Ragam Editor : Ivan Aditya Sabtu, 27 Oktober 2018 / 01:10 WIB

Perjuangan Relawan UGM Pulihkan Senyum Warga Lombok

TRAVEL berisi 13 orang relawan Kagama Care Batch 3 untuk bencana Lombok berangkat dari Yogyakarta menuju Surabaya, Senin (17/10/2018) sekitar pukul 23.00 WIB. Fernando Galang Rahmadana (19) atau  Nando, sapaan akrabnya sudah mempersiapkan dua hal sangat penting yakni mental dan logistik yang banyak dalam tas ranselnya. Ia yakin betul, kemampuan bertahan hidupnya akan lebih diuji di tempat yang habis tertimpa gempa 7,0 SR  ini ketimbang di gunung-gunung dimana pernah ia daki.

Setelah kurang lebih 6 jam perjalanan, sampailah mereka di Surabaya. Di Kota Pahlawan ini, Nando dan teman-temannya singgah cukup lama. Pukul 1 siang mereka baru menyeberang ke Nusa Tenggara Barat. Butuh 20 jam untuk kapal sampai dan tiba di Pelabuhan Lembar NTB, pukul 11 siang, beristirahat sejenak di Posko Kagama Care Mataram   kemudian lanjut ke desa tujuan 3 jam setelahnya.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Dari pelabuhan, Lombok Barat, semuanya masih biasa saja. Namun, ketika memasuki kawasan Lombok Utara, pemandangan miris pun menghampiri kedua bola matanya. Hancur, hancur semua, hampir rata dengan tanah. Tanpa sadar air mata  menggenangi pelupuk mata mahasiswa Sosiologi UGM semester 3 ini.

Sesampainya di desa tujuan, Desa Gumantar mereka disambut dengan sorak sorai anak-anak kegirangan. Seolah berkata, “Hore teman baru!”. Tidak tersirat kesedihan, mereka ceria seakan semuanya baik-baik saja.

Desa ini terletak di Lombok Utara, dengan kondisi tanah menanjak dan letaknya di paling atas dari desa-desa lainnya. Menurut cerita salah satu pemuda setempat, kata Nando, saat terjadinya gempa semua orang berhamburan ke jalan.

“Yang kacau tuh pas awal-awal sih, diceritain sama salah satu pemuda di situ yang kuliah di Mataram. Habis gempa 7,0 SR itu, pas dia balik ke Gumantar itu bener-bener rumah hancur semua. Di pinggir jalan semua warga itu cuma diam merenung, duduk gini,” tuturnya sambil mempraktekkan posisi bertopang dagu.

Namun sekarang, mereka sudah bangkit lagi. Mereka sudah kembali ke reruntuhan rumah masing-masing dan mendirikan tenda di sana, tidak lagi tidur di posko,  Perekonomian pun mulai jalan. Satu hal yang sangat mengesankan bagi Nando adalah masyarakat di sini sangat kuat dan tabah. Mereka senang berkelakar dan tertawa, meski berada dalam berbagai kesusahan.

Di sini, Nando dan tim yang terdiri dari 8 laki-laki dan 5 perempuan ini bertugas sebagai tim pendukung yang banyak membantu perbaikan insfrastruktur seperti tempat Mandi Cuci Kakus (MCK). Mereka juga membawa 3 program lain yakni Taman Pembelajaran Al-Quran (TPA) untuk anak-anak, English for Tourism dan Kelompok Wanita Tani yang memberdayakan perempuan melalui olahan produk hasil kebun, seperti singkong, pisang dan mete. "Selain itu tim kami juga dapat tugas tambahan untuk survei tempat yang berpotensi menjadi obyek wisata ," kata Nando.

Setiap hari, dari pukul 08.00 - 17.00 WITA , Nando dan 7 relawan laki-laki lainnya bergotong royong bersama warga untuk membangun masjid maupun tempat MCK. Kabar baiknya, warga sangat antusias terhadap semua program yang dibawa untuk membangun kembali desa mereka tercinta.

Hari pertama, ia benar-benar merasa sebagai seorang relawan. Kerja dari pagi sampai malam. “Jam 8 kita kerja sampe jam 11. Di sana, jam 10 pagi udah nyengatnya masyaAllah. Teman-teman udah banyak yang tepar. Jam 11 kita selesai, abis itu istirahat dan lanjut cari hasil kebun sama anak-anak,” jelas pemuda asal Semarang ini.

Sambil tertawa, ia bercerita tentang pengalaman pertamanya naik pohon kelapa sampai terluka di kedua tangan. “Pas turun merosot, gak kuat, lemes karena belum makan,” katanya setelah menunjukkan beberapa bekas luka.

Selepas ashar, sebuah truk besar berisi batang bambu yang menggunung datang. Namun, truk tidak kuat untuk naik ke desa, sehinga Nando dkk harus turun sekitar 5 km . Dengan pick up, mereka bolak-balik meyusun, membawa dan menurunkan bambu.

“Sampai magrib dapet 3 kali bolak balik. Kita pakai dua pick up, tapi pick up kedua datangnya abis magrib. Kita iring-iringan.Tiba-tiba salah satu pick up bambunya melorot. Kita menurunkan bambu,kemudian menaikan lagi semua. Sampai ada yang tangannya sobek, trus kakinya juga sobek. Hari pertama itu bener-bener gila banget,” ungkap Nando yang baru pertama kali jadi relawan ini.

Malamnya, mereka makan dan kemudian istirahat di tenda posko yang penuh sesak dengan bantuan logistik. Di hari-hari berikutnya, selain membantu pembangunan ulang masjid, relawan yang sempat terkena disentri selama 5 hari ini juga ikut di program lain.

English for Tourism salah satunya. Program yang mengajarkan warga berbahasa Inggris ini ternyata sangat menghibur. Peserta yang terdiri orang dewasa dan anak muda seringkali memplesetkan kata berbahasa Inggris menjadi kata lain. Seperti saat diminta memberi contoh verb+ing dan mereka menjawab, “Sin-ting”. Bener-bener lucu," kenang Nando sambil tertawa mengingat momen tersebut.

Meski kerelawanannya hanya berlangsung sampai 29 September saja, Nando mengaku banyak sekali pelajaran dan pengalaman hidup yang ia dapatkan. Rasa syukur, semangat, kekuatan dan keikhlasan. Ia pun mengaku berkeinginan menjadi relawan untuk kedua kalinya. Palu menjadi tujuannya selanjutnya. “Kalau ada bukaan buat jadi relawan bulan desember sehabis UAS, berangkat,” ungkapnya. (Garin Essyad Aulia)