Ragam Editor : Danar Widiyanto Kamis, 11 Oktober 2018 / 19:30 WIB

Irul, Majukan Dusun dengan Jualan 'Online'

SOSOKNYA mengubah wajah Kebonkliwon menjadi sentra bibit tanaman buah yang dikenal bukan hanya di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah saja. Setiap bulan ribuan bibit tanaman buah keluar dari dusun ini dibawa oleh jasa logistik ke seluruh pelosok daerah di Indonesia. 

**

Namanya Muh Khoirul Soleh, orang-orang lebih mengenal laki-laki kelahiran 5 Januari 1975 ini dengang panggilan Mas Irul. Ia dikenal sebagai pelopor jualan bibit tanaman buah secara daring atau online di Dusun Kebunkliwon. 

Ia kemudian membagikan ilmu jualan online kepada orang-orang di kampungnya. Kini di dusun itu dan wilayah sekitarnya, ada ratusan tenaga pemasar yang memanfaatkan media sosial atau media  daring untuk jualan bibit tanaman buah.

Rumah Khoirul Soleh di Dusun Kebonkliwon, Desa Kebonrejo Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah terletak di rimbunnya bibit tanaman buah. Ia juga dikenal sebagai kolektor buah langka. Di depan rumahnya terparkir mobil Fortuner keluaran tahun 2012. 

Di samping belakang rumahnya ada semacam balai kecil yang kerap ia gunakan untuk berkumpul bersama komunitas petani di dusunnya. Tempat itu sekaligus untuk menerima tamu dari berbagai daerah yang ingin mengenal lebih dekat tentang bibit tanaman buah.

Baca Juga :

Ini Keuntungan Konsumen JNE Miliki E-Card

7.586 Kg Bantuan Pembaca KR Diangkut JNE ke Lombok 

Saat KRjogja.com datang ke rumahnya Senin, 8 Oktober 2018 ia tengah berbincang ringan dengan sahabatnya yang juga tetangganya, Andy Setyawan (40). Lewat Irul juga Andy mengenal jualan bibit buah secara online

"Dulu awalnya saya gak mau, soalnya pas awal-awal ikut-ikutan posting tapi ra payu-payu (tidak laku-laku). Ya sudah saya saat itu fokus di pembibitan saja. Namun suatu saat laku untuk pertamakalinya, sekarang kalau jualan, laku terus," kata Andi yang juga masih menekuni pembibitan selain jualan.

 

Irul dan Andy di tengah bibit tanaman buah durian di pekarangan rumahnya. (Agung Purwandono)

Menurut Irul, jika di tahun 2010 hanya dia saja yang jualan bibit buah secara online, kini di Dusun Kebonkliwon ada setidaknya 100 orang yang jualan bibit tanaman buah secara mandiri. Jika digabungkan dengan dusun-dusun di sekitar Kebonkliwon ada sekitar 200an orang yang jualan online.

Tahun lalu, misalnya ia bersama komunitas petani bibit memungut  Rp 1.000 untuk setiap packing atau pak tanaman. Iuran tersebut digunakan untuk kegiatan komunitas petani bibit buah di Kebonkliwon. 

Setiap bulan rata-rata terkumpul Rp 1 juta - Rp 1,5 juta, artinya dalam sebulan ada sekitar 1.000-2.000 packing tanaman yang keluar dari Kebonkliwon. Jika satu packing rata-rata 4 pohon buah maka dalam sebulan rata-rata 4000-8000 tanaman buah yang keluar dari Kebonkliwon. 

Jumlah tersebut belum termasuk tanaman buah yang dikirim tidak menggunakan jasa logistik atau ekspedisi yang mengharuskan pengepakan. Biasanya jika pesanan dalam jumlah banyak, petani akan mengantarnya sendiri menggunakan truk. "Ini barusan dari Palembang pesan 3.000 bibit durian, barusan transfer minta dikirim bulan depan," kata Irul menunjukan SMS dari calon pembelinya di luar pulau.


Awalnya Hanya Karena Ingin Dekat Keluarga 

Tahun 2010 adalah awal Irul mulai merintis jualan bibit tanaman. Keputusannya fokus pada jual beli bibit tanaman khususnya buah, diawali pemikiran sederhana. "Saya ingin tinggal di rumah, bisa melihat anak istri," kata suami dari Dewi Eriyana (37).

Pemikirannya tersebut berawal dari pengalaman sebelumnya. Irul bercerita, ia pernah ikut Multi Level Marketing (MLM).  Namun, ia merasa hidupnya habis di jalan. Pengalaman dipenjualan langsung tersebut mengajarinya  tentang marketing, juga mendidik mentalnya menjadi kuat, berani mangambil keputusan dan pantang menyerah. 

Ia kemudian beralih ke trading forex, namun aktivitas barunya itu membuatnya selalu tegang. Pikirannya tidak tenang berbisnis jual beli mata uang asing tersebut. 

Setelah meninggalkan semua bisnisnya tersebut Irul melihat ada peluang di bibit tanaman di kampungnya,  Kebonkliwon. Sejak kecil, Kebonkliwon memang dikenal sebagai penyedia bibit tanaman terutama buah-buahan. 

Awalnya Irul jualan bibit buah dengan cara konvensional. Setelah seorang kawan di Semarang mengenalkan jualan online, Irul mencoba online marketing tersebut. Platform media sosial saat itu ia manfaatkan untuk jualan mulai dari facebook, twitter dan blog. 

"Pertama jualan online tidak langsung laku, nunggu 6 bulan baru ada yang beli. Saya masih ingat pertama tanaman saya laku itu bulan November 2011, ada 10 tanaman buah," kata Irul. Jualan bibit tanaman secara online ternyata membuka pintu rezeki bagi Irul. Setelah itu pesanan datang terus menerus. 

Meski demikian, jatuh bangun juga pernah dirasakannya. Ia pernah ditipu orang yang membeli 10 ribu bibit tanaman, namun hanya dibayar ongkos transportasinya. Saat Irul datang ke rumah orang tersebut, kondisi rumah orang itu membuatnya iba. Dirinya tidak jadi menagih, justru memberikan uang saku untuk anak orang yang menipunya itu. 

"Saya ambil hikmahnya saja, justru setelah kena tipu semakin banyak orang yang membeli bibit ke saya," ujarnya. Selain kena tipu, awal ia mengirim ke luar pulau, banyak bibit yang mati. Itu karena Irul tidak tahu cara packing yang benar. Salah satu pembeli kemudian mengajarinya bagaimana mengirim tanaman agar tidak rusak. 

Jasa Ekspedisi Jadi Ujung Tombak 

Jasa pengepakan atau packing sebelum diangkut jasa logistik tumbuh di Dusun Kebonkliwon. (Agung Purwandono)

Setelah merasakan keuntungan jualan online, Irul merasa harus berbuat sesuatu untuk tempat kelahirannya. Ia kemudian mengajak petani bibit tanaman untuk jualan online agar menjangkau pembeli yang lebih luas, namun ajakan tersebut ditanggapi dingin. Ia kemudian melihat banyak anak muda yang nongkrong tanpa aktivitas yang jelas. 

"Saya jelaskan modalnya cuma handphone dan internet, tapi juga tidak ditanggapi," kata Irul. Baru setelah ia menunjukan hasilnya, anak-anak muda mulai tergerak melakukan hal yang sama. 

Menurut Irul, sekarang jika melihat ada orang nongkrong sambil mainan handphone di pos kamling ke Kebonkliwon, jangan berburuk sangka dulu. Bisa saja mereka tengah jualan bibit tanaman secara online

Irul tidak mengarang cerita tentang ratusan penduduk dusun Kebonkliwon dan dusun-dusun sekitarnya  yang jualan bibit buah-buahan. "Ini kan hari Senin, sebentar lagi mobil-mobil ekspedisi (jasa logistik) mulai berdatangan," kata Andy Setiawan di sela obrolan. 

Irul membenarkan bahwa saat ini jasa logistik jemput bola ke dua tempat packing yang ada di Dusun Kebonkliwon. Bahkan beberapa diantaranya langsung datang dari Yogyakarta. 

"Jasa logistik itu ujung tombak kami, bisnis kami kan bisnis kepercayaan, kalau tanaman diantar tidak tepat waktu sampai pelanggan, kami yang repot. Makanya kalau mereka datang kesini sama-sama diuntungkan," kata Irul.

Artikel Terkait : 

JNE Dorong Kemajuan dan Keuntungan Kreator Lokal

JNE Raih 2 Penghargaan dalam ASEAN Marketing Summit 2018

Menurut Irul ada lebih dari 7 jasa logistik yang lalulalang di Dusun Kebonkliwon. Mereka bahkan berlomba-lomba untuk menarik pelanggan, termasuk ada yang membuat undian berhadiah seperti televisi dan smartphone. Setiap jasa ekspedisi punya karakter berbeda-beda yang sudah dihafal oleh penjual bibit tanaman di Kebonkliwon. 

"Disini ada yang menggunakan JNE, terutama untuk pengiriman pupuk, tanaman yang kecil atau benih tanaman," kata Irul ketika ditanya tentang tentang jasa logistik yang meraih penghargaan Silver Champion Transportation and Logistic serta Top 10 Strongest Brand in Indonesia dalam The 4th Asean Marketing Summit 2018 pada 6 September lalu .

Kesejahteraan Masyarakat Meningkat

Menurut Irul seiring dengan semakin larisnya jualan online ternyata memberi multiplier effect yang berdampak bagus bagi perekenomian warga di Kebonkliwon. Sejak warga menggeluti jualan online geliat ekonomi di Dusun Kebonkliwon tumbuh. Ketika permintaan atas bibit tanaman buah semakin banyak, Irul semakin kewalahan untuk membuat packing tanaman. Ia kemudian mengajak tetangganya Muhammad Afif (43) yang tukang kayu untuk membuat packing tanaman. 

"Dulu pernah dengan paralon, tapi tidak kuat kemudian kardus sampai kemudian dengan kayu," kata Afif di sela-sela melayani pengepakan tanaman di rumahnya. Terlihat beberapa packing bertuliskan alamat pemesan seperti Timika, Papua juga Batu Kajang, sebuah Desa di Kalimantan Timur. 

Setiap bulan rata-rata Afif mengerjakan hingga 500 pak tanaman ke luar daerah. Ada 5 pekerja yang membantu usahanya, itu belum termasuk pekerja tambahan jika pesanan sedang banyak. 

Afif tahu betul perjuangan Irul saat memulai jualan online hingga kemudian Kebonkliwon dikenal sebagai sentra tanaman buah-buahan. Saat itu, bahkan jasa logistik belum masuk ke Kebonkliwon, berbeda dengan sekarang yang sekitar 7 jasa logistik antri mengambil tanaman ke Kebonkliwon. 

Bagi Afif sendiri, sosok Irul adalah orang yang berjasa untuk keluarganya. Sekarang setiap hari selalu ada orderan untuk membuat packing. Ia dan istrinya bahkan sudah bisa mendaftar naik haji, hasil dari jasa pembuatan packing tanaman. 

Salah satu yang juga merasakan jasa Irul adalah Nur Kajoran (47) yang ditemui KRjogja.com tengah menenteng beberapa bibit tanaman buah ke tempat jasa packing milik Muhammad Afif. Awalnya Nur melihat Irul tengah mainan HP di pos kamling. "Saat itu saya mbatin, orang kok kerjaannya mainan HP tapi kok uangnya banyak," kata Nur tertawa. 

Namun saat itu ia belum tahu jika orang-orang yang sedang "nongkrong" mainan HP itu sebenarnya sedang jualan. Ia baru tergerak jualan online tahun 2014 ketika ia terdesak kebutuhan ekonomi saat anaknya akan ikut study tour. "Setelah tanaman buah pertama yang saya tawarkan laku, selanjutnya lancar. Salah satu hasilnya itu," kata Nur menunjuk sebuah mobil berwarna putih yang parkir di pinggir jalan.

Peningkatan taraf hidup juga dirasakan Muh Cholil (42), tetangga Irul yang semula juga membuka usaha tukang kayu. Kini ia beralih fokus pembuatan packing tanaman. "Kalau pesanan lagi ramai, biasanya saya tambah pekerja," kata Cholil yang ketika ditemui tengah sibuk menyiapkan packingan untuk dikirim ke Sambas Kalimantan Barat, Jakarta dan Bandung. 

Di tempatnya jasa logistik biasanya datang sore sekitar pukul 16.00. Hampir tiap hari, Cholil tidak pernah libur untuk mengerjakan pesanan packing tanaman. Hal itu berawal dari sekitar 3 tahun lalu saat ia diminta Irul untuk membuat packingan untuk paket tanaman. Sekarang bukan hanya Irul, tapi orang-orang yang jualan online juga pesan ke tempatnya.

Diakui Cholil, hasil dari membuat packing tanaman lebih bisa dirasakan daripada saat ia masih membuat daun pintu atau jendela. Hal itu karena lebih mudah serta pesanan packing langsung dibayar begitu selesai. 

"Kalau pesan pintu atau jendela kan biasanya disemayani tidak langsung bayar, tapi kalau packing itukan pungyar, rampung dibayar (selesai dibayar)" kata Cholil yang berkat jasa pembuatan packing kini ia bisa membuka warung kecil-kecilan di rumahnya. 

Zainal Faizin (31) pemilik usaha Pembibitan Pangestu Tani di Kebunkliwon mengatakan dirinya termasuk satu dari 10 orang yang belajar pertamakali tentang jualan online dari mas Irul. Tahun ini ia menargetkan bisa menjual 10 ribu bibit tanaman buah, khususnya durian kaki tiga. 

"Targetnya bertahap mas, sampai bulan ini sudah ada 3000 yang terjual," kata Zainal Faiz yang selain jualan online juga melakukan pembibitan tanaman buah. Untuk tenaga okulasi ada 5 orang, tenaga ahli okulasi 2 orang. Ia juga melibatkan ibu-ibu untuk tenaga oper polybag dan mencabuti rumput. 

Menurut Faiz, setelah masuk di online marketing hasilnya memang terasa. Tahun 2014 ia bisa membeli pickup yang ia gunakan untuk distribusi bibit tanaman. Tahun berikutnya dia bisa mengontrak lahan yang lebih luas untuk pembibitan tanaman buah, khususnya durian kaki tiga. Tahun ini ia bisa memperbaiki rumah dengan membuat limasan.

"Kami bercita-cita bisa menjadikan Kebonkliwon sebagai Desa Wisata Agroculture," kata Faiz yang mengaku cinta budaya ini. Meningkatnya tingkat ekonomi warga dari jualan online juga mendorong anak-anak muda mendirikan Komunitas Bibit Buah Kebonkliwon. 

Selain itu berbagai kegiatan budaya maupun religi digelar dengan motornya adalah Karang Taruna Tunas Muda Kebonkliwon. Beberapa diantara kegiatan yang sudah digelar antara lain Festival Kebonkliwon di tahun 2016, Kompetisi Mancing Kebonkliwon, dan yang belum lama ini digelar adalah  Festival Rebana se-Kabupaten Magelang. 

"Dalam setiap kegiatan kami selalu menyertakan pameran bibit buah unik dan langka, bazar, juga pembagian bibit," kata Faiz. Ditambahkannya, kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Kebonkliwon tak lepas dari meningkatkan taraf ekonomi di Kebonkliwon karena bisnis bibit tanaman buah. 

Keberhasilan Irul yang menularkan jualan bibit tanaman khususnya tanaman buah secara online juga memberikan dampak ekonomi lainnya selain makin banyaknya orang yang jualan online dan jasa packing. 

Setiap hari selalu ada yang memesan packing untuk diambil jasa logistik (Agung Purwandono)

Jasa Okulasi Laris

Saat ini, para petani bibit tanaman buah agak kesulitan mencari tenaga okulasi (cara meningkatkan mutu tumbuhan dengan menempelkan sepotong kulit pohon yang bermata dari batang atas pada suatu irisan pada kulit pohon lain dari batang bawah sehingga tumbuh bersatu menjadi tanaman baru).

Petani bahkan harus inden untuk menggunakan jasa orang menempel atau menyambung tanaman ini. Tenaga okulasi tidak sempat menganggur karena pasti banyak permintaan. 

Di Kebonkliwon setidaknya ada 30-50 orang yang memiliki kemampuan okulasi. Jika pesanan banyak kadang harus mencari tenaga dari  luar. Rata-rata setiap orang mampu melakukan okulasi hingga 250 batang setiap hari. 

"Rata-rata mereka mendapat upah antara Rp 70 ribu - Rp 80 ribu setiap hari. Itu belum termasuk makan dan uang rokok," kata Irul. Bahkan untuk menarik jasa tukang okulasi ini kadang kala pemesan memberi iming-iming fasilitas yang lebih. Misalnya makanan enak. 

Harga Sewa Lahan Meningkat

Bukan hanya itu saja, geliat ekonomi juga terasa dari sisi lahan yang digunakan untuk bibit tanaman buah. Dulu untuk menyewa tanah seukuran 1.000 meter persegi modal yang dikeluarkan cukup Rp 1 juta - 1,5 juta. Sekarang pemilik lahan mematok antara Rp 2 - 2,5 juta per 1000 meter persegi untuk masa sewa satu tahun. "Mereka mintanya harga segitu, kalau ndak mau, mereka beralasan akan menanami sendiri," kata Irul.

Tak Lagi Dikendalikan Tengkulak

Salah satu kebahagiaan yang dirasakan Irul adalah petani-petani bibit tanaman dan buah di Kebonkliwon tidak lagi dikendalikan lagi oleh tengkulak. Justru sekarang yang terjadi sebaliknya. 

"Dulu saat belum marak jualan online, petani disini dikendalikan oleh tengkulak. Musim kemarau seperti ini mereka biasanya memberikan modal ke petani-petani, tapi pas musim hujan mereka akan membeli bibit dengan harga yang sangat murah kepada petani," ujar Irul. 

Sekarand kondisinya justru terbalik, petani bibit yang menentukan harga sehingga tidak dikendalikan tengkulak. Para petani beralasan jika tengkulak tidak mau membeli, mereka bisa menjualnya sendiri.

Cita-cita Irul Ingin Dirikan Yayasan untuk Petani Bibit Buah di Kebonkliwon

Khoirul Soleh masih memiliki cita-cita yang ingin ia wujudkan untuk petani-petani bibit di Kebonkliwon. "Saya sering keliling daerah, kadang melihat banyak lahan yang masih kosong, eman-eman. Saya berpikir kalau lahan itu dimanfaatkan untuk menanam buah, bisa menyejahterakan masyarakat," kata Irul.

Cita-cita itu adalah mendirikan Yayasan Peduli Alam yang menjadi penghubung antara petani bibit tanaman buah di Kebonkliwon dengan pemerintah atau perusahaan dan dengan pemilik lahan yang kosong. "Misalnya pemerintah ada tanah kosong, petani di Kebonkliwon akan menyediakan bibit buah, nanti pengelolaanya di serahkan ke pemuda atau karang taruna," kata Irul. 

JNE Punya Komitmen Angkat Produk Lokal

Seperti dikemukakan oleh Irul sebelumnya, jasa logistik menjadi ujung tombak dalam jualan online yang dilakukan oleh masyarakat di Kebonkliwon dan sekitarnya. Head Regional JNE Jateng DIY Marsudi mengatakan, JNE memiliki komitmen  dalam mendistribusikan produk pertanian berupa bibit, pupuk, hasil panen dan produk lainnya terkait pertanian. 

"JNE membantu masyarakat untuk pengiriman produk pertanian sesuai dengan syarat standar pengiriman JNE," kata Marsudi yang juga pernah menjadi Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo) DIY selama dua periode.

Menurut Marsudi, segala bentuk pengiriman benda hidup baik tanaman maupun binatang (ikan) harus disertai surat karantina yang dikeluarkan Balai Karantina Pertanian dibawah Kementrian Pertanian dan Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kementerian Perikanan dan Kelautan sebagai pihak yang memiliki otoritas. 

"Dalam proses pengiriman JNE melakukan penangan khusus untuk pengiriman benda hidup seperti packing ulang dan bagging terpisah agar kiriman benda hidup dalam keadaan aman sampai tujuan," ujar Marsudi. (Agung Purwandono)