Warna Monokrom Tutup AIRA Fashion on The Spot

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Perhelatan AIRA Fashion on The Spot resmi berakhir, Minggu (05/12/2021). Kemeriahan fashion show ditutup dengan ditampilkannya busana teranyar karya 12 desainer. Warna-warna monokrom mendominasi peragaan busana yang digelar selama empat hari berturut-turut tersebut.

Berbagai tema diangkat para desainer. Mimi Meira dengan label Mimi Kebaya menuangkan inovasi dan imajinasinya bertema tema ‘Dhatulaya’, Essy Masita mantap mengusung ‘Peony’ dan Meeri Christian mengangkat ‘Light in The Darkness’. Sedangkan Juli Hardjanto memilih titel ‘Kajon’, Aldion Soeprijono yang berlabel Tiaramas FD mengangkat tema ‘Shanjita’, Megawarni by Lastri Megalanti mengetengahkan ‘Blissfully’.

Sementara ‘Abhipraya’ jadi bidikan imaji Iin Kusumawati, ‘Jembatan Merah’ menginspirasi Rereziq Karim dalam karyanya kali ini dan Tari Made mengusung ‘The Soul of Wastra’. Selain itu Indria Aryanto pemilik Indria Fabric and Apparel mengedepankan ‘Klaras’, Pico Ecoprint membawa tema ‘Lingga Collection dan Palem collection’.

Essy Masita mengatakan tema ‘Peony’ yang berlambang bunga memiliki makna dalam urusan cinta, kemakmuran, kebahagiaan dan juga nasib yang lebih baik. Selain itu, ’Peony’ juga menjadi lambang dari kehormatan serta kepribadian yang berkelas.

“Harapannya adalah semoga keadaan saat ini segera pulih karena pandemi dan kita bisa semakin berkreasi dan berdayaguna bagi sesama,” kata Essy Masita saat jumpa pers sebelum gelaran ‘AIRA Fashion on The Spot’ di Atrium Hartono Mall.

Inspirasi itu ia wujudkan dalam bentuk kain batik dengan latar motif slobog atau poleng, beras wutah dan krmabil secukil. Selain itu desainer asal Yogya ini juga memadukan kain tenun lurik dengan detail sulam sashiko khas Jepang.

“Untuk sulam sashiko terletak di kain sulam sehingga akan memperindah kain khas tanah air tersebut. Sedangkan motif-motif batik ditampilkan untuk memperkuat kesan daerah,” imbuhnya.

Essy Masita juga sengaja bermain dengan menghadirkan warna nuansa monokrom hitam putih. Warna tersebut kemudian ia beri kejutan dengan dipertemukan dengan merah dan biru untuk menghasilkan kecerahan.

Sementara Meeri Christian dengan ‘Light in the Darkness’ menampilkan gaun-gaun warna gelap. Nuansa gelam melambankan kondisi dunia saat ini yang tengah dilanda pandemi berkepanjangan.

“Namun di balik gelapnya dunia, bertaburan cahaya kecil. Ini perwujudan mereka yang terus berusaha dan yang dilambangkan dengan payet yang bertaburan dan mengkilap,” jelasnya. (Van)

BERITA REKOMENDASI