Budidaya Burung Anggungan, Jika Sarang Basah Telur Tak Menetas

Editor: Ary B Prass

SLEMAN, KRJOGJA.com – Penggemar jenis burung anggungan seperti derkuku, puter pelung dan pekutut dapat ditemukan di berbagai tempat. Sebagian dari mereka juga menangkarkan atau membudidayakan anggungan. Sama halnya ketika membudidayakan jenis burung berkicau atau ocehan, budidaya anggungan pun sering ada kendalanya.

Beberapa kendala yang sering dihadapi, misalnya terserang penyakit, anakan dimakan tikus dan tak berhasil dalam tahap penjodohan. Saat musim penghujan dan dibarengi angin, jika atap kandang hanya seadanya dapat ketampu atau terkena air hujan. Hal ini menjadikan sarang basah dan telur yang dieram tak menetas. Ditambah lagi, indukan anggungan merasa tak tenang saat ada hujan dan angin, sehingga malah naik-turun dari sarang.

Pembudidaya anggungan asal Moyudan Sleman, Musman termasuk yang biasa mengalami kendala tersebut. Ia membuat kandang penangkaran di pekarangan rumahnya dengan atap hanya menutup bagian atas kandang. Sebagian air hujan apalagi pas lebat dan ada angin masih dapat masuk ke kandang. Indukan yang sedang mengeram dapat terkena air hujan, termasuk juga sarang yang digunakan untuk mengerami telur.

“Kemarin saya ke tempat teman yang juga menangkarkan anggungan, dia juga cerita banyak telur yang nggak menetas karena ketampu air hujan. Lain halnya kalau pas musim kemarau, tingkat menetasnya telur lebih tinggi. Indukan dapat tenang mengeram dan tidak kena air hujan,” jelas Musman, belum lama ini.

Adapun jenis anggungan yang ditangkarkan, yakni derkuku, puter pelung dan perkutut. Sejak musim penghujan ini ia tak mempunyai stok anakan anggungan. Pasalnya, telur banyak yang tak menetas dan ketika ada anakan selepas sapih sering dibeli penggemar maupun pedagang burung. Umur sapih atau sudah bisa makan sendiri, yakni kisaran satu bulan. Dalam perawatan anak anggungan, ia masih menerapkan cara alami, sehingga tak dititipkan pada puter lokal maupun diloloh manusia.

BERITA REKOMENDASI