2 Oktober, Jamasan Pusaka Suroloyo

DALAM rangka menyambut datangnya bulan Muharram atau istilah jawa satu suro, Pemerintah Kabupaten menggelar Jamasan Pusaka peninggalan Sri Sultan HB IX yakni Manggolo Murti yang berwujud tombak, dan Manggolo Dewo yang berwujud songsong (payung).

Dimulai dengan arak-arakan menuju Sendang Kawidodaren, Puncak Suroloyo desa Gerbosari kecamatan Samigaluh.dilanjutkan dengan jamasan kedua pusaka.

Tempat ini juga mempunyai kaitan sejarah dengan Kerajaan Mataram Islam. Dalam Kitab Cabolek yang ditulis Ngabehi Yasadipura pada sekitar abad ke-18 disebutkan bahwa suatu hari Sultan Agung Hanyokrokusumo yang kala itu masih bernama Mas Rangsang mendapat wangsit agar berjalan dari Keraton Kotagede ke arah barat.

Petunjuk itupun diikutinya. Sampailah ia di puncak Suroloyo ini. Karena sudah menempuh jarak sekitar 40 km, Mas Rangsang merasa lelah dan tertidur di tempat ini. Pada saat itulah, Rangsang kembali menerima wangsit agar membangun tapa di tempat dia berhenti. Ini dilakukan sebagai syarat agar dia bisa menjadi penguasa yang adil dan bijaksana. Jadilah beberapa peninggalan yang masih ada hingga sekarang ini. Di bagian puncak, terdapat sebuah batu besar dan arca. Di tempat ini sering digunakan untuk mengadakan ritual jamasan pusaka kraton setiap awal bulan Sura.

Pada ritual ini, puncak Suroloyo akan penuh sesak dengan orang-orang yang ingin ngalap berkah. Tidak tanggung-tanggung, banyak di antara mereka yang berjalan kaki menuju ke puncak Suroloyo. (*)

 

BERITA REKOMENDASI