Solo Berobsesi Miliki Batik Khas

SOLO, KRJOGJA.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo berobsesi memiliki batik dengan motif khas yang mampu menjadi identitas  kota Solo, sebagaimana motif kotak-kotak hitam-putih yang identik dengan Bali. Selama ini, memang banyak motif yang disebut-sebut sebagai batik Solo, namun cenderung bersifat univesal dan belum menjadi identitas khas.

Sebagai analog, jelas Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo, saat membuka Konferensi Kota Batik Indonesia, di Wisma Batari, Kamis (30/11/2017), ketika orang melihat kain bermotif kotak-kotak warna hitam putih, angan akan mengarah ke Bali. Karenanya, dia mengajak kalangan pemangku kepentingan dalam dunia batik, menciptakan motif baru yang mampu menjadi identitas khas Kota Solo.

Obsesi memiliki batik bermotif khas Solo, menurutnya, bukan hal yang mustahil. Terlebih jika mengacu pada sejarah, sekitar tahun 1950-an, dari Solo pernah lahir batik Indonesia yang berbeda dengan motif klasik pada umumnya dengan mencirikan daerah masing-masing, seperti Pekalongan, Lasem, Madura, Yogyakarta, dan sebagainya. Btik Indonesia itu, terlahir dari budayawan Solo, Hardjonagoro (alm) atas permintaan residen Soekarno, pada waktu itu.

Upaya menciptakan batik Indonesia, tambah Anggraini Supiyah, generasi penerus Hardjonagoro, melalui proses panjang, tak saja secara ilmiah melalui studi kepustakaan, tetapi juga laku spiritual. Begitu diminta Bung Karno untuk menciptakan batik Indonesia, jelasnya berkisah, Hardjonagoro berburu ide hingga berbulan-bulan. Tak terhitung lagi dialog dilakukan dengan kalangan pelaku industri batik, selain pula menyepi di tempat-tempat keramat. "Ide itu baru muncul ketika Hardjonagoro menengakan diri sembari berdoa di Istana Tampak Siring, Bali," ujarnya.

Berangkan dari ide dasar yang diperoleh saat menyepi di Tampak Siring itu, Hardjonagoro menuangkannya menjadi motif batik Indonesia yang kaya akan warna serta ornamen yang mencerminkan motif batik di seluruh Indonesia. Karya batik Indonesia peninggalam Hardjonagoro itu, juga dipamerkan saat berlangsung Konferensi Kota Batik Indonesia. Setidaknya ada lima motif batik Indonesia karya Hardjonagoro, yang seluruhnya masih dalam bentuk lembaran kain batik.

Selain batik Indonesia, dipamerkan pula batik karya desainer kenamaan, Iwan Tirta yang saat ini dikoleksi keluarga Poncosutowo, serta batik basurek yang bermotif ayat-ayat suci Al-Quran. Hampir seluruh koleksi batik yang dipamerkan dalam format mirip fashion show, merupakan karya monumental, tak saja dari sisi artistik, kualitas bahan maupun proses, tetapi juga dari nilai ekonomis yang mencapai harga hingga puluhan juta per lembar.(Hut)

 

BERITA REKOMENDASI