Kampung Istimewa

Dr Haryadi Baskoro
Penulis adalah pakar keistimewaan Yogya

SEJAK pandemi covid-19 memaksa masyarakat untuk berjaga jarak dan tinggal di rumah saja, suasana kampung pun berubah. Jalan masuk dan gang-gang diblokir. Yang terasa memprihatinkan adalah merebaknya pajangan tulisan-tulisan yang tidak ramah dan tidak santun seperti ’lock down atau smackdown’, ‘keno korona mati radilayati’, ‘wani ngeyel, baku hantam’.

Orang Yogya dikenal suka bercanda dengan ‘candaan rakyat’ (gojek kere). Artinya, kalimat-kalimat yang ketika dibaca sekilas terkesan intimidatif itu, mungkin dikreasi bukan dengan maksud negatif. Namun, jika orang luar mengamatinya baik secara langsung maupun lewat media termasuk medsos, tulisan-tulisan itu jelas merusak city branding Yogya. Apalagi ditulis dengan coretan-coretan yang sama sekali tidak estetik, terpajang asal-asalan. Budayawan, Sumbo Tinarbuko pasti mengkategorikannya sebagah sampah visual.

Itulah sebabnya pemerintah Yogya mengelola pandemi ini secara komprehensif. Bukan hanya dengan pendekatan teknis tetapi pendekatan kultural. Sultan HB X sebagai Raja sekaligus Gubernur DIY nampak menekankan perpaduan kedua pendekatan ini. Dalam sapa aruh yang beberapa kali beliau sampaikan, Sultan berbicara banyak tentang keutamaan nilai-nilai luhur.

Semestinya, di tingkat masyarakat kampung juga diterapkan pendekatan holistik seperti itu. Dan salah satu bentuk pendekatan kultural adalah penggunaan tutur kata yang arif, bijak, dan santun. Secara antropologis, bahasa mendahului kebudayaan, logika bahasa akan membangun nilai, norma, dan perilaku (Nur Syam, 2007).

Jangan meremehkan bahasa. Ada ungkapan ‘bahasa menunjukkan bangsa’ yang berarti bahwa bahasa merepresentasikan kualitas masyarakat. Ada pula ungkapan Jawa ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana yang berarti bahwa bahasa itu cermin harkat dan martabat manusia. Dalam perspektif antropologi strukturalisme, kebudayaan merupakan produk dari aktivitas nalar manusia dalam hal mana aktivitas nalar manusia itu memiliki kesejajaran dengan bahasa (Nur Syam, 2007).

Vandalisme dalam berbahasa merupakan indikator kebobrokan budaya. Dalam interaksi digital modern hal itu sudah jelas. Merebaknya ujaran kebencian, kabar bohong, perundungan, cyber radicalism dan cyber terrorism merupakan indikator kebobrokan masyarakat. Konflik sosial dan perang fisik senantiasa dipicu dan dimulai dari provokasi kebahasaan.

Kampung-kampung adalah basis sejarah kebudayaan dalam Keistimewaan Yogya. Sistem kampung di bawah Kasultanan dan Kadipaten Pakualaman sudah ada sejak zaman kolonialisme. Di masa pendudukan Jepang, Kasultanan Yogya melakukan reorganisasi sistem pemerintahan (reorganisasi pangreh praja) pada April 1945.

Dalam reorganiasi itu, kawedanan (distrik) dihapus. Setiap kabupaten langsung dibagi menjadi beberapa asistenan dan dinamakan kapanewon yang dipimpin oleh panewu pangreh praja. Kawedanan dan asistenan yang berada di dalam Kabupaten Kota Yogyakarta dihapus.

BERITA REKOMENDASI

Mudik Virtual

22 Mei 2020

Pasar Rakyat

18 Mei 2020

Digitalisasi Buku

16 Mei 2020

Akhir Pandemi

15 Mei 2020

Kerja Sama

14 Mei 2020

Era New Normal

12 Mei 2020