PTS : Merger Tanpa Merger

Editor: Ivan Aditya

SAAT ini Pemerintah melalui Kementerian Ristekdikti menganjurkan agar PTS yang bermasalah untuk melakukan merger atau bergabung dengan PTS lain yang bernasib serupa, atau sukursukur bernasib lebih baik, agar hidupnya menjadi lebih baik. Namun proses merger tentu tidak mudah, karena masing-masing PTS sudah memiliki kultur sendiri yang sudah mendarah-daging selama belasan atau bahkan puluhan tahun dan tiba-tiba harus dipertemukan dengan kultur baru.

Artikel ini tidak akan membahas proses merger secara fisik antarperguruan tinggi, tapi lebih menunjukkan kerja sama antarfakultas dan antarperguruan tinggi. Hal ini berasal dari pengalaman saya ketika kuliah pascasarjana di Amerika Serikat tahun 1992- 1994 dulu. Ketika kuliah di AS, saya mengambil konsentrasi Sistem Informasi Akuntansi dan Keuangan di Fakultas Bisnis Cleveland State University.

Ketika saya kuliah di sana, tidak semua kelas harus saya tempuh di Fakultas Bisnis, karena ada beberapa matakuliah yang diselenggarakan oleh fakultas lain, sehingga saya harus kuliah di fakultas lain. Misalnya, ketika saya harus mengambil kelas Database Management Systems dan Decision Support Systems, saya harus datang ke Fakultas Komputer. Teman sekelas saya pun dari berbagai fakultas, ada dari Fakultas Olahraga, Fakultas Musik, Fakultas Hukum, Fakultas Biologi, dan Fakultas Teknik Arsitektur. Ketika saya harus mengambil matakuliah Hukum Bisnis dan Pajak, saya harus datang ke Fakultas Hukum.

Demikian juga dengan kelas Komunikasi Bisnis, saya harus datang ke Fakultas Bahasa, karena matakuliah tersebut merupakan tanggungjawab Fakultas Bahasa. Lagi-lagi, pesertanya juga mahasiswa dari berbagai fakultas. Demikian juga ketika saya harus menggunakan lab komputer di Fakultas Bisnis yang sering penuh, saya disarankan oleh Pembimbing Akademik saya menggunakan lab komputer di fakultas lain. Cukup menggunakan user id dan password saya, menu yang tampil tetap menu untuk mahasiswa Fakultas Bisnis, meskipun saya masuk di lab Fakultas Hukum atau fakultas lainnya.

Hal ini yang sangat membedakan pendidikan tinggi di AS (dan mungkin juga di berbagai negara maju lainnya) dengan pendidikan tinggi di Indonesia. Sebagai akibatnya, mahasiswa lulusan AS lebih bersifat terbuka untuk bekerja sama dengan lulusan dari berbagai bidang. Sementara itu, di Indonesia sudah sangat terbiasa dengan pagar tinggi yang diterapkan tiap fakultas. Hampir tidak mungkin mahasiswa sebuah fakultas di Indonesia, apalagi di universitas besar, dapat berinteraksi dengan mahasiswa dari fakultas lain. Hampir tidak mungkin juga mahasiswa Fakultas Ekonomi meminjam buku di perpustakaan Fakultas Hukum. Kalaupun ada, saya kira hanya segelintir perguruan tinggi yang menerapkannya.

Masih pengalaman saya di AS dulu, begitu mudah meminjam koleksi di perpustakaan dari universitas lain. Perpustakaan di AS koleksinya tidak hanya buku, tetapi (waktu itu) kaset video, piringan hitam, CD lagu, dan tentu saja berbagai buku yang boleh dibawa pulang selama 2 minggu, meskipun saya berasal dari perguruan tinggi lain. Ada juga koleksi yang tidak boleh dipinjam keluar, seperti peta, kamus, ensiklopedia, dan koleksi terbatas lainnya. Proses pinjam-meminjam ini dapat dipesan melalui komputer yang sudah terhubung antarsemua perpustakaan di negara bagian Ohio. Tentunya juga di negara-negara bagian lainnya. Kita hanya perlu menuliskan nomor KTP dan nama, serta kapan mau mengambil pinjamannya.

Seandainya kerjasama antarperguruan tinggi tersebut dapat diwujudkan di Indonesia, niscaya kehidupan perguruan tinggi di Indonesia akan berubah. Penyelenggara PT akan terbiasa bekerja sama dengan penyelenggara PT lain. Demikian juga dengan mahasiswanya. Dalam skala yang lebih luas lagi, itulah perwujudan dari Persatuan Indonesia dengan Bhinneka Tunggal Ikanya. Dari sisi ekonomi, akan terjadi penghematan yang cukup besar. PTAdapat membeli buku A sebanyak 100 eksemplar. PT B membeli buku B sebanyak 100 eksemplar. Kedua mahasiswa PTA dan B dapat saling meminjam buku. Kalau sekarang, yang terjadi adalah PTA dan PT B masing-masing membeli buku yang sama 100 buku, sehingga tidak memiliki buku B.

Dosen senior saya dari FEB UGM, Prof Suwardjono pernah berseloroh, itulah sebabnya di AS disebut universitas, yaitu kerjasama berbagai fakultas sehingga menjadi universitas. Sedangkan di Indonesia, lebih pantas disebut sebagai Interfakultas, bukan Universitas, karena hanya merupakan gedung fakultas yang letaknya saling berdekatan tanpa ada kerjasama apapun di dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tetapi, itu seloroh beliau tahun 1992, jadi sudah 26 tahun yang lalu. Moga-moga sudah banyak perubahan selama hampir tiga dekade ini.

Nah, kalau sulit melakukan hard-merger atau merger secara fisik, mungkin perlu dipikirkan agar perguruan tinggi melakukan soft-merger, yaitu saling berbagi sumberdaya. Tidak hanya perpustakaan, tetapi juga fasilitas lab dan fasilitas penelitian lainnya, fasilitas kegiatan belajarmengajar, dan masih banyak lagi. Memang masih sulit menyingkirkan egosektoral masing-masing entitas, tetapi kalau demi kepentingan bangsa, hal ini mudah sekali terwujud.

(Wing Wahyu Winarno. Dosen STIE YKPN Yogyakarta dan Pengurus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang DIY. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 19 Februari 2018)

BERITA REKOMENDASI