Alquran sebagai ‘Mau‘izhah’

Adapun metode pengajaran yang terdapat di dalam Alquran itu bervariasi dan bertahap dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya. Sebagai contoh, dalam hal salat wajib, yang ditetapkan setelah Rasulullah Saw melakukan Israk dan Mikraj kira-kira satu tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah, Alquran memulai dengan deskripsi dan perintah shalat secara halus. Hal ini terdapat pada QS 4:13: “ … Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.” Pada tahap berikutnya, Alquran dalam banyak ayat memerintahkan umat Islam secara lebih tegas untuk melaksanakan salat dengan sebaik-baiknya. Sebagai misal, QS 2:238 memerintah mereka untuk ‘menjaga/memelihara semua salat dan salat wustha (pertengahan)’. Istiqamah dalam menegakkan shalat itu merupakan salah satu ciri orang beriman (misal, Q.S. 2:3) dan bermalas-malasan dalam mekasanakannya merupakan salah satu ciri orang munafiq (Q.S. 4:142).

Untuk lebih meyakinkan umat Islam, Alquran pada tahapan berikutnya menyampaikan bahwa salat itu sangat bermanfaat bagi pembentukan karakter umat. Q.S. 29:45, misalnya, menyebutkan bahwa salat dapat mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar. Pada tahap terakhir, Alquran memberikan ‘peringatan’ keras bahwa orang yang meninggalkan salat dengan sengaja akan terlebih dahulu mengalami siksaan api neraka. Dari contoh tersebut di atas, kita dapat memahami bahwa Alquran mendidik dan memberikan pengajaran/nasehat kepada umat manusia secara intensif dengan metode yang variatif dan bijak. Intensitas dan sikap bijak dalam memberikan pendidikan kepada umat perlu kita implementasikan dalam berbagai aspek kehidupan.

Dr Phil Sahiron Syamsuddin
Plt Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (**)

BERITA REKOMENDASI