Bukan Motif Sembarangan, Batik Pakualaman Sarat Filosofi

KOLEKSI Batik Pakualaman termasuk kuno dan berbeda. Motif yang diciptakan tidak bisa  sembarangan dan harus izin dulu dengan mengacu naskah-naskah yang tidak semuanya bisa disosialisasikan.

"Batik Pakualaman yang kita ciptakan melalui tim dengan filosofi-filosofi luhur," tutur GKBRAA Paku Alam saat Pembukaan Adiwastra Batik Pakualaman, Sabtu (7/12/2019) di Puro Pakualaman Yogyakarta.
Dalam pameran yang juga pertemuan bulanan Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar Jagad ini, GKBRAA Paku Alam menyebutkan batik-batik Pakualaman sangat kaya bisa digunakan untuk basahan juga sampai Madura. 

"Perkembangan batik sangat luas, naskah-naskah kuno Pakualaman yang bisa dituangkan dalam motif batik harus dipelajari dengan cermat," tegasnya.

Sementara Ketua PPBI Sekar Jagat GBPH H Prabukusumo SPsi menyebutkan, batik-batik koleksi Pakualaman yang dipamerkan sangat 'inspiring' sehingga penggemar batik tidak akan bosan dengan motif-motif Batik Yogya/Kuno. 

"Yogya menjadi Kota Batik, setiap Toko Batik harus ada sejarah batik sehingga wisatawan yang datang ke Yogya membeli batik bisa sesuai dengan filosofi yang ada," ujarnya.

Batik-batik yang ada juga menunjukkan keragaman budaya. "Kita lahir di Indonesia dengan keragaman budaya tradisional yang luhur. Mengenakan budaya tradisional sesuai adat dengan niat baik tidak bertentangan dengan agama," ujarnya.

Acara semarak dengan Tari Kidung Aksara dengan busana Batik Pakualaman, dilanjutkan Bincang-bincang Batik bersama Dr Sri Ratna Saktimulya MHum, dosen Satra Nusantara UGM yang juga pakar sejarah/budaya Pakualaman, pameran dan Bentang Batik. Batik Kadipaten Pakualaman yang dipamerkan dengan ragam batik Surya Mulyarja, Batik Pepadan Pura Pakualaman. (R-4)

BERITA REKOMENDASI