Kembalinya Pendidikan Keluarga

Ki Supriyoko
(Direktur Pascasarjana Pendidikan UST Yogyakarta dan Wakil Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa)

PERINGATAN Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2020 kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hardiknas kali ini harus diperingati dalam suasana belajar, bekerja dan beribadah dari rumah. Tidak ada lagi tatap muka di sekolah, di kampus, atau tempat-tempat lain untuk berinteraksi langsung antarsiswa, antarguru, serta antara siswa dan guru.

Ratusan ribu bahkan jutaan siswa dan guru harus ‘dirumahkan’, dalam konotasi yang tidak negatif. Mereka harus belajar dan bekerja dari rumah masing-masing. Memang guru dan siswa masih menjalin komunikasi pembelajaran secara online menggunakan berbagai media; misalnya saja Email, Zoom, WhatsApp, Video Call, Google Meeting, Google Classroom, Webex dan lainnya. Namun ini semua tidak berlaku bagi siswa dan guru yang tinggal di daerah remote atau daerah yang tidak bersinyal (kuat).

Di balik semua itu ada sesuatu yang harus kita syukuri bersama, yaitu berkumpulnya orangtua dengan anak sepanjang hari. Selama ini banyak orangtua jarang bertemu dengan anak, sekaranglah saatnya. Selama ini banyak orangtua dan anak hanya bertemu malam hari menjelang tidur, sekaranglah saatnya.

Kalau anak harus belajar di rumah dan orangtua harus bekerja dari rumah maka mau tidak mau mereka harus bertemu dan berkomunikasi tatap muka sepanjang hari dalam keluarga. Otomatis berjalanlah suatu konsep pendidikan keluarga yang diaktualisasi oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara.

Dalam bahasa yang sederhana pendidikan keluarga adalah pendidikan yang berlangsung di dalam keluarga dengan orangtua sebagai pendidik utama, dan utamanya sekali adalah ibu. Dengan Teori Tripusat Pendidikan, Ki Hadjar menyatakan bahwa pendidikan itu berlangsung di tiga pusat sekaligus : keluarga, perguruan atau sekolah, dan pergerakan pemuda atau masyarakat.

Pendidikan yang berhasil mensyaratkan adanya koordinasi yang konstruktif antara keluarga, sekolah dan masyarakat. Komite Sekolah yang ada selama ini secara teoretis ingin mewujudkan koordinasi yang konstruktif antara keluarga (orangtua), sekolah (guru dan karyawan) dengan masyarakat (tokoh masyarakat, tokoh agama, dll).

Tentu hal ini sudah benar, namun sayangnya, dalam praktiknya peran keluarga dan masyarakat dalam Komite Sekolah terasa kurang signifikan, terkadang peran sekolah terlalu dominan. Pada dasarnya peran keluarga, sekolah dan masyarakat sama-sama penting, tetapi Ki Hadjar memberi nilai lebih pada pendidikan keluarga.

Dalam Majalah Wasita edisi Mei 1935 secara eksplisit Ki Hadjar menulis : ”Alam keluarga itu adalah suatu tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan sosial juga. Keluarga itulah tempat pendidikan yang lebih sempurna sifat dan wujudnya daripada pusat lainlainnya, untuk melangsungkan pendidikan ke arah kecerdasan budi pekerti (pembentukan watak individuil) dan sebagai persediaan hidup kemasyarakatan”.

Kalau kita mau jujur, pendidikan keluarga yang diaktualisasi oleh Ki Hadjar itu pernah hilang di kalangan masyarakat kita, terutama masyarakat perkotaan yang sibuk dengan masalah keduniawian. Mungkin kita masih ingat, ketika Anies Baswedan menjadi Menteri Pendidikan, beliau setengah mewajibkan orangtua siswa harus mengantar anaknya ke sekolah pada hari pertama bersekolah.

Adapun maksudnya agar para orangtua siswa mengetahui kondisi sekolah anaknya; lebih daripada itu orangtua bisa menjalin komunikasi langsung dengan para guru sebagai pendidik bagi anaknya. Kebijakan Menteri Pendidikan tersebut kiranya juga dilatarbelakangi keprihatinan atas hilangnya pendidikan keluarga.

Sekarang pendidikan keluarga yang pernah hilang tersebut telah kembali. Kita harus memanfaatkan momentum ini dengan sebaik mungkin. Jangan pernah menganggap remeh pendidikan keluarga. Karena justru dari pendidikan keluarga inilah masa depan anak sangat ditentukan.

Siapkah orangtua menjadi pengajar bagi Sang Anak? Siapkah orangtua menjadi pendidik bagi Sang Anak? Siapkah orangtua menjadi teladan bagi Sang Anak?

BERITA REKOMENDASI