Ada Khilaf Prokes saat Berburu Tanaman Hias di Kawasan Stadion Maguwoharjo

BOOMING tanaman hias belum berakhir. Masyarakat terutama para pecinta tanaman hias masih saja berburu aneka jenis sebagai penghias sudut rumah. Hal tersebut terlihat saat sunday morning (sunmor) di sekitar Stadion Maguwoharjo Kabupaten Sleman.

Setiap hari Minggu, puluhan pedagang tanaman hias berjejer di dalam kawasan stadion sampai halaman parkir wahana air terbesar di Asia Tenggara, Jogjabay.

Para pedagang yang berasal dari luar kota ini berharap keuntungan dari masyarakat yang berolahraga setiap akhir pekan. Ada juga masyarakat yang sengaja datang untuk seksdar berekreasi murah meriah atau memang niat berburu tanaman hias dengan corak dan warna yang selalu menggoda. Awalnya protokol kesehatan atau Prokes selalu dipatuhi masyarakat dan pengunjung. Namun, seiring berjalannya waktu, terkadang lupa perihal itu. Padahal pandemi COVID-19 masih belum mereda, sebaliknya makin merebak akhir-akhir ini.

Di awal tahun 2021, para pengunjung yang bercampur baur selalu mengenakan masker, menjaga jarak satu sama lain agar tidak berkerumun saat memilih tanaman hias yang diinginkan. Instansi terkait juga menyediakan saluran air lengkap dengan sabun guna memudahkan pengunjung untuk selalu mencuci tangan. Bahkan, di setiap pekan ada petugas gabungan yang mengingatkan pengunjung untuk mematuhi protokol kesehatan sambil membagikan masker bagi pengunjung yang tidak mengenakan saat memanfatkan fasilitas umum tersebut.

“Akhir-akhir ini pengunjung semakin banyak sshingga saling berdesakan saat memilih tanaman. Saya sendiri tetap mengingatkan pembeli untuk mengenakan masker,” ungkap salah satu pedagang tanaman hias asal Yogyakarta, Ny Wiyanti.

 

Wiyanti menjelaskan sejak booming tanaman hias di tahun 2020 belum berhenti sampai saat ini. Psmbeli masih saja memburu tanaman janda bolong, aneka keladi sampai mawar dengan harga bervariasi. Dia juga menawarkan pilihan tanaman lain seperti miyana, puring sampai antirium dengan harga ekonomis. Termasuk menyediakan aneka perlengkapan untuk merawat tanaman seperti pot, media tanam hingga pupuk.

 

“Alhamdulillah, keuntungannya cukup lumayan. Aneka tanaman hias yang dibawa terkadang ludes dibeli. Saya sendiri cukup kewalahan memenuhi permintaan pelanggan sehinga harus kulakan di bebeeapa petani di luar daerah,” ungkapnya.

 

 

Dia mengaku tanaman janda bolong, aneka keladi hingga variab philodendron paling banyak dicari mastarakat. Ada juga tanaman angrek yang diburu para penggemar meski harus membutuhkan perawatan ekstra. Selebihnya, tanaman hias lain yang dianggap sangat ekonomis dan mudah perawatannya.

 

“Saya juga memasarkan tanaman hias lewat media sosial di Facebook dan Instagram. Ada kalanya penggemar dari Yogyakarta janjian untuk membeli di kawasan stadion ini. Saya berharap pihak terkait untuk terus memonitoring keramaian dan mengingatkan pengunjung untuk menerapkan protokol kesehatan,” ungkapnya.

Kesempatan mendapatkan cuan dari berdagang tanaman hias dilakukan oleh Hafidz asal Kutoarjo, Purworejo. Bersama ayah tercintanya mulai menggelar dagangan setiap minggu mulai Pukul 05.00-12.00 Wib. Tak hanya menawarkan aneka tanaman hias yang sedang ngetren, Dia membawa tanaman andalan Bougenville atau bunga kertas. Selain itu, kembang asoka warna kuning atau oranye yang dianggap sulit didapatkan saat ini.

“Saya berangkat dari Kutoarjo habis subuh dan sampai sekitar Pukul 05.00 Wib. Petugas tetap mengingatkan kami untuk selalu mengenakan masker sampai mengimbau untuk menyediakan hand sanitizer di sekitar lapak berdagang,” ujarnya.

Dia mengaku mendapatkan keuntungan berlipat saat menawarkan daganganya. Bahkan, varian terbaru Bougenville singapura hasil stek berisi empat warna seharga Rp250 ribu ikut laris terjual. Belum lagi aneka keladi dan asoka yang dibanderol Rp25 ribu (tergantung) ukuran banyak diburu penggemar.

 

“Bougenville Singapura varigata untuk warna bunga kuning atau ice coconut jarang ditemukan di Jogjakarta. Pengunjung selalu mencarinya, padahal stok hasil koleksi sendiri mulai habis. Saya pernah berburu sampai Kediri meski dengan harga yang tinggi,” ungkapnya.

Kendati demikkan, Hafidz tak hanya memikirkan keuntungan.Dia berharap petugas gabungan untuk tetap melakukan razia guna mengantisipasi adanya kerumunan massa. Selian itu, tetap mengingatkan pengunjung untuk mengenakan masker dan memperbaikj saluran air untuk memudahkan warga mencuci tangan. Berdasarkan pantauannya, ada keran yang rusak sehingga tidak berfungsi maksimal.

“Jangan sampai kawsan ini ikut di lock down atau dilarang untuk berdagang akibat tingginya kasus Covid-19. Butuh kesadaran bersama agar tidak terjadi lonjakan di masa depan,” tandasnya. (*)

 

 

 

 

 

BERITA REKOMENDASI