Pelestarian Tenun Tradisional Indonesia Dapat Perhatian Uni Eropa

MESKIPUN tren fesyen berkembang ke arah kontemporer style, dengan mengedepankan pemakaian kain modern, sepertinya kain tenun tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Sebagai salah satu warisan tradisional Nusantara, saat ini kain tenun semakin berkembang dengan berbagai macam teknik pengerjaan, seperti songket, ikat, lurik, dan masih banyak lainnya.

Untuk melanjutkan konsumsi dan pemakaian berkelanjutan yang tertuang dalam program pemerintah SDG 12, program SWITCH Asia Konsumsi dan Produksi Tenun Asia Tradisional menjalin kerjasama dengan Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Pusanlinghut KLHK). Mereka berkomitmen menyusun dokumen strategi konsumsi dan produksi berkelanjutan untuk sektor tenun tradisional Indonesia.

Program ini akan bermitra dengan 4.332 perajin tenun tradisional Indonesia di 27 kabupaten dan 12 provinsi di Indonesia. Serta mengedepankan pengembangan sektor tenun tradisional Indonesia selama 5 tahun ke depan. Termasuk pengembangan ekolabel (sertifikat ramah lingkungan ) untuk tenun warna alam yang saat ini sedang digalakkan para desainer di berbagai belahan dunia.

Project Manager Switch Asia Hand Woven Textile, Miranda, mengatakan, Project Sustainable Hand Woven Eco Textile ini diharapkan dapat berkontribusi kepada peningkatan kesejahteraan dan mengurangi kemiskinan di Indonesia dan Filipina melalui pengembangan rantai nilai tenun tradisional yang ramah lingkungan.

“Kegiatan ini juga diharapkan dapat mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan maupun sosial dalam industri tenun tradisional,” ujar Miranda, melalui keterangan tertulis yang diterima KRJOGJA.com, Sabtu 3 Juni 2017.

Hasil produk tenun ramah lingkungan ini nantinya tidak hanya akan diolah menjadi produk fashion yang dikembangkan oleh para desainer. Namun, juga akan dikembangkan menjadi produk furniture seperti bangku, meja, hingga aksesoris furniture lainnya.

Mira menambahkan jika program ini tidak sebatas pada pembinaan para pengrajin namun juga pada tahap distribusi dan pemasaran produk di seluruh wilayah Indonesia. " Sedangkan untuk negara dengan konsumsi tenun paling tinggi adalah Eropa," imbuh dia.

Oleh karena itu, pihak Uni Eropa melalui HIVOS, Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK), Cita Tenun Indonesia (CTI) dan Non Timber Forest Product Exchange (NTFP EP) berkomitmen untuk membiayai program itu hingga 80 persen. Sehingga ke depan diharapkan dapat mendorong keberlanjutan konsumsi dan produksi di wilayah Asia.

" Pertumbuhan tekstil di Asia sangat tinggi namun bersamaan dengan hal itu, terjadi penurunan perhatian terhadap lingkungan," terang Mira lebih lanjut.(*)

BERITA REKOMENDASI