Perang Tagar

Editor: Ivan Aditya

SEJATINYA, tagar atau hastag diciptakan sebagai simbolisasi tanda pagar atas pengelompokan kata atau frasa yang digunakan di medsos. Wikipedia Indonesia menjelaskan tagar sebagai lakuran dari kata tag dan pagar. ”Tanda tagar adalah tanda pagar (simbol #). Diletakkan di awal kata atau frasa. Diterakan pada jejaring sosial. Ini adalah bentuk metadata tag,” tulis Wikipedia Indonesia di lamannya.

Perang tagar diproklamirkan menjadi bahasa baru dalam kampanye politik. Di tahun politik jelang pilkada serentak, tim sukses kampanye politik meyakini perang tagar menjadi model kampanye anyar di zaman now. Legalitas sosial atas perang tagar menjadi jejak digital saat berlangsung pilkada DKI Jakarta.

Di sudut lainnya, perang tagar merupakan perwujudan perang asimetris yang sangat disukai kaum nyinyirisme untuk mengalahkan lawan. Mereka melakukan kekerasan simbolik dengan memanfaatkan bom tagar yang diledakkan di medsos.

Fenomena perang tagar sebagai modus kampanye politik model anyar mensyaratkan aspek kesederhanaan komunikasi verbal dan visual. Biaya sosial yang harus ditanggung pun menjadi sangat murah. Sistem kerja perang tagar dijalankan bagaikan menggunakan bahasa mesin. Sekali share, semua peluru kata atau frasa yang terangkum dalam tagar dapat ditembakkan sekaligus ke segala penjuru dunia medsos.

Secara simbolik, perang tagar dalam konteks kampaye politik dihadirkan sebagai penanda konteks atas pesan verbal-visual yang dilemparkan melalui medsos. Dalam waktu bersamaan, sang sutradara perang tagar ingin mengemas komunikasi politik hasil racikan tim sukses. Pada titik ini, lewat perang tagar, tim sukses dari seseorang yang berburu kursi kekuasaan sedang mempersenjatai dirinya untuk menghimpun dukungan massa. Dalam kampanye politik model anyar, perang tagar sengaja dihadirkan guna menciptakan pesan dan janji politik yang gampang diviralkan.

Dengan melibatkan bahasa politik, sang sutradara perang tagar menghadirkan tagar dalam wujud kata atau frasa yang menarik dan mudah diingat. Hal itu dimitoskan mampu memunculkan daya ganggu visual bagi publik yang diserbu perang tagar. Berikutnya, mereka digendam secara visual agar ikhlas memviralkan pesan tagar tersebut melalui akun medsos yang dimilikinya.

Dalam perspektif budaya visual, wajah lain dari perang tagar menjadi paparan pemetaan pikiran yang berisi curah pendapat atas ide serta gagasan seseorang. Bahkan dalam beberapa kesempatan, perang tagar berhasil memunculkan pengetahuan dan teori baru. Terutama yang berkaitan dengan bahasa dan komunikasi (visual). Artinya, dalam konteks konotasi positif, perang tagar meneguhkan era keterbukaan publik. Sebuah masa berciri mengedepankan keterbukaan informasi yang dapat diunggah publik secara bermartabat.

Jujur harus diakui, perang tagar menjadi representasi ruang publik baru di jagat maya medsos. Perang tagar mampu mendisrupsi perubahan demi perubahan secara pararel. Keberadaannya pun disetel dalam kendali gelombang frekuensi viral yang membahana di jagat raya. Perang tagar berhasil memunculkan interpretasi sosial baru yang mewakili jejak digital rupa wajah pelaku perang tagar. Ia bagaikan sosok Dasamuka. Dari depan terlihat sederhana, mudah dipahami, menyejukkan, menggembirakan dan menginspirasi. Tampak samping kelihatan garang, rumit, panas, menyakitkan dan membakar emosi. Penampakan visual tersebut, sesungguhnya menggambarkan sifat sosial seseorang. Sosok makhluk sosial yang selalu merindukan lingkungan kehidupan patembayatan dalam ritus interaksi sosial. Peneguhan tersebut merupakan rajutan proses komunikasi sosial dari makhluk sosial yang melibatkan dirinya secara virtual.

Mereka saling melemparkan pesan verbal maupun pesan visual. Entah pesan tersebut bermuatan politik. Bernuansa bisnis, sosial kemasyarakatan dan kebudayaan. Atau sebaliknya, pesan yang diunggah di medsos berupa berita bohong bersifat mengadu domba antarwarganet.

Terlepas pro dan kontra yang ada, sejatinya perang tagar merupakan representasi komunikasi sosial antar makhluk sosial. Kehadirannya menjadi penanda zaman era budaya layar. Sebuah tatanan zaman baru berisi interaksi sosial antar makhluk sosial yang senantiasa merindukan aktivitas berkomunikasi secara egaliter. Sebuah aktivitas komunikasi sosial yang didorong untuk tidak menghasilkan komunikasi berujung pada lubang miskomunikasi.

(Dr Sumbo Tinarbuko. Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 4 Mei 2018)

BERITA REKOMENDASI