Bunuh Diri: Lelaki Lebih Banyak Daripada Perempuan

Editor: Ary B Prass

Gender dan bunuh diri

Konstruksi sosial gender yang kaku terhadap perempuan dan lelaki, tampaknya telah berkontribusi bagi munculnya persoalan kesehatan mental seputar perilaku bunuh diri ini. Karena lelaki “ditabukan” untuk curhat bahkan menangis saat menghadapi problematika hidup, maka lelaki berpotensi untuk “menyangkal” bahwa dirinya mengalami problematika yang mengganggu kesehatan mentalnya dan menghindari perilaku mencari bantuan (help seeking behavior), baik kepada teman ataupun professional. Penelitian tentang perilaku bunuh diri di Switzerland tahun 1990-an menyimpulkan: “perempuan mencari bantuan – lelaki mati”. Hal itu dikaitkan dengan fakta sosial di sana bahwa pada tahun yang sama ditemukan 75% perempuan mencari bantuan ke pusat pencegahan bunuh diri, sementara 75% dari individu yang bunuh diri ketika itu adalah lelaki.

Situasi seperti digambarkan di atas dikenal sebagai toxic masculinity, suatu standar yang ditetepkan seolah lelaki itu tidak boleh memiliki masalah sehingga mereka tidak perlu curhat dan diberi ruang-ruang untuk dibarikan bantuan untuk mengatasi masalahnya. Lelaki harus super duper tangguh! Akibatnya, lelaki cenderung tidak memerlukan bantuan untuk memecahkan masalahnya. Ketika mereka terpuruk karena problematikanya yang tidak terselesaikan, lelaki melakukan coping (mengelola stress) dengan cara yang tidak sehat seperti minum miras, merokok, dan bentuk perilaku kesehatan berisiko lainnya. Secara psikologis, tanda-tanda depresi yang merupakan indikator utama kejadian bunuh diri sudah masuk.

Seandainya lelaki “diberikan” ruang oleh kultur kita untuk curhat dan memperoleh bantuan kesehatan mental, mungkin angka bunuh diri untuk kaum lelaki berkurang. Mari kita buat gerakan mendukung lelaki dalam mencari bantuan untuk mengatasi problematika yang dihadapinya. Mari kita bangun image yang lebih manusiawi, bahwa lelaki, sama halnya dengan perempuan, sangat butuh ruang untuk curhat dan mendapatkan bantuan dalam menyelesaiakn problematika hidupnya. Kesehatan mental adalah hak semua orang, perempuan maupun lelaki. (*)

 

BERITA REKOMENDASI