Polisi dan Gangguan Mental

Editor: Ivan Aditya

TRAGEDI penembakan dan kasus bunuh diri personel Brimob yang terjadi di Blora Jawa Tengah, kembali menambah panjang daftar aparat penegak hukum yang mengalami gangguan mental. Peristiwa penembakan yang terjadi di proyek Sarana Gas Trembul (SGT-01), PT Pertamina EP, memperlihatkan bahwa memiliki senjata api dan hak menggunakannya, jika tidak dilandasi dengan kesiapan mental yang matang, ternyata dampaknya bisa sangat berbahaya (Kedaulatan Rakyat, 13/10).

Seorang polisi yang tidak memiliki kepribadian yang matang, niscaya godaan untuk tergelincir melakukan tindakan yang agresif menjadi lebih besar. Gara-gara dipicu atau dimotivasi oleh kejengkelan, seorang polisi yang frustrasi, menghadapi tekanan beban tugas berat, kekhawatiran menghadapi ulah penjahat yang makin berbahaya, akhirnya bukan tidak mungkin terdorong melakukan aksi jalan pintas. Menggunakan senjata api dilakukan sebagai bentuk diskresi untuk menjaga keselamatan diri. Sekaligus didorong kejengkelan dan kekhawatiran yang saling tumpang-tindih.

Tugas yang berat dan penuh risiko, tetapi belum juga diimbangi dengan taraf kesejahteraan yang memadai, sering membuat polisi rawan stres, dan bahkan mengalami gangguan mental. Kasus polisi yang membunuh istri dan anaknya, polisi yang bunuh diri, dan lain sebagainya adalah bukti-bukti yang memperlihatkan bahwa ada persoalan psikologis yang perlu ditata kembali. Agar polisi dapat memperlihatkan kinerja yang profesional.

Kevin Howells (2000) menyatakan peristiwa amarah yang menyulut agresi fisik sebetulnya jumlahnya kurang dari 10%. Tetapi, kejengkelan dan amarah yang kemudian diekspresikan dengan tindakan fisik karena dipicu ulah orang lain, jumlahnya mencapai 90% lebih. Jadi, ketika polisi menghadapi objek yang bergerak dan tidak bisa diduga, maka kemungkinan polisi tersebut untuk melakukan tindakan penanganan fisik memang menjadi lebih besar.

Kemungkinan polisi melakukan tindakan agresif, seperti dengan mudah mencabut senjata api dan menembakkannya, jika dilacak ke belakang boleh jadi ada kaitannya dengan perkembangan subkultur kekerasan yang memang menjadi bagian dari kehidupan polisi sejak awal.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa selama menjalani proses pendidikan di lembaga kepolisian, polisi sejak awal telah terbiasa dengan hukuman tempeleng dan main tendang dari para seniornya ketika mereka dinilai telah melanggar disiplin. Para siswa atau taruna polisi, umumnya telah terbiasa menjalani proses pendidikan dengan sanksi hukuman fisik seperti itu, sehingga ketika mereka lulus dan menjalankan tugas di masyarakat, kemungkinan untuk mengembangkan watak yang keras menjadi sangat terbuka.

Subkultur yang terbiasa dengan kekerasan, dan kemudian ditambah lagi karena faktor kepribadian yang kurang matang, dan juga tekanan beban kerja yang berat, semuanya secara akumulatif akan mempengaruhi cara polisi menampilkan dirinya. Bagi polisi yang memiliki kepribadian yang rapuh, bukan tidak mungkin mereka akan stres dan bahkan mengalami mental disorder. Bagi polisi yang kuat tetapi ketika kebablasan, maka yang muncul kemudian adalah polisi-polisi koboi yang dengan mudah mempergunakan senjata api meski situasi belum dipastikan.

Untuk memastikan agar kasus polisi salah tembak tidak kembali terulang, yang dibutuhkan bukan hanya tes psikologis dan membangun kematangan emosi polisi. Tidak kalah penting adalah bagaimana mendekonstruksi dan kemudian merekonstruksi mentalitas polisi agar lebih bijak menyikapi tugas dan kewenangannya.

Di Jakarta, beberapa waktu lalu sikap yang diperlihatkan Aiptu Sutisna yang tetap sabar meski dimaki-maki dan dicakar pegawai MA adalah salah satu contoh bagaimana seharusnya polisi membangun karakternya. Tentu hal ini tidak mudah.

Sebagai manusia polisi juga berhak melindungi diri dan mengkalkulasi risiko keselamatan dirinya menghadapi ulah penjahat yang makin lama makin sadis dan berani. Stabilitas emosi yang kuat semestinya menjadi prasyarat bagi polisi sebelum menjalankan tugas sehari-hari yang penuh risiko. Berbeda dengan profesi lain di bidang sipil. Menjadi polisi yang diberi otoritas memegang senjata api benar-benar membutuhkan pribadi yang tangguh, tidak mudah stres, dan mampu memainkan peran ganda: Kapan harus bertindak tegas. Dan kapan harus memerankan diri sebagai pelayan masyarakat yang ramah.

(Prof Dr Baging Suyanto. Sosiolog, Dosen Sekolah Pasca Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Airlangga. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 16 Oktober 2017)

BERITA REKOMENDASI