Yerusalem

Editor: Ivan Aditya

TANGGAL 6 Desember Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan akan membuat deklarasi terkait pemindahan kantor kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Upaya relokasi ini merupakan bagian dari implementasi janji Trump dalam kampanye pemilihan presiden tahun lalu. Rencana pemindahan kantor kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem tidak bisa dilepaskan dari dukungan Trump terhadap eksistensi Israel atas Palestina. Janji Trump untuk melindungi Israel inillah yang disinyalir menjadi salah satu kunci kemenangan Trump atas rivalnya yakni Hillary Clinton.

Kekuatan pidato Trump di hadapan forum American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) pada 2016 di Washington mampu menyakinkan lobi Yahudi untuk memilih diirnya daripada Hillary. Kemenangan Trump yang menggantikan Presiden Barack Obama kemudian ditagih oleh lobi Yahudi terkait janjijanji Trump di masa kampanye yang salah satunya adalah relokasi keduataan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Rencana pemindahan ini yang sekaligus akan menandai Yerusalem sebagai ibukota Israel tentu akan memicu persoalan besar terkait dengan proses penyelesaian perdamaian Palestina dan Isreal.

Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi telah mengingatkan AS bahwa rencana relokasi kedutaan ini akan memancing kemarahan besar dari dunia Islam dan Arab. Di sisi yang lain, Presiden Palestina Mahmoud Abbas juga mencari dukungan dari para pemimpin dunia khususnya ke Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan agar Trump tidak membuat deklarasi terkait relokasi kedutaan AS. Setidak-tidaknya ada dua hal yang perlu kita cermati dari rencana deklarasi relokasi keduataan AS yakni lobi Yahudi dan perdamaian Palestina dan Israel.

Lobi Yahudi yang tergabung dalam AIPAC merupakan lobi terkuat kedua di AS. Dalam setiap sesi kampanye pemilihan presiden, para kandidat Calon Presiden AS harus menjalani menu ‘wajib’ yakni mempresentasikan kebijakan luar negerinya khususnya mengenai relasi Israel dan Palestina. Jika kandidat tersebut mampu melindungi kepentingan Israel di Timur Tengah khususnya dengan Palestina maka kandidat tersebut akan dipilih oleh lobi Yahudi. Maka dalam konteks ini, janji Trump untuk memproteksi Israel dianggap lebih menyakinkan daripada janji Hillary.

Untuk menyakinkan lobi Yahudi saat itu, Trump berjanji melakukan relokasi kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Tidak hanya itu, Trump juga mengatakan merasa bangga bahwa memiliki bayi Yahudi karena memiliki menantu seorang pengusaha Yahudi yakni Jared Kushner. Saat ini Kushner menjadi utusan khusus AS mengenai perdamaian Timur Tengah. Di forum AIPAC, Trump juga mengatakan bahwa Israel merupakan teman sejati. Maka tidak mengherankan jika kemudian ketika Trump menjadi Presiden AS ke-45, lobi Yahudi menagih janjinya.

Perdamaian Palestina dan Israel telah diupayakan sejak lama yakni munculnya resolusi 242 Dewan Keamanan PBB pada tahun 1967. Inti resolusi ini adalah DK PBB meminta Israel untuk menarik pasukannya pascaperang 1967. Tetapi Israel menolak menarik pasukannya khususnya di Yerusalem Timur. Penguasaan Israel terhadap Yerusalem terus berlanjut sampai saat ini. Bahkan Israel membangun kantor-kantor bidang pemerintahan di Yerusalem seperti Knesset (Parlemen Israel), kediaman Perdana Menteri dan Presiden, juga Mahkamah Agung.

Sementara di sisi yang lain, Palestina juga mengklaim akan menjadikan Yerusalem Timur sebagai calon ibu kotanya jika kelak Palestina menjadi sebagai negara penuh. Klaim atas kepemilikan Yerusalem antara Palestina dan Israel ini menjadikan masalah perdamaian antarkeduanya susah untuk diurai. Palestina menganggap bahwa Isarel sudah memiliki kota Tel Aviv sebagai ibu kotanya, maka Palestina yang saat ini belum memiliki ibu kota maka Yerusalem adalah salah satu opsinya. Maka jika nanti Trump betul-betul merealisasikan janjinya untuk merelokasi kedutaan AS, tentu penyelesaian terkait solusi dua negara (two-state solution) akan sangat sulit untuk diwujudkan.

Berpijak dari analisis di atas maka bisa disimpulkan bahwa rencana relokasi kedutaan AS jika betul terwujud maka hubungan Palestina-Israel akan memanas. Dan kemarahan umat Islam dunia dan Arab sangat mungkin akan terjadi.

(Fatkurrohman SIP MSi. Pakar Timur Tengah dan Akademisi UGM. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 6 Desember 2017)

BERITA REKOMENDASI