Dilatih Sejak Dini, Burung Free Flight Makin Memukau

PENGGEMAR burung ‘free flight’ semakin hari kian meningkat, bahkan sebagian di antaranya sudah bergabung di suatu komunitas. Burung free flight memiliki ciri latih sedini mungkin, karena ketika sudah terbang dapat dilepas atau diterbangkan bersama-sama akan kembali ke pemiliknya.

Agar kembali ke pemiliknya, burung cukup dipanggil namanya, dipadu suara khas dari peluit maupun piranti yang digunakan untuk 'meloloh' burung sejak masih piyik. Salah satu komunitas penggemar burung free flight dan semakin bertambah anggotanya, yaitu Jogja Free Flight (JFF). Komunitas ini diketuai Tri Wahyudi dengan anggota yang cukup banyak. Dirinya bersama reka anggotanya juga tak segan untuk melakukan latihan bersama.

Ketika latihan bersama, yang datang antara 20 sampai 50 anggota dan membawa burung free flight kesayangan masing-masing. Jenis burung ocehan antara lain parkit Australia (falk), jalak, lovebird, betet Jawa, sunconure, macaw, zebra finch dan parkit biasa.

“Untuk jenis burung anggungan, di JFF baru ada derkuku. Ke depannya bisa juga ada yang melatih puter maupun perkutut,” jelas Tri, baru-baru ini.

Menurutnya, untuk melatih burung agar menjadi free flight antara lain sejak umurnya sebelum dua minggu sudah dipisah dari induknya dan diberi nama. Lalu diloloh rutin dengan tangan manusia, dapat juga menggunakan alat bantu seperti spet dan pointer. Tak kalah penting sebelum diberi makan selalu diberi tanda seperti dengan membunyikan peluit dengan suara khas. Rutin juga dipanggil namanya sewaktu-waktu. Saatnya sudah belajar terbang, diajari terbang bahkan dilepas dari jarak tertentu secara bertahap.

Meski burung sudah akrab dengan pemiliknya, ada juga yang sebagian terbang jauh dan tak mau kembali. Ada lagi yang berhenti di suatu pohon, sehingga pemilik terpaksa harus naik ke pohon sambil mendekatkan piranti makan. Semua ini termasuk risiko saat melatih burung untuk dijadikan sebagai free flight. (Yan)

 

BERITA REKOMENDASI