Bencana Lingkungan

Editor: Ivan Aditya

POSISI Indonesia merupakan jamrud katulistiwa dengan limpahan kekayaan alam semestanya. Namun demikian Indonesia juga terletak di pusat bencana dunia karena merupakan jalur deretan ribuan gunung vulkanik dunia ring of fire yang merupakan pusat gempa vulkanik. Juga di tengah 3 patahan raksasa bumi yang terdiri atas lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik yang menjadi pusat gempa tektonik. Serta terletak di antara Samudra Hindia dan Pasifik yang menjadi pusat pertumbuhan bibit badai siklon tropika. Setidaknya ada 2 siklon tropis terbentuk dalam seminggu lalu, dan Gunung Agung Bali sedang erupsi sehingga menjadi bencana yang tak dapat dielakkan.

Perubahan iklim global juga melanda Indonesia dengan kenaikan suhu berkisar sampai 1,44 derajat celcius. Perubahan iklim juga ditandai kekacauan pola iklim di tanah air. Ditandai dengan meningkatnya frekuensi dan kekuatan siklon tropis, yang sebelumnya tidak melanda Indonesia. Curah hujan selama sebulan bisa dicurahkan ke bumi hanya dalam beberapa jam saja. Ekor badai tropis yang semakin menguat, kini bisa mencapai Indonesia, ikut memporak porandakan permukaan bumi kita.

Puncak musim hujan baru akan terjadi pada bulan Januari-Februari mendatang, namun pada bulan November dan Desember ini telah terjadi bencana badai, petir, banjir dan longsor di banyak tempat. Diperkirakan akan banyak bencana lingkungan terjadi dengan semakin lebatnya curah hujan dan badai tropis.

Dampak dahsyat pemanasan global bumi menurut Deutsche Welle dari Jerman adalah badai dan petir semakin intensif. Juga gunung es yang menyumbat samudera, aktivitas vulkanik meningkat, gurun makin gersang dan meluas, turbulensi udara makin hebat, laut menjadi keruh dan pekat. Kemudian manusia menjadi lebih mudah stress, kasus alergi makin parah, evolusi binatang menjadi kerdil, dan penyebaran benih oleh binatang menjadi terhambat.

Deutsche Welle juga menyebutkan bahwa Indonesia akan didera gelombang panas mematikan, karena perubahan iklim akan meningkatkan potensi gelombang panas mematikan. Indonesia diyakini bakal menghadapi lebih dari 300 gelombang panas setiap tahun. Nasib serupa akan dialami Filipina, Brazil, Venezuela, Sri Lanka, India, Australia dan Nigeria.

Dengan temperatur dan kelembaban tinggi, hanya butuh sedikit pemanasan untuk mengubah cuaca menjadi mematikan. Populasi yang akan terkena dampak gelombang panas akan mencapai 50% pada 2100. Saat ini pun sudah sekitar 30% penduduk bumi mengalami gelombang panas minimal sekali dalam setahun. Sejak awal abad 21, gelombang panas telah menelan banyak korban jiwa. Musim panas 2003 silam misalnya menewaskan sekitar 70.000 orang di seluruh dunia. Kawasan tropis seperti Asia Tenggara akan mendapat dampak terburuk gelombang panas dengan jumlah ‘hari mematikan’ dalam setahun jauh lebih banyak. Jika cuacanya terlalu panas dan lembab, panas dari dalam tubuh tidak bisa keluar. Ini memicu kondisi yang disebut ‘sitotoksin panas’ yang merusak organ tubuh. Seperti terbakar matahari, tapi di dalam tubuh.

Kodrat alam semesta telah kehilangan keseimbangannya karena adanya tekanan eksternal dan internal. Eksploitasi yang melebihi daya dukungnya hingga mencapai 1,7 kemampuannya, telah mengakibatkan bumi semakin tak berdaya untuk terus melayani lingkungan dan kehidupan yang bermartabat dan berkelanjutan bagi penghuninya. Perlu disadari, bahwa bumi kita tak hanya mempunyai daya dukung yang terbatas, tetapi juga terus menyusut, sedangkan tekanan justru terus membesar.

Bencana lingkungan semakin sering terjadi setiap saat dan cepat, mengakibatkan kerugian material bahkan nyawa manusia. Menjadi tanggung jawab kita semua yang harus dikontribusikan secara nyata dalam merawat dan menyelamatkan bumi seisinya. Kita harus menyiapkan diri agar siap siaga agar tangguh, tanggap, tanggon, trengginas menghadapi bencana lingkungan yang semakin nyata hadir dan menjadi kenyataan yang menyakitkan. Dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan komunitas di sekitar kita. Kesiapsiagaan diri dan lingkungan diharapkan pada akhirnya mampu untuk mengantisipasi ancaman bencana dan meminimalkan korban jiwa, korban luka, maupun kerusakan infrastruktur. Demi kepentingan seluruh makluk hidup dalam jagad bumi biru yang bermartabat secara berkelanjutan.

(Cahyo Agus. Pakar lingkungan, Guru Besar UGM Yogyakarta.  Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 5 Desember 2017)

BERITA REKOMENDASI