Pelajaran dari Difteri

Editor: Ivan Aditya

BEBERAPA minggu terakhir Indonesia dihebohkan wabah penyakit difteri yang banyak diberitakan di media massa. Hingga akhir November Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan status Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di beberapa provinsi di Indonesia. Ironis! Mengingat pada 1990-an, penyakit difteri pernah dinyatakan hilang dari Indonesia. Tapi mengapa di akhir 2017 Indonesia kembali terjangkit penyakit ini yang terjadi hampir merata di seluruh provinsi.

Berdasarkan data World Health Organitation (WHO), jumlah kasus difteri di dunia mengalami peningkatan setiap tahunnya dimulai 2012- 2014. Di antara beberapa negara ASEAN dari tahun 1999-2014 Indonesia menduduki posisi tertinggi jumlah kasus difteri setiap tahunnya. Sedangkan berdasarkan data Kemenkes, hingga November 2017 terdapat 95 kabupaten dari 20 provinsi yang telah melaporkan adanya difteri dengan 593 kasus dan 32 kematian.

Jika melihat riwayat penyakit difteri di Indonesia, sebenarnya KLB yang saat ini terjadi telah dapat diprediksi sejak tahun 2012. Hal ini berdasarkan data tren jumlah kasus difteri yang cenderung meningkat. Puncaknya, tahun 2012 sebanyak 1.192 kasus ditemukan dengan lokasi kejadian terbanyak di Provinsi Jawa Timur (Jatim) sebesar 74%. Sayangnya, data kejadian difteri di Jatim pada tahun 2012 yang lalu kurang mendapat perhatian khusus, baik dari pemerintah maupun masyarakat hingga akhirnya penyakit ini kembali mewabah di Indonesia.

Difteri sendiri termasuk ke dalam kelompok penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (D3I). Karenanya sebagai solusi KLB difteri, pemerintah mencanangkan imunisasi ORI (Outbreak Renponse Imunisasion). ORI merupakan imunisasi tambahan tanpa memandang riwayat imunisasi sebelumnya di mana mekanisme imunisasi ORI diberikan dengan cara jika seorang terjangkit penyakit difteri maka semua orang di desa tersebut harus diimunisasi tanpa kecuali.

Diharapkan dengan adanya program ORI tersebut dapat membentuk suatu kekebalan lingkungan di masyarakat. Dalam imunisasi sendiri dikenal istilah herd immunity atau kekebalan lingkungan, yang merupakan situasi di mana sebagian besar masyarakat terlindungi/kebal terhadap penyakit tertentu, sehingga menimbulkan dampak tidak langsung yaitu turut terlindunginya kelompok masyarakat yang bukan merupakan sasaran imunisasi dari penyakit yang bersangkutan.

Namun, persyaratan terbentuknya suatu “herd immunity” atau kekebalan lingkungan adalah cakupan vaksinasi yang minimal 95%. Sehingga apabila kelompok yang rentan terkena suatu penyakit seperti bayi dan balita terlindungi melalui imunisasi, maka penularan penyakit di masyarakat pun akan terkendali.

Kejadian di pengujung tahun ini hendaknya menjadi pembelajaran bagi kita bersama untuk lebih memiliki rasa toleransi dalam bermasyarakat. Keegoisan beberapa pihak yang enggan untuk melakukan vaksinasi pada anak sudah berhasil merugikan banyak pihak bahkan sampai menimbulkan korban nyawa.

Selain itu, pemerintah juga harus berintrospeksi diri, karena program imunisasi yang dinyatakan telah mencapai bahkan melebihi target dalam kenyataannya masih menimbulkan wabah penyakit di laangan. Cukuplah korban yang jatuh hingga saat ini menjadi menjadi tamparan keras bagi kita semua. Tidak ada cara lain dalam memberantas difteri selain Imunisasi..Imunisasi..dan Imunisasi! Jangan lupa imunisasi merupakan hak dasar setiap anak.

(drg Citra Yulianti SKG. Kepala Sub Bagian Penyiapan Monev Jaminan Kesehatan Sekretariat Dewan Jaminan Sosial Nasional, Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 15 Desember 2017)

BERITA REKOMENDASI