 tahun bekerja dan tinggal bersama Romo Mangun, Bintoro mendapatkan pengalaman dan nilai keutamaan hidup dari mendampingi Romo Mangun. Romo Mangun selalu mengajaknya untuk berdiskusi maupun mendengarkan diskusinya dengan tokoh masyarakat agar dapat menambah wawasan Bintoro. Romo Mangun terkadang juga meminta bantuan untuk kegiatannya, misalnya membuat materi untuk siswa SD Mangunan.

Setelah Romo Mangun meninggal pada tahun 1999, Ado Bintoro mulai tinggal bersama ibunya di Sinduadi Mlati Sleman.  Setiap paginya ia mengayuh kursi rodanya menuju DED. Ia memulai harinya dengan mengkliping surat kabar dan membantu program-program DED.

Bintoro menyadari bahwa cerita hidupnya sebagai saksi jejak emas perjalanan Romo Mangun merupakan kisah yang dapat menginspirasi banyak orang. Ia mulai merangkai kembali kenangannya dan mengetik kisahnya satu per satu dengan komputer DED. Tidak lama setelahnya, kisah-kisah itu ia gabungkan menjadi satu dan diterbitkan menjadi sebuah buku.

Buku pertama yang ia tulis berjudul Menggambar Romo Mangun dari Samping Kanan. Buku ini dilahirkan dari pembicaraan ringan sehari-hari bersama Romo Mangun. Bintoro mengisahkan nilai-nilai Romo Mangun yang tidak banyak orang mengetahuinya.

“Saya selalu ingat kata-kata Romo, ‘Kalau kamu punya ide apapun itu, ide baik, jelek, saru, bahkan ide yang sedikit nyentil pemerintah orde baru, tulis saja! Simpan untuk era-era yang akan datang mungkin bisa digunakan.’ Itu kata-kata yang membuat saya termotivasi menulis saat ini,” kisah Bintoro seraya menirukan gaya berbicara Romo Mangun.

Buku yang ia tulis telah diterbitkan dan dijual di toko buku serta melalui situs daring. Bukunya pun di-launching oleh komunitas Generasi Muda Penggemar Romo Mangun yang bekerjasama dengan penerbit.

“Saya menjadi narasumber bersama Arie Sudjito dan Romo Kirjito waktu launching. Waktu itu masih momen ulangtahun saya, jadi itu adalah salah satu kado ulangtahun saya,” ungkap bapak dari dua anak ini.

Kini Bintoro sedang menyelesaikan buku keduanya. Buku kedua ini akan diterbitkan bekerjasama dengan salah penerbit ternama di Indonesia. Rencananya, ia juga akan me-launching bukunya seperti buku pertamanya. (Ayuningtyas Rachmasari)