Guyon Kemanusiaan

ADA yang menarik di tengah ketegangan yang dirasakan publik sebagai akibat terus meningkatnya penularan Covid-19. Ada sebagian di antara mereka yang mencoba menuliskan kalimat-kalimat guyon di laman media sosial seperti: ‘Corona negatif istri positif’. ‘Jalan ini ditutup kalau kangen WA aja ya’. ‘Ternyata corona tidak menyeramkan’ (dengan gambar wanita cantik dengan nametag Corona).

Juga masih banyak puluhan tulisan lucu lainnya yang tertulis di gang-gang masuk desa seperti: ‘Jalan di look down’. ‘Maaf jalan baru di down load’. Atau ‘lock down bro rasah ngeyel’. Kehadiran kalimat atau tulisan guyon tersebut pada satu sisi menjadi penanda bahwa publik tidak ingin terlalu larut dalam ketegangan psikologis yang justru akan melemahkan imunitas diri.

Kepekaan sosial secara simbolik dihadirkan melalui tulisantulisan yang meskipun lucu namun mampu membangun sisi kemanusiaan. Secara komunal juga mampu menstimulan publik untuk tidak terlalu khawatir namun juga jangan sampai abai.

Pola komunikasi seperti ini yang harus terus dibangun. Karena secara sosiologis tipologi masyarakat kita menganut pola interaksi kekerabatan atau komunal dimana social bonding yang terjalin cukup kuat. Baik dilatarbelakangi garis keturunan, spesialisasi pekerjaan, hobi, teman sepermainan, teman kantor, interaksi sosial dalam satu komunitas atau wilayah, dan lain-lain.

BERITA REKOMENDASI

Mudik Virtual

22 Mei 2020

Pasar Rakyat

18 Mei 2020

Digitalisasi Buku

16 Mei 2020

Akhir Pandemi

15 Mei 2020

Kerja Sama

14 Mei 2020

Era New Normal

12 Mei 2020