Sustainable Fashion Potensial Dikembangkan di Yogya

YOGYA, KRJOGJA.com – Asia Pacific Rayon (APR) menilai sustainable fashion atau fesyen yang berkelanjutan sangat prospektif untuk dikembangkan di kota batik, Yogya. Hal ini dikarenakan Yogya sebagai kota wisata yang banyak dikunjungi wisatawan, juga kota seniman yang banyak menginspirasi seni dari beragam sudut pandang.  

Basrie Kamba, Direktur APR mengatakan sebagai kota wisata dengan pasar batik yang besar, potensi bisnis start up pakaian batik yang berbahan baku sustainable atau ramah lingkungan sangat besar untuk dikembangkan.

Baca Juga: 22 Model Peragakan Busana 'Eco Fashion' di Titik Nol

Hal tersebut sejalan dengan tren konsumen didunia saat ini yang menuntut proses yang lebih environmental friendly dalam produk yang sehari-hari mereka gunakan, salah satunya pakaian.

"Pasar fesyen Yogya paling besar saat ini adalah golongan menengah ke bawah. Bila banyak startup di Yogya yang kreatif untuk membuat batik sendiri dan memikirkan konsep sustainable fashion dengan harga yang terjangkau, pasti pasarnya besar sekali," kata Basrie ujarnya kepada media di Hotel Tentrem, Senin (9/9/2019).

Selain batik yang meupakan pakaian khas nasional, pasar fesyen Indonesia juga sangat prospektif untuk menyasar busana muslim. Dilansir dari data State of The Global Islamic Economy tahun 2017,  total transaksi fesyen muslim (modest fashion) di Indonesia mencapai 20 miliar dolar AS.

Nilai tersebut membuat Indonesia berada di posisi ketiga sebagai negara dengan transaksi fesyen muslim terbesar di dunia di bawah Turki sebesar 28 miliar dolar AS dan Uni Emirat Arab dengan nilai 22 miliar Dolar AS. Secara total, pasar untuk fashion Muslim di dunia pada tahun 2017 mencapai 270 miliar Dolar AS dan diperkirakan akan naik menjadi 361 miliar dolar AS atau tumbuh 5% pada 2023.

"Studi kami pun menujukkan Yogyakarta merupakan salah satu kota yang paling banyak membeli viscose, ini masih bisa terus berkembang," ujarnya.

APR merupakan produsen serat rayon terintegrasi yang baru beroperasi pada awal tahun ini dengan kapasitas terpasang mencapai 240.00 ton serat rayon per tahun. Nilai investasi APR mencapai 10,9 triliun dan telah menyerap 900 tenaga kerja baru.

Baca Juga: Malioboro Fashion 1000 Sarong, Angkat Etnik Lokal ke Internasional

Sampai Agustus 2019, APR telah memproduksi 120.000 ton serat rayon. Dari jumlah itu, sebesar 55% total produksi ditujukan untuk pasar ekspor dan 45% diserap oleh pasar domestik.

Ke-14 pasar ekspor yang ditembus serat rayon APR yaitu Turki, Pakistan, Bangladesh, Vietnam, Mesir, Mauritius, Sri Lanka, Nepal, Brazil, Jerman, Portugal, Italia, Uni Emirat Arab, dan India.

Untuk diketahui, rayon yang diproduksi APR berasal dari kayu yang diproduksi lestari yang merupakan bahan baku yang terbarukan dengan sifatnya yang alami dan cepat terurai (biodegradable). Tak heran, rayon kerap dipakai sebagai bahan baku utama perancang busana yang fokus menggerakkan sustainable fashion.(*)

BERITA REKOMENDASI