Era New Normal

Dr Wing Wahyu W
Penulis adalah Dosen STIE YKPN Yogyakarta dan Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta

GEGARA wabah Korona, kehidupan berubah drastis. Lebih dari 200 negara harus menyesuaikan diri agar tidak terimbas pandemi global ini. Penyesuaian diri ini tidak direncanakan secara matang, karena virus datang dan menyebar dengan tiba-tiba. Sontak seluruh dunia mengambil tindakan.

Sesuatu yang dulu sudah dijalankan masyarakat luas, tiba-tiba berubah. Mungkin masih ingat. Tahun 1980-an dulu, kalau ada teman menikah, para undangan membawakan kado yang berupa peralatan rumah tangga, perlengkapan kamar, album foto. Waktu itu, menyumbang dalam bentuk uang dianggap kurang sopan. Sejalan dengan perkembangan zaman, kini para undangan menyumbang dalam bentuk uang. Itu salah satu contoh new normal.

Dalam dunia bisnis, dulu hanya beberapa restoran saja yang melayani pesan antar (delivery), itupun hanya restoran-restoran asal Amerika. Dulu kalau kita ingin makan sesuatu harus datang ke restoran yang dituju. Kini, semua cukup sentuh ponsel, makanan akan datang sendiri, bisa di mana saja tempat kita menunggu.

Hal itu dimungkinkan karena ada aplikasi, jaringan Internet dan alat pembayaran yang juga mendukung. Sekarang tidak hanya makanan dari restoran besar yang dapat kita nikmati dari rumah, tetapi gudeg, pecel, atau makanan tradisional lainnya mudah kita pesan.

Jual beli barang juga dapat dilakukan oleh siapa saja, asal ada alamat yang jelas. Anda ingin membeli barang, banyak aplikasi yang tersedia. Dunia perbankan juga sudah mengalami new normal, yaitu dengan adanya aplikasi mobile banking.

Nasabah tidak perlu lagi ke bank, bahkan ke ATM, untuk menyelesaikan transaksinya. Dunia pendidikan dapat kita lihat dua kelompok. Kelompok pertama, pendidikan dasar dan menengah dari SD-SMP-SMU, sepertinya sudah lebih siap dibanding kelompok pendidikan tinggi. Karena mereka terbantu aplikasi pembelajaran yang sudah lebih dulu ada sebelum datangnya pandemi Covid-19, misalnya ada Ruang Guru, Rumah Belajar, Kelas Pintar dan sebagainya.

Sudah banyak materi ajar dengan tutorial berbasis video yang dapat dilihat dan dipelajari siswa kapan pun mereka mau. Tapi berbeda dengan dunia perguruan tinggi. Mereka sepertinya tidak begitu siap dengan perubahan mendadak ini. Aplikasi pembelajaran belum ada, meskipun bebeberapa perguruan tinggi besar sudah menyiapkan aplikasi elearning seperti Moodle, Atutor, dan Google Suite for Education, tetapi belum betul-betul siap pakai.

Sudah ada kampus yang menyelenggarakan kuliah secara daring, namun hanya mengganti pertemuan dosen-mahasiswa yang tadinya di kelas, tetapi materi ajar masih banyak yang berbasis paparan Powerpoint. Kalau toh ada video pembelajaran, kebanyakan diambil dari podcast atau YouTube.

Penggunaan buku teks masih terbatas hanya penghias di silabus saja. Ketika kuliah di kelas, hanya sebagian kecil mahasiswa yang membawa buku, bahkan dosennya pun tidak selalu membawa buku, karena mungkin sudah hafal juga isinya. Masalah yang masih belum diketahui jawabnya adalah: setelah masa pandemi ini berakhir, akankah dunia pendidikan tinggi memasuki masa new normal dengan adanya perubahan dan inovasi baru? Atau masih nyaman dengan tatap muka di kelas seperti yang sudah-sudah? (Artikel ini dimuat di kolom Analisis KR, Selasa,12 Mei 2020)

BERITA REKOMENDASI

Mudik Virtual

22 Mei 2020

Pasar Rakyat

18 Mei 2020

Digitalisasi Buku

16 Mei 2020

Akhir Pandemi

15 Mei 2020

Kerja Sama

14 Mei 2020

Pandeminomics

9 Mei 2020