Pandemi Tak Hentikan Tari Made Terus Berkreasi

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Tak bisa dipungkiri, dunia fashion baik manca maupun tanah air turut terdampak pandemi Covid-19 yang telah berlangsung hampir setengah tahun ini. Kemeriahan panggung peragaan busana mendadak sepi, para perancang berhenti berkarya dan memilih beralih profesi lain yang dianggap menjanjikan. Hanya desainer-desainer dengan idealisme tinggi saja yang masih tetap bertahan dan tetap berkarya.

Salah satunya yakni perancang kenamaan, Tari Made. Walau dalam masa yang serba sulit, desainer kelahiran Purworejo yang kini menetap di Sewon Bantul ini tetap berkarya menciptakan rancangan-rancangan terbarunya untuk dapat dinikmati pecinta fashion.

“Di masa pandemi ini usaha tetap jalan. Kalau berhenti, karyawan saya bisa terdampak. Meski tidak seperti dulu, namun berkarya tetap harus jalan,” kata Tari Made disela memamerkan rancangan terbaiknya dalam ‘AMS Fashion Movement’ yang digelar secara virtual di Arby Vembria Modeling School Yogyakarta, Jumat (11/09/2020).

Tari Made yang selama ini dikenal dengan rancangan-rancangan busana bertema batik tersebut terus berinovasi agar karyanya tetap dapat diterima pasar. Salah satunya dengan menciptakan kreasi-kreasi dengan mengolah batik maupun memberikan sentuhan lukisan tangan di dalamnya.

Menurut desainer berusia 55 tahun ini, berkreasi dengan batik berarti ia telah turut melestarikan warisan budaya tanah air yang telah mendapat pengakuan dunia. Baginya fashion batik tak hanya sekedar karya, namun bagian dari tanggungjawabnya sebagai desainer.

Karya-karya Tari Made yang khas telah dikoleksi konsumen seluruh Indonesia dan juga dari Amerika serta Singapura. Bahkan ia pernah mendapat pesanan 350 lembar batik yang harus selesai dalam waktu 1,5 bulan.

Tari Made menggunakan 50 persen kain Bemberg yang ditenun menggunakan serat biji kapas dan 50 persen cotton.
Karya Tari Made identik warna cerah, dimana karya-karyanya banyak terinspirasi daei tren fesyen lokal maupun dunia.

Pemilik Sakamade Boutique mengakui, selama masa pandemi ini permintaan pasar tak banyak perubahan, hanya saja daya beli masyarakat sedikit mengalami pemenurunan. Cara yang ia lakukan untuk menyiasati hal tersebut yakni dengan mengurangi ongkos produksi namun dengan kualitas yang tak berubah.

“Bisa dengan mengurangi bahan dasar, namun kualitas tetap tak berubah. Permintaan tidak berubah, bahkan rancangan-rancangan terbaru selalu sold out,” ungkapnya ibu tiga anak ini.

Dalam fashion show vitrual ini Tari Made menampilkan 21 karya terbarunya yang terdiri dari busana anak dan dewasa. Bertema ‘The Soul of Batik’, peragaan busana secara online ini bagi pemilik nama lengkap Kusmiyati Sri Guntari tersebut merupakan upaya publikasi dan promosi.

Konseptor acara, Arby Vembria mengatakan fashion show daring ini digelar untuk menggeliatkan sendi ekonomi fashion di Yogyakarta. Ia juga mengajak para desainer untuk tak berhenti berkreasi dan tetap menciptakan karya-karya baru sesuai tuntutan zaman.

“Kami memberi ruang kepada para desainer untuk terus berkreasi, berinovasi dan tentunya berkarya. Lantaran situasi sedang pandemi kami mengemasnya secara virtual,” ujar Arby (*)

BERITA REKOMENDASI