Ruang Sosial

Dr Sutaryono
Penulis adalah Dosen pada Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional dan Prodi Pembangunan Wilayah Fakultas Geografi UGM

PADA masa pandemi Covid-19, kita ‘disuguhi’ perdebatan penggunaan istilah social distancing dan physical distancing. Mengapa? Karena kedua istilah tersebut seolah-olah mempunyai orientasi yang berbeda, padahal sejatinya kedua istilah itu tujuannya sama. Merujuk pada berbagai sumber, baik social distancing and physical distancing merupakan tindakan pembatasan segala bentuk kerumunan, menjaga jarak, menghindari pertemuan yang melibatkan banyak orang dengan tujuan untuk mengurangi penularan virus. Dalam konteks ini, kedua istilah tersebut objeknya adalah ruang sosial.

Ruang sosial, menurut Lefebvre (1991) merupakan salah satu bentuk ruang di samping ruang fisik dan ruang mental. Ruang mental berupa mindset dan pola pikir. Sedangkan ruang sosial adalah ruang fisik atau non fisik (virtual) yang merupakan media interaksi sosial dan dibentuk oleh tindakan sosial baik bersifat individual maupun kolektif. Situasi ruang sosial masyarakat dalam penanganan Covid-19 saat ini pada posisi yang rentan.

Kondisi ini sangat dipengaruhi berbagai faktor seperti tingkat pendidikan, kondisi perekonomian masyarakat, referensi informasi yang digunakan. Juga perbedaan daya tangkap dan pemahaman terhadap terhadap pesan edukasi dalam penanganan Covid-19 hingga pada sentimen pribadi. Tanpa pengelolaan baik, akan menimbulkan kegaduhan bahkan konflik antaranggota masyarakat.

Tingkat pendidikan memberikan pengaruh terbesar dalam pensikapan situasi ini. Pemahaman dan kesadaran untuk menjalankan protokol kesehatan dalam rangka pencegahan penularan Covid-19 diterima sebagai hal yang rasional dan perlu dilakukan. Hal ini dijumpai pada komunitas masyarakat dengan tingkat pendidikan yang baik.

Pada masyarakat lain dengan tingkat pendidikan yang beragam, situasinya jauh berbeda. Praktik-praktik lockdown kampung secara ketat adalah salah satu wujudnya. Pihak luar yang tidak dikenal dilarang keras memasuki kampung dengan alasan apapun.

Ironisnya, pospos penjagaan digunakan sebagai tempat ngumpul-ngumpul yang justru kontraproduktif dengan upaya pencegahan penyebaran Covid-19, seperti berkumpul tidak mengenakan masker. Kondisi perekonomian masyarakat secara jelas tergambar aktivitas anggota masyarakatnya. Stay at home dan work from home hanya bisa direalisasikan anggota masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke atas.

Sementara itu, anggota masyarakat yang secara ekonomi kurang beruntung harus tetap melakukan aktivitas harian guna pemenuhan kebutuhan hidupnya. Referensi informasi yang digunakan dan daya tangkap pesan dari pihak eksternal menjadi faktor penentu dalam pengambilan kebijakan di masyarakat.

BERITA REKOMENDASI

Mudik Virtual

22 Mei 2020

Pasar Rakyat

18 Mei 2020

Digitalisasi Buku

16 Mei 2020

Akhir Pandemi

15 Mei 2020

Kerja Sama

14 Mei 2020

Era New Normal

12 Mei 2020