Didi Adalah Kita

Aris Setiawan
Penulis adalah Etnomusikolog, Pengajar di ISI Surakarta

DIDI Kempot menghancurkan sebuah mitos. Bahwa kita hidup di sebuah zaman dengan generasi yang bernama milenial. Sebuah generasi yang konon lebih mengandalkan logika, ketepatan, keringkasan, efektivitas, kecepatan waktu dan tak memberi tempat sedikitpun untuk urusan perasaan apalagi masalah remeh temeh seperti asmara dan cinta-cintaan.

Karena itu, narasi-narasi yang dimunculkan selalu seputar kesuksesan berbisnis, ekonomi, politik dan temuan-temuan baru yang membanggakan. Tapi kita melupakan satu hal, bahwa mereka adalah generasi mutakhir yang juga butuh kasih sayang. Butuh merasakan sakitnya luka karena putus cinta.

Di titik itulah lagu-lagu Didi Kempot menemukan momentumnya. Putus cinta atau ditinggal kekasih adalah tragedi menyakitkan tapi juga memalukan. Sebisa mungkin dipendam jauh di relung hati,tak layak diungkap karena berbuah cibiran. Tetapi Didi Kempot mendekonstruksi itu semua.

Lewat lagunya, putus cinta adalah bagian tadarus kehidupan yang indah untuk dibagikan dan dimaknai. Ada kerelaan untuk melepaskan, ada keikhlasan untuk menerima keadaan. Sebagaimana sajak Chairil Anwar, bahwa ‘hidup hanyalah menunda kekalahan’.

Bukankah lagu Didi Kempot menyiratkan sebuah pesan penting serupa bahwa; ‘kita semua akan ambyar pada saatnya’. Di sinilah keunggulan karya-karya Didi Kempot. Ia berhasil memotret sebuah kisah yang hampir mustahil untuk tidak dialami oleh segenap manusia, drama asmara.

Lagu-lagunya berlirik kesedihan. Ia mempertontonkan dengan vulgar bahwa air mata tidak hanya milik kuasa kaum hawa yang identik dengan slogan ‘wanita dijajah pria’yang diakhiri ‘menangis karena tersakiti’. Laki-laki pun sejatinya tak ada bedanya.

Didi Kempot, maestro yang tidak hanya berhasil mengolah lirik menggoda tetapi juga monumen pengekalan tentang duka lara. Ia menjadi The Godfather of Broken Heart, sebuah julukan yang menandakan bahwa kepedihan sudah selayaknya dikekalkan. Dan Didi Kempot adalah muara atau pusat akan hal itu.

Bila monumen, patung dan julukan serta gelar selalu disematkan dengan dalih pengingatan atas kemenangan, kegagahan, kekuatan dan keagungan, maka Didi Kempot sebaliknya. Didi, lewat julukan itu menyadarkan bahwa selama ini kita terlalu pongah dan jumawa atas hal-hal yang menyangkut kehidupan.

Ukuran-ukuran ideal selalu ditentukan lewat kebahagiaan, tawa dan sukacita. Tapi kita melupakan bahwa manusia adalah tubuh yang sejatinya sarat akan luka, tangis dan air mata. Karena itu lord Didi (begitulah dia disebut), seolah mampu menjadi raja dengan segenap rakyatnya yang kompak luka, sakit dan susah karena asmara.

Didi menjadi monumen. Tempat di mana segala kenangan atas kesedihan dapat kita rayakan lewat lirik-liriknya. Musik yang selama ini dinikmati sebagai sebuah bunyi, menyumblim, berpendar melintas batas-batas diktumnya.

Mendengarkan lagu Didi Kempot tidak semata menikmati nada, tapi juga ikhtiar dalam laku sembuh atas sakit, sebagaimana umpamane kowe uwis mulya, lila aku lila dalam lirik lagu Sewu Kutho.

Bahasa tak mampu menjadi pembatas. Lirik-lirik lagunya dinikmati oleh orang yang tak mengerti bahasa Jawa sekalipun. Dalam konteks inilah yang berperan adalah sisi estetika musik, susunan bunyi dan kekuatan alur melodinya. Terlebih sejak upaya merestorasi lagu-lagu lawas Didi dikolaborasi dengan musik lain yang lebih dinamis semacam dangdut koplo. Semakin menegaskan bila kesedihan tak dilarang sambil bergoyang.

Pentas-pentas Didi Kempot selalu penuh sesak penonton, dihadiri lintasgenerasi. Hal itu menandakan bahwa Didi adalah simpul pengikat, menjadi ruang pertemuan berbagai lapis sosial yang selama ini berjarak karena berbagai hal dan persoalan. Kini ia pergi untuk selamanya (5/5/20) pada usia yang relatif muda, 53 tahun. Ia pergi sebagai pemenang. Saat berada di puncak.

Di mana dalam rentang waktu itu tak seorangpun yang sanggup mengalahkannya. Ialah sang juara. Bermusik untuk merangkul manusiamanusia yang kalah dari pertarungan cinta. Didi Kempot, sang maestro itu, namanya akan selalu abadi. Mengajarkan pada kita arti sebuah kemalangan. Karena Didi adalah Kita. Selamat jalan Didi Kempot.

BERITA REKOMENDASI