Javanic Batik, Garap Edisi Anak Dan Prioritaskan Kualitas

DARI hobi jadi profesi. Itulah gambaran yang pas bagi pasangan suami-istri, Ari Paskalis dan Anastasia Rita. Berawal dari gemar mengoleksi dan memakai beragam batik (tulis dan cap), lalu iseng corat-coret desain, Rita begitu  akrab disapa, mantap menorehkan coretan desainnya ke atas kain. 

"Saya otodidak. Nggak ada latar belakang desainer. Dua tahun belakangan ini doyan nggambar motif, lambat laun ketagihan. Lalu coba saya aplikasikan ke kain dan saya bawa ke tukang jahit. Ternyata hasilnya nggak jelek-jelek banget. Bahkan mayoritas teman kantor memuji hasil karya saya," tutur Rita yang seorang karyawan bank.

Sejak saat itu, ibu dua anak ini mantap jika passionnya di batik dan karyanya bisa diterima publik. Lalu sepakat dengan suami menelurkan brand batik dengan label 'Javanic Batik'. Proyek pertamanya adalah membuat seragam kantor. Tak disangka responnya luar biasa. Hingga kewalahan memenuhi pesanan.

Ari Pakalis menambahkan, jika bisnis batik yang dikelola bersama istri, skalanya masih rumahan. "Kami bukan rumah batik yang besar. Yang bisa memproduksi secara masif. Produksi kami parsial dan terbatas. Kami nggak ngejar quantity, tetapi quality. Hal ini yang menjadi pondasi kami dalam menjalani roda bisnis batik ini. Kualitas harus jadi prioritas," terang Ari yang rela resign sebagai konsultan di Jakarta demi membesarkan Javanic Batik yang kini membuka outlet di Gallery Prawirotaman Hotel dan ruko di daerah Jogonegeran.

Secara visual, batik karya Rita beda dengan yang lain. Warna-warnanya cerah dan tajam. Jenis batik yang diangkat juga khusus batik Yogya. Seperti kawung, truntum, parang, ceplok, meru dan pamiluto. Wanita yang acapkali ikut event fashion ini selalu mengkombinasikan lebih dari satu motif dalam karyanya. Bahkan ada penambahan unsur bordir dan mengangkat tema wayang. 

"Bordir dalam batik belum pernah ada yang bikin. Saya juga mengangkat tema 'Wayang Series'. Respon publik sangat welcome. Sejauh ini, corak bordir dan wayang mempunyai nilai jual yang luar biasa. Bisa dikatakan trade mark dari Javanic," ungkap Rita yang sering mendapat tawaran dari dinas terkait untuk mengenalkan batik karyanya ke kancah nasional.

Saat ini Rita bersama suami sedang mempersiapkan konsep batik edisi anak-anak dan untuk pria. "Banyak yang bilang jika Javanic kebanyakan pasarnya kaum hawa. Belum menyasar anak-anak. Untuk batik pria sebetulnya kami sudah bikin. Tapi market nya memang belu segitu besar dengan batik perempuan. Ya, mudah-mudahan dengan evaluasi, inovasi dan ide segar, kami bisa berkarya lebih baik lagi dan diterima semua kalangan," tandas Ari dan Rita. (*)

BERITA REKOMENDASI