Akhir Pandemi

Prof Dr Hari Kusnanto
Penulis adalah Gurubesar Epidemiologi, Departemen Kedokteran Keluarga dan Kedokteran Komunitas (FKKMK) UGM)

PANDEMI Covid-19 merupakan bencana yang akan dapat kita atasi. Pertanyaannya, kapan itu terjadi? Menurut pemodelan matematika yang sarat asumsi, awal Juni mungkin kita sudah dapat bangkit dari pandemi. Tentu dengan tetap menjaga jarak dan rajin cuci tangan dengan sabun atau menggunakan alkohol.

Para pengusaha menyatakan bahwa lewat bulan Juni mereka sudah ambruk kalau produksi barang dan jasa masih stagnan. Tentu lebih berat lagi mereka yang bekerja di sektor nonformal. Presiden Jokowi berharap pandemi berakhir di pengujung tahun 2020. Bagaimana pandemi atau epidemi penyakit serupa pada masa lalu?

Sebut saja pandemi influenza (Spanish Flu) di tahun 1918-1920 yang diperkirakan menimpa sepertiga penduduk dunia. Kematian mencapai lebih dari 2 juta di Jawa. Flu Spanyol disebabkan oleh H1N1 (keluarga Orthomyxoviridae), berbeda dengan koronavirus (keluarga Coronaviridae) penyebab Covid-19.

Di tengah berkecamuknya pandemi Flu Spanyol, ilmuwan AS terkenal Victor Vaughan mengakui bahwa pengetahuan para dokter pada waktu itu tentang pandemi flu yang tengah memuncak, tidak lebih baik dari pengetahuan para dokter pada awal Renaisans tentang wabah sampar. Bencana yang menelan korban meninggal lebih dari sepertiga penduduk Eropa abad 14.

Ilmu pengetahuan tentang virus pada tahun 2020 sudah berkembang jauh lebih maju dari seabad lalu di era Flu Spanyol. Tanggal 11 Januari 2020, laboratorium di Shanghai mempublikasikan sekuens virus Korona penyebab Covid-19. Pada wabah SARS 2002-2003 dibutuhkan 3 bulan untuk menemukan sekuens virus Korona yang dilaporkan ilmuwan Kanada.

Terlepas dari kemajuan biomolekuler virus, tidak banyak perbedaan bagaimana mengatasi penyebaran Covid19 dibandingkan seabad lalu. Ketika orang menutup sekolah dan aktivitas publik, memakai masker, menjaga jarak dan tidak meludah sembarangan agar terhindar dari Flu Spanyol.

Epidemi SARS yang disebabkan Korona virus 2003 hanya dalam beberapa bulan dapat dihentikan dengan cara-cara klasik meliputi karantina, isolasi, penelusuran kontak, dan lain-lain. Kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengendalikan SARS menjadi acuan pengendalian epidemi.

Berbeda dengan Covid-19, penyakit SARS menimbulkan gejala lebih parah dan tingkat kematian lebih tinggi (16% fatalitas kasus di luar China), sehingga deteksi dini dan pencegahan penularan lebih efektif. Setelah pandemi SARS berhenti, tidak lagi terjadi penularan kecuali insiden di laboratorium.

MERS-CoV yang dilaporkan pertama kali di Saudi Arabia pada tahun 2012, dinyatakan oleh WHO tidak mudah menular dari orang ke orang. Penyakit infeksi virus Korona yang ditularkan onta tersebut meliputi demam, batuk dan sesak napas, dengan tingkat fatalitas yang tinggi, sekitar 35%.

Setelah menimbulkan banyak korban di Korea Selatan pada tahun 2015 melalui penularan di fasilitas layanan kesehatan, penularan penyakit MERS-CoV sudah semakin menurun. Pola epidemiologi Covid-19 sering disejajarkan dengan Flu Spanyol walaupun virusnya tidak sejenis, dengan rata-rata tingkat fatalitas yang mirip, sekitar 2,5%. Apakah Covid-19 akan berlanjut menjadi penyakit yang lebih lunak, tetapi menular secara periodik seperti Flu Spanyol?

Bila demikian, pengembangan vaksin yang mungkin baru selesai uji klinik tahun depan menjadi senjata utama, seperti vaksin flu yang sekarang digunakan untuk mencegah infeksi H1N1. Sementara itu, pemeriksaan diagnostik virus, isolasi kasus positif, penelusuran kontak, perilaku jaga jarak dan hygiene, dapat mempercepat penurunan jumlah kasus yang terinfeksi, mengikuti pencapaian China, Korea Selatan dan Taiwan. Sehingga masyarakat segera dapat beraktivitas tanpa pembatasan ketat. (Artikel ini dimuat di Kolom Analisis KR, Jumat 15 Mei 2020)

 

BERITA REKOMENDASI

Mudik Virtual

22 Mei 2020

Pasar Rakyat

18 Mei 2020

Digitalisasi Buku

16 Mei 2020

Kerja Sama

14 Mei 2020

Era New Normal

12 Mei 2020

Pandeminomics

9 Mei 2020