Pola Paes dan Perhiasan Harus Sesuai Pakem

BANTUL, KRJOGJA.com – Tata rias pengantin terus berkembang mengikuti trend. Namun khusus pola paes dan perhiasannya terutama adat Yogyakarta memiliki ciri khas tersendiri, sehingga harus sesuai pakem.

"Busana dan make-up boleh dimodifikasi, namun untuk paes dan perhiasan harus menurut pakem," terang Pakar Tata Rias Pengantin, Hj Dior Suhartini dalam Seminar Pelatihan Tata Rias Pengantin Adat Yogyakarta 'Pola Paes Yogya Putri' di Rias Pengantin dan Sanggar Busana 'Salon Dior' Jalan Wonposari Km 7,3 Mantup Banguntapan Bantul, Kamis (15/3/2018). Seminar diikuti 74 siswa kelas X Jurusan Kecantikan SMK Negeri 3 Blitar yang sedang melakukan program kunjungan industri.

Menurut Dior yang juga owner 'Salon Dior', kreatifitas memang sangat dibutuhkan dalam merias pengantin, disesuaikan tren dan keinginan konsumen. Namun ketika memilih tata rias pengantin tradisional/adat, maka harus mengikuti pakem yang ada. Sebab paes dan perhiasan pengantin adat, memiliki makna tersendiri. "Saya harap penata rias pengantin memahami pakem, terutama untuk pola paes dan perhiasan," katanya. Dalam seminar, Dior mempraktikkan merias pengantin dari awal, mulai membersihkan wajah, mengoleskan alas bedak, membuat cengkorongan paes dan membuat sanggul.

MC kondang dr Wigung Wratsangka mengatakan, tata rias pengantin adat Yogyakarta memiliki beragam corak, dibedakan berdasarkan fungsi, bentuk busana dan pola paes (tata riasnya) yang masing-masing memiliki ciri khas. Tata rias pengantin adat Yogyakarta berdasar pola paes (tata rias) terbagi dua yaitu Pola Paes Ageng dan Pola Paes Yogya Putri.

Adapun berdasarkan fungsi dan bentuk busana, Paes Ageng terbagi Paes Ageng Busana Keprabon, Busana Kanigaran, Busana Jangan Menir dan Paes Ageng Busana Pembayun. Sedangkan fungsi dan bentuk busana Paes Yogya Putri terbagi Paes Yogya Putri Busana Agustusan, Busana Kesatrian Ageng Malem Selikuran dan Paes Yogya Putri Busana Kesatrian.

"Jadi untuk Paes Ageng Busana Keprabon khusus digunakan saat upacara panggih pengantin dilanjutkan andrawina atau pahargyan resepsi. Busana yang dikenakan adalah dodot atau kampuh dengan perhiasan lengkap," katanya.

Ketua Jurusan Kecantikan SMKN 3 Blitar, Deisya Silva Pardina mengatakan, kunjungan ke ahli tata rias pengantin sangat diperlukan bagi siswanya untuk memperkuat kompetensi. "Dengan melihat langsung prosesnya mulai dari awal hingga akhir, diharapkan siswa tahu ciri khas tata rias adat Yogyakarta dan daerah lain," katanya. (Dev)

 

BERITA REKOMENDASI