Malam Ini, Menggenang 100 Tahun HB Jassin di Omah Petruk

AGUSTUS 1968. Ki Pandji Kusmin mendadak menjadi perbincangan setelah majalah Sastra menurunkan cerpen “Langit Makin Mendung”. Pandji Kusmin dituduh menistakan agama karena dalam cerpennya ia bercerita tentang kegundahan Nabi Muhammad atas sedikitnya umat Islam yang masuk surga. Bersama Malaikat Jibril, Nabi Muhammad kemudian menyelidiki musabab tersebut dengan turun ke Jakarta. Dan, wajarlah karena di ibu kota republik itu, berserak botol alkohol. Perzinahan di mana-mana. Umat Islam juga bertikai dengan sesamanya.

Akibat cerpen ini, umat Islam marah. Kantor majalah Sastra dirusak. Hans Bague Jassin yang menjadi penyunting pun diajukan ke pengadilan untuk menerima hukuman satu tahun bui dan dua tahun hukuman percobaan. Sedangkan Ki Pandji Kusmin lolos dari jeruji besi.

Agustus 2017. Ki Pandji Kusmin sudah hilang entah ke mana. Tapi, tuduhan penistaan agama tetap saja ada. Bedanya, kali ini tuduhan lahir bukan lantaran karya sastra, melainkan karena ucapan seorang politisi dan calon gubernur DKI Jakarta, kota yang menjadi setting dalam cerpen Ki Pandji Kusmin.

HB Jassin bisa saja tidak masuk dalam daftar penista agama dan dipenjara kalau saja ia mau menyebut nama asli Ki Pandji Kusmin. Namun, keteguhannya dalam kesusastraan mengatakan tidak. Ia lebih memilih  membela karya sastra meski harga yang harus dibayar adalah penjara. Begitulah HB Jassin, Pengarang, Penyunting, dan Kritikus Sastra yang lahir di Gorontalo, Sulawesi Utara, 13 Juli 1917.

Agustus 1963. Bersama sejumlah tokoh, HB Jassin membuat Manifesto Kebudayaan atau Manikebu yang menentang Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Akibatnya, ia dipecat dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Pemecatan ini baru berakhir setelah PKI dinyatakan sebagai partai terlarang. Jauh Sebelumnya, pada tahun 1956 HB Jassin juga terlibat kontroversi setelah membela Chairil Anwar dari tuduhan plagiarisme.  
 
Hidup HB Jassin seeprtinya hanya untuk kesusastraan. Sembari mengajar dan kuliah, ia juga bekerja di Lembaga Bahasa dan Budaya, yang dulu masuk dalam Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. HB Jassin juga rajin menerjemahkan karya sastra asing seperti Marx Havelaar karya Multatuli. Alhasil, berbagai penghargaan diraih HB Jassin baik dari pemerintah Indonesia maupun pemerintah luar negeri seperti Belanda dan Australia.

Besarnya pengaruh HB Jassin membuat sastrawan Gajus Siagian menjulukinya “Paus Sastra Indonesia”. Sebuah gelar yang disematkan kepada HB Jassin karena tangan dinginnya dalam membaca sastra dan mengorbitkan sastrawan muda.

Genap 100 tahun dari kelahiran HB Jassin, Komunitas Sastra Lereng Merapi menggelar Malam Sastra HB Jassin :  

Hari/Tanggal     : Minggu/ 10 September 2017
Waktu        : Pukul 19:00 WIB
Tempat        : Oemah Petruk, Karangkletak, Hargobinangun, Pakem, Sleman

BERITA REKOMENDASI