Ragam Editor : Agung Purwandono Rabu, 17 Oktober 2018 / 12:46 WIB

MASYARAKATKAN KOPI

Kedai 'Mari Ngopi' Tawarkan Bayar Seiklasnya

MENAWARKAN kopi dengan harga cuma-cuma, kedai ‘Mari Ngopi’ tak menyajikan semena-mena. Komitmen untuk mengajak masyarakat minum kopi dengan harga yang terjangkau menjadi pilihan di tengah menjamurnya kedai kopi dengan tarif yang cukup menguras kantong di Yogyakarta.

Saat gelap menjelang, sudut remang Alun-alun Kidul (Alkid) nampak ramai dengan orang-orang yang sedang berbincang tentang apa saja. Setiap sudut kedai ‘Mari Ngopi’ terisi oleh orang-orang yang menikmati secangkir single origin. Setiap harinya puluhan cangkir  saling bergiliran untuk diisi hasil racikan biji kopi dari barista.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

“Tiap hari paling sedikit 50 cup kopi single origin kami buat untuk pelanggan disini,” ungkap Rahadian (21) salah satu barista di Mari Ngopi.

Konsep berbeda yang ditawarkan memberikan daya tarik bagi banyak orang untuk mencoba menikmati kopi. Bayar seikhlasnya untuk tiap gelas kopi single origin yang dipesan dengan metode V60 (Saring) dan tubruk. Tersedia kotak di meja bar dengan tulisan ‘hanya tuhan dan kamu yang tau’ untuk tiap uang atau yang  disebut kedai ini dengan ‘apresiasi’ terhadap kopi.

Tak jarang ada pelanggan yang justru memberikan tips tambahan karena terkesan dengan konsep  yang unik ini.  Bermacam-macam bentuk apresiasi yang diberikan penikmat kopi ditempat ini. “Pernah suatu ketika ada bule minta dibuatkan kopi, lalu mecoba hingga 4 gelas kopi dengan jenis biji yang berbeda, dia kaget saat tidak dipatok harga, malah memberikan Rp 250.000 untuk semuanya tanpa kembalian,” tutur Rahadian sembari tertawa mengingat macam-macam pelanggan yang dilayaninya.

Model kedai kopi ini berangkat dari keinginan Akrom Setiawan (36)  membuat kopi racikan barista lebih dekat dengan masyarakat. Dengan membayar berapapun sesuka hati akan menumbuhkan ketertarikan bagi orang yang dulunya ragu untuk mencicipi kopi  di kedai-kedai  karena terkesan mahal.

Berkat bantuan pendanaan  salah seorang rekan,  sejak awal tahun 2014 Mari Ngopi bisa menyewa sepetak halaman rumah di barat Alun-alun Kidul. Ia mengungkapkan usaha ini tak semata-mata bisnis, ada niat untuk berbagi dengan sesama dengan kopi yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.

“Prinsip saya ada perbedaan gaji dengan rezeki, gaji itu tetap dan pasti datang dari mana, kalau rezeki ya kadang kita bingung juga menerka, tau-tau ada. Itupun saya terapkan disini, meski bayar seikhlasnya tapi pemasukan cukup untuk menjalankan usaha ini dan masih untung,” jelasnya.

Saat ditemui krjogja.com pada (21/09.2018)  ia menuturkan awal dirintisnya usaha ini. Kala itu Akrom hanya seorang diri menjadi peramu kopi, dibantu sang istri untuk melayani pembeli yang datang sesekali. Itulah masa-masa dimana Mari Ngopi belum seramai belakangan ini.

Baru dibulan keempat ia mulai merekrut seorang barista untuk membantunya. Hingga kini sejalan dengan  semakin berkembang dan bertambahnya pelanggan ia  mempekerjakan lima orang barista untuk memenuhi kebutuhan di Mari Ngopi.

Salah seorang pelanggan bernama Kholilulloh (19) Mahasiswa fakultas Filsafat UGM mengungkapkan hampir tiap pekan datang menikmati kopi ditempat ini. Harga yang terjangkau menjadi salah satu alasan untuk tetap kembali. Meski tempat tak begitu luas, lokasi cukup strategis diantara wisata Tamansari dan Alkid.

“Karena terjangkau saya jadi terbiasa dengan kopi disini, suasananya juga enak, jogja banget,” ungkap Kholil yang sudah kerap berkunjung sejak 2017 lalu.

Akrom  yang dulunya telah melalang buana menjadi barista di beberapa  tempat menuturkan meski kini kedai kopi telah menjamur,  kebanyakan pelanggan justru memesan olahan kopi campuran. Mulai dari kopi latte, matcha, kopi susu, hingga coklat. Hal ini menjadi salah satu pendorong bagi akrom untuk membuat kopi single origin lebih dekat dengan masyarakat.

“Bukan masalah karena itu selera, tapi ada keinginan saya agar olahan kopi single origin ini dapat lebih membumi, salah satu caranya dengan memberikan harga yang ekonomis,” Jelasnya.

Hingga saat ini Mari Ngopi tetap eksis meski dengan konsep yang ditawarkannya. Disamping itu mari ngopi juga menyediakan jenis minuman lain baik dengan campuran kopi maupun tidak. Meski untuk varian selain kopi single origin dipatok dengan harga tetap, tarifnya pun masih terjangkau di kisaran Rp 5000 hingga Rp15000.

Biji-biji kopi yang ditawarkan merupakan hasil dari perkebunan lokal berbagai daerah di pulau jawa. Mulai dari robusta dan arabica Sindoro, Sumbing, bahkan dari kebun kopi di daerah Suroloyo, Kulonprogo. Biji kopi diambil  suplier yang sudah biasa menyediakan . Penggunaan biji kopi daerah-daerah lokal menjadi salah satu cara mengenalkan bahwa daerah sekitar DIY juga memiliki kopi yang berkualitas.

“Kopi yang kita tawarkan kebanyakan kopi lokal, kami ingin lebih mengenalkan kopi daerah, bahkan sesekali kopi daerah sekitar jogja kalau sedang tidak langka,” ungkap Akrom.

Meski sekarang sudah ramai dan banyak dikenal, Akrom tak berkeinginan untuk membuat kedai serupa ditempat lain. Meski ia tak menampik peluang untuk membuka cabang. “Mari Ngopi yang seperti ini biarlah disini, kalau ada cabang ya pakai model yang lain biar khasnya tetep disini,” tutup sang penggagas Mari Ngopi. (Hammam Izzuddin)